Udara sore masih hangat, menyisakan aroma rerumputan basah setelah hujan pagi tadi. Membiarkan angin lembut menyapu rambut panjang curly-nya. Langkah Pharita terhenti di depan gazebo kayu putih yang berdiri tenang di tengah taman.
Suasana di sini sepi, hanya suara dedaunan bergesekan dan sesekali kicauan burung yang terdengar. Pharita melangkah masuk, duduk perlahan di bangku kayu yang dingin, disampingnya ada Twila.
"Sepi juga nih, bagus banget buat belajar." ujar Twila mengedarkan pandangannya.
"Lo ketemu terus ya tempat bagus gini." Pharita mengeluarkan MacBook dari dalam totebagnya.
Twila memasang wajah jumawa. "Seorang gue!"
"Haha, iya deh!" Pharita menghidupkan MacBook-nya kemudian mengeluarkan beberapa lembar fotokopian yang sudah sobek saking sering dibuka-buka.
"Lo makin bening aja Ta, pake apa sih?" tanya Twila baru menyadari kulit Pharita makin putih sehat seperti susu. Twila saja merasa kalah putih jika melihat Pharita.
Pharita menoleh. "Ah ini!"
"Eh tapi bukan yang disuntik-suntik gitu kan?"
"Ya ampun, no way. Gue penakut beb, masih tim natural glow." balas Pharita. Tangannya langsung mencari nama produk yang sedang ia pakai dari jepang, dan menunjukannya pada Twila. "Pakai ini."
"Oh iya, libur semester ini lo ada plan ke mana?" Twila bertanya sambil nyeruput matcha-nya yang baru saja tiba. "Ke Korea yuk nonton Aespa, sekalian short escape gitu."
Pharita menoleh pelan, senyum tipis. "Cuma kita berdua?"
Twila mengangguk kecil, matanya berbinar. "Iya kayaknya seru aja. Chill trip, no drama. Gimana?"
"Seru, sih. Tapi coba gue tanya orang rumah dulu, gue ngga bisa pergi kalo ngga di ijinin."
"Iya aman aja." Twila menopang dagunya melihat kertas-kertas didepannya. "Gue lupa ngabarin lo kalau tadi gue ngajak Shae,"
"Mana?" Pharita mengangkat sebelah alisnya. "Oh itu dia baru dateng," imbuh Pharita melihat Shae baru turun dari mobil dan kini berjalan menghampirinya.
"Haii!!" sapa Shae duduk didepan. Pharita dan Twila. "Lama ya nungguin gue?"
"Ngga sih, kita berdua juga baru sampe." jawab Twila seraya tersenyum. "Lo ngga ada kelas?"
"Daring nanti malem." Shae menatap Pharita yang sedang mencoret-coret kertas. "Pharita long time no see!"
"Iyaaa," Pharita mengangkat kepalanya membalas tatapan Shae dengan senyuman manis. "Lo ngga pernah mau ikut ke salon lagi, sih!"
"Sumpah guys, gue hectic parah akhir-akhir ini. Ngurusin kampus, bisnis kecil-kecilan gue, belum lagi self-care juga harus jalan." Shae menghela napas, tapi tetap dengan senyum di wajahnya.
"Lo keren banget, sih, Sha," ucap Pharita tulus, nada suaranya lembut.
Twila ikut mengangguk pelan. "Gue salut sih. Langsung gerak, langsung implementasi. That's impressive."
Shae tertawa kecil, agak canggung. "Tapi ini juga nggak pure dari nol kok. Gue masih pakai nama bokap nyokap buat boosting awal. Jadi ya, belum bisa dibilang keren banget juga."
"Nggak apa-apa dong," kata Pharita sambil menatap Shae. "Itu namanya memanfaatkan privilege dengan bijak."
Shae hanya mengangguk pelan, senyumnya masih bertahan. Tapi di matanya, ada sedikit keraguan yang samar. Mungkin karena komentar orang yang sering meremehkan usahanya.
"Kadang suka mikir juga sih," lanjutnya, suaranya lebih pelan. "Orang ngira semuanya instan, padahal tetap capek juga ngejalaninnya."
Pharita menatapnya lekat-lekat, lalu berkata pelan, "Effort lo tetap valid, Sha. Mau mulai dari nol atau dari tengah, lo tetap yang kerja keras."
KAMU SEDANG MEMBACA
Simpanan Dospem
RomanceUntuk apasih susah-susah kerja kalo bisa jadi ani-ani? Tinggal minta aja ke gadun kalau mau barang-barang mewah, treatment badan, dan jadi kaya secara instan. Itulah yang dilakukan oleh Pharita, perempuan cantik berasal dari kampung yang berkuliah d...
