Sebelum pulang ke apartemen, Pharita berdiri di depan kedai es krim tepi jalan. Tangan halusnya menerima es krim rasa vanila itu setelah membayar.
Pharita mencicipi es krim ditangannya. Ia meresapinya terlebih dahulu sebelum mengangguk-anggukkan kepalanya. "Delapan per sepuluh."
Tin tin.
Tiba-tiba klakson mobil mengejutkan Pharita. Raut wajah kesalnya terlihat jelas karena di klakson padahal ia di pinggir trotoar dan tidak ada niat untuk menyebrang.
"Loh, Mas sayang." seru Pharita menutup mulutnya terkejut setelah mobil mewah itu berhenti di sampingnya dan kaca mobil diturunkan.
Tanpa disuruh, Pharita langsung membuka pintu tepat disamping kemudi. Pharita mengenakan seatbelt-nya dan menoleh pada Damian. "Kamu kemana aja?" Pharita memanyunkan bibirnya manja ketika Damian memeluknya.
"Aku sibuk dari tadi malam, maaf baru bisa menemui kamu." ujar Damian mengecup bibir ranum Pharita.
Tatapan Damian yang tajam tertuju pada Pharita, di lubuk hati pria itu menghangat setiap melihat senyuman perempuan ini. Pharita seperti obat baginya.
Pharita mengangguk paham. "Mau cobain?" tawar Pharita menunjukan es krim ditangannya.
"Aku tidak suka yang manis selain kamu." ujar Damian membuat Pharita menahan senyumnya.
Gombalan lawas tetapi Pharita salting. Pharita berdehem berkali-kali menetralkan diri. "Ini beneran enak, kalau ngga mau juga ngga papa." Pharita memakan es krimnya.
Damian mengusap pipi mulus Pharita penuh sayang, tangannya meraih tengkuk Pharita dan mencium bibirnya lagi. Damian kecanduan dengan bibir ranum Pharita, bibir yang manis nan licin untuk terus di hisap.
Damian memejamkan matanya menghisap bibir bawah Pharita dan memainkan lidahnya, rasa es krim vanila itu berbagi dengan Damian.
"ngghh," desah Pharita tertahan, lidah Damian bermain terlalu lihai.
Damian melepas ciumannya setelah Pharita memukuli dadanya. Benang-benang saliva dari bibir mereka belum terputus, Damian mengusap bibir ranum Pharita menggunakan jempolnya untuk membersihkan sisa-sisa ciuman mereka.
Pria itu mengelap bibirnya sendiri menggunakan punggung tangan. Damian melirik kaca spion sebelum memutar setir untuk masuk ke jalan raya.
"Abis kuliah aku melamar kerja dimana ya Mas?" ujar Pharita tiba-tiba teringat masa depan. Perempuan cantik jelita itu menoleh pada Damian yang sedang fokus menyetir.
Tangan kiri berurat Damian yang sedang memegang setir itu beralih meraih tangan halus Pharita untuk di genggam. Lengan kemeja hitamnya yang sudah di gulung hingga siku, dua kancing kemeja bagian atas sudah terbuka dan rambutnya yang masih tertata rapi itu membuat Pharita tidak bisa mengalihkan pandangan. Damian sangat tampan dan seksi.
"Kenapa bekerja?" tanya Damian melirik Pharita sebentar. "Kamu tidak perlu bekerja sayang, berbelanja saja. Biar aku yang bekerja."
Pharita menyingkirkan poni-poni halus yang menutupi dahinya. "Aku kan jadi ngga enak."
"Sejak kapan perasaan itu ada di hati kamu?" tanya Damian tidak suka. Parasnya yang tegas membuat Pharita menelan ludahnya sendiri.
"Ngga gitu maksud aku--,"
"Karena Shera?" tebak Damian dengan satu alis tebalnya terangkat menuntut jawaban.
Pharita diam menandakan itu benar.
"Aku harus bagaimana agar kamu percaya dengan semua omonganku?" Damian melirik Pharita, tangannya masih menggenggam tangan Pharita yang halus.
"Aku ngga tau, tapi di hati aku kaya ada ganjal." aku Pharita jujur pada Damian. Setelah melihat Shera, Pharita menjadi sedikit malu dengan dirinya sendiri yang tidak sebanding dengan Shera untuk berada di pelukan Damian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Simpanan Dospem
RomansUntuk apasih susah-susah kerja kalo bisa jadi ani-ani? Tinggal minta aja ke gadun kalau mau barang-barang mewah, treatment badan, dan jadi kaya secara instan. Itulah yang dilakukan oleh Pharita, perempuan cantik berasal dari kampung yang berkuliah d...
