Suara denyit ranjang rumah sakit, aroma antiseptik yang menyengat, dan dengungan samar alat-alat medis memenuhi udara ruang gawat darurat malam itu. Lampu putih terang di atas kepala membuat mata Pharita yang baru terbuka harus mengerjap beberapa kali sebelum sadar sepenuhnya. Tubuhnya terasa berat dan sedikit perih di beberapa bagian—lengan, lutut, dan pundaknya terasa ngilu. Tapi tidak ada darah, hanya perban dan bekas luka lecet yang memerah.
Tirai putih tipis membatasi ranjangnya dengan pasien di sebelah. Suara langkah kaki cepat dan nada tegang mulai terdengar dari sisi lain tirai.
"Damian! Kamu nggak papa, nak?" suara seorang wanita-Carmila, ibunya Damian—terdengar panik.
"Astaga, liat mukanya! Luka-luka begini harusnya langsung dibawa ke ruangan VIP!" sahut suara berat Desmond.
Lalu, satu suara yang membuat jantung Pharita mencelos-tenang tapi dingin—ikut menyusul. "Kamu naik mobil dengan siapa barusan?" tanya Shera dengan nada datar.
"Aku yang nyetir sendiri, Shera," suara Damian terdengar. Ia mencoba tenang, tetapi samar terdengar lelah dan serak.
Tak lama, suara gesekan tirai terbuka-perawat yang diminta keluarga Damian memindahkan Damian ke ruangan khusus. Tirai terbuka sedikit, dan Pharita sempat melihat sekilas wajah Shera, ibunya, dan ayahnya Damian yang sibuk mengelilingi ranjang pria itu seperti sedang mengurus orang yang hampir sekarat. Padahal Pharita sayup-sayup dengar sebelumnya, Damian tidak terluka begitu parah.
Perawat menutup tirai kembali. Tapi bagi Pharita, rasanya seperti ditutupnya dinding pemisah antara dua dunia: dunia Damian yang penuh perhatian dan fasilitas, dan dirinya-yang hanya dianggap angin lalu.
Tak ada yang mencari tahu siapa perempuan di ranjang sebelah itu. Tak ada yang menanyakan apakah ia butuh bantuan atau keluarga. Ia hanya bisa terdiam, menatap langit-langit putih yang kini tampak lebih dingin dari biasanya.
Air mata menggenang di matanya, tapi ia menahan. Tidak ingin menangis. Tapi perasaannya begitu sesak. Ia menggenggam ujung selimut erat-erat, menggigit bibir. Mungkin Twila benar. Mungkin semua ini salah.
"Pharita?"
Suara familiar itu membuatnya menoleh pelan. Sosok Bara muncul di depan tirai, wajahnya penuh kecemasan. Laki-laki dengan kaos hitam dan jeans senada tergesa-gesa menghampiri Pharita.
"Ya Tuhan, lo kenapa bisa di sini?" tanya Bara sambil menghampiri dengan langkah cepat. "Gue dapet kabar dari grup, katanya lo kecelakaan." Meskipun, Bara sudah mencoba untuk tidak peduli dengan Pharita selama ini, namun Bara tidak bisa. Cinta di hatinya membuatnya denial dengan fakta menyakitkan yang ia ketahui tentang Pharita.
Pharita mengangguk pelan. Bibirnya terbuka, tapi tak ada suara yang keluar.
"Lo udah diperiksa dokter? Udah di-CT scan? Ada yang serius?" Bara bertanya sambil mengecek tangan Pharita yang diperban.
"Ngga, cuma lecet dan pusing dikit," bisik Pharita lirih.
Bara menarik kursi dan duduk di samping ranjang. "Sendirian lo? Orang rumah udah dikabarin?"
Pharita menggeleng pelan. Ia mencoba tersenyum, tapi ujung bibirnya bergetar. "Gue nggak tahu harus kabarin siapa." suaranya nyaris tak terdengar.
Bara menatapnya lama. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia berdiri, mengambil selimut tambahan dari pojok ruangan, dan menyelimutinya dengan hati-hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Simpanan Dospem
RomanceUntuk apasih susah-susah kerja kalo bisa jadi ani-ani? Tinggal minta aja ke gadun kalau mau barang-barang mewah, treatment badan, dan jadi kaya secara instan. Itulah yang dilakukan oleh Pharita, perempuan cantik berasal dari kampung yang berkuliah d...
