Pagi tiba dengan hawa sejuk khas perbukitan Gunungkidul. Embun masih bertengger di pucuk rumput ketika ibu dan ayah Pharita bersiap berangkat ke kebun yang letaknya beberapa bukit dari rumah. Sebelum beranjak, ibunya menyalakan pelita kecil di dapur—sekadar memanaskan air—lalu berpamitan pada anak-anaknya.
“Sing ati-ati ing omah, ya,” pesan sang ibu sambil menata keranjang anyaman di punggung.
Pharita mengangguk, Damian pun menunduk sopan. Tak lama, langkah pasangan tua itu menghilang di balik rumpun bambu, meninggalkan aroma tanah basah yang masih segar diterpa matahari muda.
Pharita melirik Damian yang sudah meremas-remas bokongnya. Perempuan itu meringis kecil seraya mendongak menatap sang gadun. "Udah ih masih perih."
"Kenapa?" tanya Damian sok polos.
"Yuk mandi aja!" seru Pharita menjauhkan tangan Damian dari bokongnya.
"Berdua?" Damian mengekori Pharita kemanapun perempuan itu pergi.
"Iya."
🍑🍑🍑
Tidak jauh dari rumah, mengalir sebuah sungai kecil berair jernih. Batu-batu kali yang licin memantulkan cahaya keperakan, sementara bunyi gemericik air bersahut dengan kicau burung. Di tepi sungai itulah Pharita berlutut, menyiapkan baskom untuk menyimpan pakaiannya dan Damian yang sudah ia cuci.
Sementara pria itu sibuk memperhatikannya. Pharita tau kemana tuju tatapan pria itu, apalagi Pharita hanya mengenakan kemban jarik yang sudah basah karena air, hingga membuat lekuk tubuh moleknya terlihat jelas.
"Kita tinggal disini saja jika sudah menikah." ucap Damian tiba-tiba membuat Pharita yang baru saja bergabung menceburkan diri kedalam sungai yang hanya semeter itu menoleh.
"Kenapa?"
"Kamu sangat seksi disini." Damian menyunggingkan senyum kecil saat Pharita mencubit perutnya.
Damian menarik tangan Pharita agar bersembunyi dibalik batu besar. Damian melirik sekitarnya terlebih dahulu sebelum mengangkat Pharita agar duduk diatas batu.
Pharita mengerjapkan matanya bingung hingga lagi-lagi tangan Damian masuk kedalam kembannya mengelus-elus kewanitaannya. Pharita nurut dan melebarkan pahanya sedikit menikmati jari-jari Damian yang mengusap-usap klitorisnya.
"Enak..." desah Pharita memeluk leher kokoh Damian erat. "Masukin .." Pintanya manja.
Pharita memejamkan matanya benar-benar tidak bisa berkata-kata selain mendesah setelah dua jari Damian masuk memenuhi liang kewanitaannya.
"ahh mhh mhh ..." Pharita tidak perduli lagi saat Damian membuka ikatan kembannya hingga ia telanjang diatas batu mengangkang lebar untuk Damian yang sedang memasukan kedua jarinya.
Damian yang melahap habis payudara kirinya membuat kewanitaan Pharita semakin basah. Jari-jari kaki Pharita hingga menekuk saking nikmatnya permainan Damian.
Seakan dunia milik berdua saja, Damian melepas handuknya hingga ia juga ikut tanpa busana. Damian memasukan kejantanannya yang sudah tegak dan tegang dengan hentakan yang membuat Pharita menjerit tertahan karena Damian langsung menciumnya.
Terlindung di balik batu, Damian dan Pharita menghabiskan waktu di pagi hari berdua. Saling bertukar saliva dan keringat.
🍑🍑🍑
Kia masuk ke kamarnya dengan langkah berat. Ia langsung melempar tasnya ke sudut ruangan, lalu duduk bersandar di kasur sambil menatap langit-langit kosong. Kepalanya penuh dengan pikiran yang menyesakkan. Sudah berhari-hari ia mencoba mencari kampus baru yang masih bisa menerimanya di sekitar Jakarta—namun hasilnya nihil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Simpanan Dospem
RomanceUntuk apasih susah-susah kerja kalo bisa jadi ani-ani? Tinggal minta aja ke gadun kalau mau barang-barang mewah, treatment badan, dan jadi kaya secara instan. Itulah yang dilakukan oleh Pharita, perempuan cantik berasal dari kampung yang berkuliah d...
