Di tengah suasana kampus yang mulai ramai, pintu salah satu kelas terbuka pelan. Pharita masuk, langkahnya tenang namun mencuri perhatian. Cahaya pagi yang menembus kaca jendela memantul halus di kulitnya yang bersih dan cerah, seolah-olah ia punya filter alami yang melekat setiap saat. Rambutnya yang ditata sederhana tergerai rapi, dan parfum lembutnya menyusup pelan ke udara, membuat kepala beberapa mahasiswa di barisan depan spontan menoleh.
Ia mengenakan kaos putih polos dipadukan dengan jeans kulot, ditambah sneakers putih yang terlihat baru. Sederhana, tapi terkesan mahal. Tote bag kulit yang menggantung di bahunya tampak seperti brand luar negeri, tapi Pharita tidak tampak mencoba pamer. Semuanya natural, effortless, dan justru itu yang membuatnya sulit diabaikan.
Pharita duduk di dekat jendela, bangku favoritnya. Ia mengeluarkan iPad dan pulpen stylus, membuka catatan kuliah dengan raut wajah tenang. Tidak ada senyum sok akrab, tidak ada sapaan berlebihan—tapi justru dengan sikap yang seperti itu, aura cool dan eksklusifnya semakin kuat. Beberapa mahasiswa saling berbisik, ada yang diam-diam mengintip, tapi Pharita tetap fokus. Seolah dunia di sekitarnya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
"Beb tugas kemarin yang kita kerjain bareng udah di kumpulin belum?" tiba-tiba Twila muncul disampingnya tanpa Pharita sadari saking fokusnya pada layar iPad.
Pharita menoleh dan mengangguk. "Udah nih, kenapa?"
"Gue lupa ngingetin lo kalau deadlinenya jam sebelas malam." ucap Twila duduk disamping Pharita.
"Aman aja Wil, udah gue kirim sebelum jam sebelas kok."
"Yaudah syukaaa banget sih, gue baru kepikiran tuh tadi pas lagi sikat gigi." Fokus Twila tertuju pada Bara yang lesu mengambil kursi tepat dibelakang bangku Pharita. "Lesu banget, Bar."
Bara menopang dagunya, matanya ngikutin punggung Pharita yang lagi sibuk di kursinya. "Gue ditolak sama Pharita."
Twila langsung menoleh, shock. "Loh—lo nembak dia?"
Bara ngangguk pelan. "Iya, dan ditolak mentah-mentah. Gue sampe mikir, gue kurang apa sih, Ta?"
Pharita noleh sebentar, suaranya tetap tenang tapi jujur. “Nggak kurang apa-apa, Bar. Gue aja yang emang nggak bisa nerima lo.”
Kalem, tapi nusuk—karena Pharita memang tipe jago ngomong hal berat dengan suara selembut itu.
"Iya tapi kenapa?" Bara mengacak-acak rambutnya merasa sedikit frustasi. "Kasih gue jawaban yang make sense deh. Gue tuh kurang apa?”
"Lo bisa maksain perasaan lo buat suka sama Shae ngga, Bar?" tanya Pharita seraya berbalik menghadap Bara.
Bara terhenyak. "Ngga sih."
"Nah, gue juga gitu.” Pharita menjawab lembut, tapi nadanya tegas. Nggak ada keraguan sedikit pun.
"Tapi gue ngga bisa suka sama dia karena, karena gue suka sama lo, Ta. Dan ada cowo lain yang lo suka Ta?" Bara menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa disembunyikan—penuh harap yang nyaris putus.
Pharita berpikir sejenak sebelum menjawab seraya melirik Twila, sahabatnya itu sudah tau jika ia memiliki gebetan tetapi hingga kini Twila tidak mengetahui jika gebetannya adalah sang dosen.
“Iya, gue ada.” jawab Pharita akhirnya, suaranya lembut tapi yakin. “Maafin gue ya, Bar. Tapi gue beneran nggak bisa bales perasaan lo.”
Bara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Pharita sebentar, lalu menunduk, mencoba menerima pelan-pelan kenyataan yang mungkin sudah ia tebak, tapi tetap nyesek saat denger dari mulutnya langsung.
"Ah udah, udah, please ya—kita tuh temenan, nggak boleh jadi awkward gini," Twila langsung menyela, merasa suasana mulai berat sebelah.
“Bar, udahlah biasanya lo juga paling chill, kenapa sekarang mellow banget?” tambahnya sambil menarik napas panjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Simpanan Dospem
RomansaUntuk apasih susah-susah kerja kalo bisa jadi ani-ani? Tinggal minta aja ke gadun kalau mau barang-barang mewah, treatment badan, dan jadi kaya secara instan. Itulah yang dilakukan oleh Pharita, perempuan cantik berasal dari kampung yang berkuliah d...
