17. Simpanan Dospem

8.5K 295 3
                                        

Malam di Bromo begitu sunyi, hanya suara angin yang sesekali berdesir melewati tenda-tenda yang berdiri di atas tanah berpasir. Suhu turun drastis, menggigit kulit meski sudah berselimut jaket tebal. Di kejauhan, samar-samar terdengar suara obrolan pelan dari tenda-tenda lain, bercampur dengan bunyi kayu yang berderak saat api unggun menyala perlahan.

Beberapa orang masih terjaga, duduk melingkar di dekat api unggun, menghangatkan tangan sambil menyeruput teh panas. Ada yang bercanda, ada yang sibuk memandangi bintang dengan kamera, ada pula yang hanya diam, menikmati ketenangan yang jarang bisa ditemukan di tempat lain.

Didalam tenda biru, Pharita berbaring bersama Twila yang sudah tidur. Pharita membaca pesan demi pesan Damian yang baru masuk karena sinyal yang buruk.

Pria itu sudah tidur sejam yang lalu membuat Pharita sedikit sedih karena merasa ditinggal. Pharita melihat foto-foto yang ia kirim pada Damian.

Twila menggeliat pelan di dalam selimutnya, matanya masih berat karena kantuk, tapi ada desakan di perutnya yang tak bisa ditahan. Ia melirik ke sekeliling tenda yang gelap, lalu berbisik pelan, “Pharita, temenin gue pipis.”

"Yuk Ta..."

Pharita yang belum tidur mengangguk, menarik jaketnya sebelum keluar dari tenda. Udara dingin langsung menyergap kulitnya, menusuk sampai ke tulang. Twila menggenggam senter kecil, cahayanya bergetar di tangannya saat mereka mulai berjalan melewati jalan setapak yang berbatu.

Satu pengawal Pharita yang bergantian tidur langsung sigap berdiri hendak membuntuti Pharita, namun Pharita mengisyaratkan tangannya untuk tidak mengikutinya. "Mau pipis," katanya pelan.

Keduanya menuju tempat yang lebih tersembunyi cukup jauh, melewati jembatan sebatang pohon yang membentang di atas aliran sungai. Pharita melangkah lebih dulu, memastikan kayu itu cukup kuat menahan bobot mereka. Twila ragu-ragu sebelum akhirnya mengikutinya dari belakang.

Tapi saat Pharita sudah hampir sampai di seberang, kayu di bawahnya tiba-tiba basah dan licin. Dalam sekejap, tubuhnya tergelincir, kakinya kehilangan pijakan.

Twila—!” Suaranya terputus saat tubuhnya jatuh, terjerembap ke dalam air yang dingin. Percikan besar terdengar, menggema di tengah sunyi malam.

Twila terkejut, nyaris menjatuhkan senter dari tangannya. Ia berdiri membeku di ujung jembatan, matanya melebar, menatap ke bawah dengan dada berdegup kencang. Gelombang air di bawahnya berputar perlahan, menelan sosok Pharita yang kini tak terlihat di permukaan.

Twila menahan napas, matanya masih terpaku pada permukaan air yang mulai tenang. “Pharita?!” suaranya bergetar, nyaris tak lebih dari bisikan panik. Ia menggigit bibirnya, menyorotkan senter ke sungai, berharap melihat sosok Pharita muncul ke permukaan.

Air beriak, lalu sesuatu muncul—Pharita! Gadis itu menggapai-gapai, batuk keras, wajahnya pucat diterpa cahaya senter. “T-Twila…” suaranya lemah, arus sungai mulai menyeret tubuhnya menjauh

"TOLONG!!!!!" teriak Twila sekeras mungkin. Twila panik, kakinya bergerak maju seolah hendak melompat, tapi otaknya berteriak agar tidak melakukan hal bodoh. Matanya menyapu sekeliling, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menolong. Tidak ada!

"TA?!!" Twila mencari sosok Pharita yang hilang timbul di air. "TOLONGG!!!" teriaknya lagi, ia benar-benar panik hingga tangannya gemetar wajahnya memerah.

Langkah cepat terdengar dari belakang. Seseorang menerobos semak-semak, napasnya berat. Cahaya senter lain menerangi tempat itu.

Bukan hanya pengawal yang datang, tapi juga Bara, Jiwo, dan Dimas—beberapa orang hacking yang ikut mendengar suara teriakan Twila. Bara, yang selalu terlihat tenang, kini tampak panik, napasnya memburu saat matanya menangkap pemandangan di bawah jembatan.

Simpanan DospemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang