19. Simpanan Dospem

9.1K 329 31
                                        

Setelah bangun Pharita berolahraga sebentar kemudian mandi, kini perempuan itu sudah duduk di sofa dengan celana pendek hitam sebatas pertengahan pahanya dan blouse biru muda berpita di bagian sisi kanan kirinya.

Rambutnya yang di curly ia kuncir tinggi. Didepannya tepat diatas meja layar laptop menyala, di sisi kiri laptop, tablet menayangkan podcast dari seorang komedian nasional, sementara Pharita memainkan ponselnya mencari-cari tas branded terbaru yang menarik perhatiannya.

Pharita menggigit ujung jarinya seraya men-scroll. "Ngga ada yang baru lagi memangnya?"

"Gue kurang suka lagi." Pharita menghela nafas tidak menemukan tas bagus. Perempuan itu melirik laptop yang redup mulai mati, Pharita menggeser kursor mouse dengan kakinya agar laptop itu tetap menyala.

Niatnya adalah mengerjakan tugas karena hari ini free tidak ada kelas apapun. Meskipun biasanya Damian yang mengerjakan kali ini Pharita ingin coba-coba saja.

Namun, ide bagus terlintas di kepalanya. Sudut bibirnya tertarik membuat senyuman, Pharita segera mencari kontak Damian di ponselnya, tanpa segan Pharita langsung menelponnya padahal sedang di jam kerja.

"Iya sayang?"

Sudah tersambung, Pharita berdehem kecil beberapa kali sebelum berbicara. "Sore ni ke pantai yuk Mas! Aku udah cari-cari tasnya tapi ngga ada yang bagus, aku bakal maafin kamu kok abis kita ke pantai." nada suara Pharita terdengar datar.

"Boleh, nanti aku infoin lagi, ya? Aku lanjut kerja dulu."

"Ok!"

"Iya, love you sayang. Jangan cuekin aku terlalu lama, tadi aku pesenin kamu makanan sebentar lagi mungkin akan sampai, jaga mood kamu agar kembali bagus ya? Aku tutup telponnya."

Tutt...
Walaupun nada suaranya terdengar ketus dan datar, Pharita diam-diam tetap tersenyum. Perutnya terasa di penuhi kupu-kupu yang sedang berterbangan.

"Ah lucu banget loh harus gimana ini..." semburat merah menghiasi pipi mulusnya, Pharita salting dengan ucapan manis Damian.

Kadang Pharita hingga lupa jika Damian adalah suami orang dan ia selingkuhan. Hubungannya terlarang.

"Siap-siap dari sekarang aja deh," gumamnya pelan karena waktu sudah menunjukan pukul dua sore. Pharita segera beranjak untuk mencari-cari outfit yang pas di lemarinya untuk pergi ke pantai.

Deretan bungkusan pakaian mahal tergantung rapi di gantungan emas, masih tersegel dalam plastik bening, harum parfum mahal yang samar namun tajam menyeruak setiap kali plastik bergesekan pelan karena Pharita geser.

Di bawahnya, berjajar rapi puluhan tas dari merek ternama milik Pharita, sebagian masih berlabel, sebagian lagi tampak pernah dipakai hanya sekali—mungkin untuk pameran dan untuk momen yang kini sudah dilupakan. Beberapa kotak sepatu tertumpuk di sudut, begitu rapi seolah pemiliknya tak pernah benar-benar menyentuhnya, hanya menatap, mengagumi, dan menyimpan.

Pharita menghela nafas kemudian berkacak pinggang merasa tidak menemukan pakaian yang cocok dari sekian banyaknya. Tangannya merogoh ponsel dari dalam saku celana mencari ide outfit dari selebgram luar negeri yang menjadi inspirasinya.

"Gue rasa pernah beli baju ini tapi dimana ya?" Pharita menggaruk lehernya bingung melihat baju-bajunya yang bergantung. Ia menatap sekali lagi layar ponselnya yang menampilkan seorang selebgram sedang mengenakan dress yang Pharita maksud.

Pharita meletakan ponselnya diatas meja rias dan kembali mencari-cari pakaiannya.

🍑🍑🍑

Simpanan DospemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang