Satu bulan berlalu.
"Mas, kamu serius?" Pharita menatap Damian yang memasukan koper kedalam mobil. Perempuan cantik dengan legging hitam sebatas betis dan kaos putih bergambar bunga di bagian dada.
Damian yang mengenakan celana selutut, sendal jepit dengan harga selangit dan kaos biasa serta topi itu menoleh. "Kenapa memangnya?"
"Kamu belum pernah ke daerah pelosok, loh." ucap Pharita mengingatkan. "Disana juga ngga ada listrik, kalau mau dapat sinyal itu harus jalan ke kota."
"Tempatnya boleh juga." Damian malah semakin tertarik. "Berarti masih sangat asri, tanahnya gimana, subur?"
"Mas ih bisnis mulu!" Pharita mengerucutkan bibirnya sedikit kesal.
Damian tertawa kecil sambil menutup bagasi mobil. “Aku kan nggak bisa copot jadi CEO semudah itu, sayang. Liat tanah subur itu seperti melihat peluang,” katanya sambil merangkul pundak Pharita dan menariknya mendekat.
Pharita memutar bola matanya, tapi tak bisa menahan senyum. “Ya ampun, Mas. Pulang kampung loh ini, bukan survey lahan!”
"Awas ya ngeluh." imbuh Pharita.
"Kamu kali."
"Lah aku kan warga asli!" seru Pharita seraya tertawa kecil.
Perjalanan menuju desa saja sudah memakan 18 jam. Belum lagi jeleknya jalan, ntahlah Pharita ragu Damian akan bertahan.
🍑🍑🍑
Shera berdiri mematung di depan meja sekretaris pribadi Damian. Gaun kantor elegan warna nude yang membalut tubuh rampingnya tampak kontras dengan ekspresinya yang kesal.
“Maaf Bu Shera, Pak Damian sudah mengajukan cuti sejak kemarin,” jelas Yeongso hati-hati, sedikit menunduk. “Beliau bilang ingin menghindari urusan pekerjaan selama seminggu ke depan.”
“Dan kamu nggak pikir aku perlu tahu soal ini?” suara Shera terdengar dingin, tapi matanya menyala—mencari jawaban lebih dari sekadar formalitas administrasi.
Yeongso menaikan kacamatanya yang turun. “Saya pikir Ibu sudah diberitahu langsung oleh beliau.”
Shera menghela napas panjang, lalu berbalik langkah menuju ruang kerja Damian yang kosong. Meja rapi, tidak ada sisa berkas yang tertinggal. Ia membuka laptop kerja Damian—terkunci. Shera mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, matanya menyapu ruangan seolah mencari petunjuk.
Ia tahu pria itu punya dunia lain di luar pernikahan mereka. Tapi ini pertama kalinya Damian pergi tanpa sepengetahuannya. Dan yang paling mengusik, ia bahkan tak tahu Damian sedang di mana.
"Pharita," gumam Shera pelan, rahangnya mengeras. Ini sedang libur semester, apa keduanya sedang liburan sekarang?
Shera berdecak kesal. Tak lama ia segera pergi keluar dari ruangan Damian melintas didepan Yeongso begitu saja.
🍑🍑🍑
Perjalanan menuju rumah orangtua Pharita memang melelahkan. Mobil yang mereka tumpangi berguncang-guncang setiap kali melintas jalan yang semakin sempit dan berbatu.
Terkadang, jalanan yang penuh lubang memaksa mereka melambat, merasakan setiap guncangan yang terasa hingga ke tulang. Namun, meskipun perjalanannya sulit, ada rasa lega yang mulai mengalir begitu mereka mendekati rumah.
Dari kejauhan, terlihat sebuah rumah kayu sederhana dengan atap rumbia yang khas, dikelilingi kebun luas yang asri. Ada padi yang hampir menguning di ladang dan beberapa pohon pisang yang tumbuh subur di sekitar halaman rumah. Sesuatu yang jauh berbeda dengan gedung-gedung tinggi yang biasa mereka lihat di kota.
KAMU SEDANG MEMBACA
Simpanan Dospem
RomanceUntuk apasih susah-susah kerja kalo bisa jadi ani-ani? Tinggal minta aja ke gadun kalau mau barang-barang mewah, treatment badan, dan jadi kaya secara instan. Itulah yang dilakukan oleh Pharita, perempuan cantik berasal dari kampung yang berkuliah d...
