13. Simpanan Dospem

11.4K 348 37
                                        

Malamnya Pharita duduk di lantai yang beralaskan tikar bludru yang super lembut berwarna putih. Kamar Pharita tidak begitu besar. Dindingnya dihiasi cat berwarna krem lembut dengan aksen wallpaper floral keemasan di salah satu sisinya. Sebuah lampu gantung kristal kecil menggantung di tengah langit-langit, memancarkan cahaya hangat yang menyebar lembut ke seluruh ruangan.

Tangannya yang lentik menggenggam ponsel yang sedang menyambung panggilan suara dengan seseorang. Tatapan mata bulat itu sendu, ia bahkan menundukkan kepalanya dengan ponsel disamping telinganya.

"Maafin Ibu ya, Ta. Ibu ngga bisa kirim kamu uang jajan bulan ini." suara yang bergetar seperti menahan pilu diseberang sana sukses membuat Pharita terdiam. "Kamu pasti disana kesusahan kuliah sambil kerja? Kalau ada sisa dari uang berobat bapak pasti ibu kirim, ya."

"Gimana keadaan bapak?" tanya Pharita akhirnya setelah lama bungkam.

"Makin parah sekarang cuma bisa baring, kamu ngga perlu khawatir ya Nak, kamu kuliah yang bener ngga perlu pulang, kami semua baik-baik aja."

Pharita mengusap pipinya yang basah karena air mata, tenggorokannya terasa tercekat untuk berbicara, ibu-nya mengatakan mereka baik-baik saja padahal kondisi sang bapak sudah tidak bisa bangun lagi.

"Pharita mau pulang, Bu." ujar Pharita.

"Jangan, sayang uangmu kalau bolak-balik kesini, buat jajan disana aja ya? Beli beras, Ibu ngga bisa kirim beras karena disini lagi musim banjir, padi banyak yang ngga jadi."

Pharita mengepalkan tangannya dadanya terasa sesak. "Pharita ada tabungan, di pake buat berobat bapak ya Bu,"

"Jangan--,"

"Pharita kirim sekarang, ibu jangan khawatir tentang Pharita disini, Pharita kan kerja Bu, Pharita punya gaji sebentar lagi juga gajian, tabungan Pharita di pake dulu ya buat Ibu sama bapak." tutur Pharita lembut.

Lama bercakap akhirnya panggilan terputus, Pharita segera membuka bank digitalnya dan mengirim sejumlah uang pada sang Ibu di kampung.

Pharita menghapus sisa-sisa air mata di pipinya, ia mendesah lesu dengan keadaan keluarganya. Dengan segera Pharita beranjak dari duduknya hendak menuju kamar mandi mencuci muka, namun sosok Damian yang duduk di sofa kamar mengejutkannya.

Pharita bahkan hingga memegang dadanya sendiri karena kaget. "Da-dari kapan disini Mas?"

"Dari kamu nangis sayang." jawab Damian menurunkan kertas dokumennya keatas meja beralih menatap wajah cantik sang pacar.

"Kok ngga bilang, sih?" Semula wajah itu sendu kini berubah kesal. Pharita tidak mau Damian melihatnya menangis karena ekonomi keluarga. "ihh ngeselin banget!!"

Damian mengangkat sebelah alisnya. "Sini." titahnya langsung di patuhi Pharita. Damian menarik tangan Pharita agar tubuh molek itu berpangku dengannya.

Ketika Damian hendak berbicara Pharita segera memajukan wajahnya mencium bibir pria itu agar diam. Pharita sudah hafal, Damian akan mengajaknya menikah.

Damian yang tidak bisa di pancing mengeratkan pelukannya pada pinggang Pharita memperdalam ciuman mereka.

Pharita mendorong dada Damian agar ciuman mereka terlepas. Dadanya terasa terhimpit batu karena kehabisan nafas.

"Kamu yakin ingin menunda pernikahan kita?" tanya Damian terdengar serius membuat Pharita menunduk diam.

Pharita tersenyum lirih. "Aku punya apa buat jadi istri kamu, Mas," ucap Pharita dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. "Aku cuma perempuan desa yang ngga ada harta, keluargaku ngga terpandang seperti kamu, aku ngga punya apa-apa selain tubuh ini buat kamu."

Simpanan DospemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang