Malam ini Shera dan Damian makan malam bersama dirumah.
Shera memandangi Damian yang duduk jauh di ujung meja makan panjang itu. "Kapan kamu akan berhenti menjadi dosen?" tanya Shera, jeda beberapa detik sebelum ia kembali menyambung ucapannya. "Orangtuaku bertanya tentang itu."
"Secepatnya." jawab Damian.
Makan malam yang dimaksud adalah pembicaraan tentang bisnis mereka agar tetap sejalan. Dalam satu minggu biasanya Damian menerima laporan tentang Serendipity yang pelan-pelan di handle oleh Shera.
Shera meminum alkohol berkadar rendahnya. "Aku harap dalam sebulan atau kurang, Damian," Shera melirik Damian. "Ku rasa kamu tau alasannya."
"Ayahku mulai mencurigai kita," lanjut Shera, meskipun hubungan mereka tidak dekat, baik Damian maupun Shera akan saling melindungi satu sama lain dari masing-masing orangtua. Hanya inilah satu-satunya cara agar hubungan mereka aman.
"Apa kata mereka?" Damian menjatuhkan kedua sikunya di pinggir meja. Alis tebalnya hampir menyatu menunjukan keseriusan.
"Mereka mencurigai kamu bermain dengan banyak wanita, mereka menginginkan cucu, kan?" Shera mengusap keningnya yang terasa sedikit pening.
Damian terdiam berpikir sejenak, sudah lama orangtua mereka menginginkan cucu tetapi di usia tiga tahun pernikahan mereka, Shera dan Damian sama sekali belum pernah melakukan seks. Keduanya masing-masing tidak sudi.
Shera mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya, menyelipkannya di antara bibirnya yang berlapis lipstik merah tebal, lalu menyalakan pemantik untuk membakar ujung rokok itu.
"Kenapa tidak kamu hamili saja perempuan itu?" tanya Shera seraya menyeringai kecil. "Dia bisa menjadi pion yang berubah menjadi apa pun."
Damian memahami maksud Shera, tetapi tetap bungkam, memikirkan segala kemungkinan dengan hati-hati
Shera tertawa geli kemudian menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya. "Aku tau kamu tidak mungkin mengambil resiko."
"Apa kita perlu melakukan seks malam ini?" tanya Shera. Mata tajamnya melihat Damian yang sepertinya benar-benar mempertimbangkan segala hal dalam mengambil keputusan, membuat Shera iri dengan ketelitiannya.
"Tidak mungkin." jawab Damian tegas menolak melakukan seks dengan Shera apapun keadaannya. Damian tidak ingin mengkhianati janjinya pada Pharita.
"Lalu apa lagi?" Shera tersenyum miring. "Cepat hamili dia, agar kita mendapatkan keturunan."
Damian menatap Shera serius. Anak pertama mewarisi harta Damian dan anak kedua mewarisi harta Shera. Ini ketentuan dari Desmond dan Bokuto sebelum pernikahan diselenggarakan. Pernikahan mereka benar-benar sudah direncanakan dan disusun dengan matang.
Rencana Shera itu sangat logis di kepala Damian. Mereka tidak menginginkan satu sama lain tetapi harus memiliki anak. Damian menghela nafas dan memijat keningnya yang berdenyut pusing.
Di sisi lain, Damian harus memikirkan perasaan Pharita yang akan berpisah dengan sang buah hati jika itu benar-benar terjadi. Namun, warisan yang di turunkan benar-benar besar dan tidak mungkin di berikan kepada anak yang bukan dari darah Damian.
Damian beranjak berdiri, ia mengambil jasnya yang tersampir di satu kursi. "Kita lanjut minggu depan saja."
Shera melirik Damian yang melangkah kian semakin jauh. Wanita itu menghisap rokoknya lagi, sudut bibirnya tertarik membuat seringai.
🍑🍑🍑
"Coba tebak nilai ku berapa!!" seru Pharita berlari kecil dari dapur menuju pintu yang terbuka menampilkan sosok Damian disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Simpanan Dospem
RomanceUntuk apasih susah-susah kerja kalo bisa jadi ani-ani? Tinggal minta aja ke gadun kalau mau barang-barang mewah, treatment badan, dan jadi kaya secara instan. Itulah yang dilakukan oleh Pharita, perempuan cantik berasal dari kampung yang berkuliah d...
