32. Simpanan Dospem

5K 281 44
                                        

Jarum jam menunjukkan pukul 01.48 dini hari ketika Pharita menggeliat pelan di ranjang, membuka mata dengan setengah sadar. Perutnya kelaparan, tapi bukan karena lapar biasa. Dia pengen sesuatu.

“Opor ayam,” gumamnya lirih, menatap langit-langit kamar gelap dengan tatapan kosong.

Tanpa pikir panjang, dia menoleh ke sisi ranjang dan melihat Damian masih terlelap, napasnya teratur, wajahnya damai—versi paling manusia dari seorang Damian Swastamita.

Pharita mengguncang lengan Damian pelan. “Mas.”

Damian bergeming.

Pharita guncang sedikit lebih kuat. “Mas, bangun dong,”

“Hm?” Damian membuka mata setengah, suaranya berat dan dalam, “Kenapa?”

“Aku pengen opor ayam,” ucap Pharita serius, ekspresi polos tapi bersungguh-sungguh.

Damian terdiam. Menatap Pharita selama lima detik penuh seolah memastikan ini bukan mimpi. “Kamu bangunin aku jam segini cuma karena opor ayam?” tanyanya pelan, nyaris tak percaya.

Pharita mengangguk kecil, “Tapi yang kuahnya kental, terus ayamnya empuk kayak masakan ibu-ibu di kampung. Aku craving banget.”

Damian menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya, setengah pasrah. “Gak ada opor ayam jam segini, sayang,"

“Mas, kamu kan kaya. Kamu bisa nyuruh siapa aja, kan?” ucap Pharita dengan nada memohon dan raut wajah nelangsa, kedua tangannya menyentuh dada Damian seperti anak kecil yang ngerengek minta jajan.

Damian menatap langit-langit kamar sebentar, matanya masih berat. Lalu dia menoleh ke arah Pharita dengan ekspresi setengah sadar, “Aku siapa?”

Pharita mengerutkan dahi, kesal sekaligus geli. “Apa ih!!”

Ia langsung naik duduk di atas perut Damian, membuat lelaki itu mengerang pelan karena kaget. “Bangun, Mas. Sadar, jangan tidur lagi.” Pharita menahan kelopak mata Damian dengan dua jari agar terbuka lebar, ekspresinya penuh tekad.

Damian hanya bisa pasrah, membiarkan matanya diperlakukan seperti jendela rumah yang dibuka paksa. “Rendang besok pagi gimana?” tanyanya lemah, mencoba negosiasi sambil menahan kantuk.

“Ngga jadi, aku mau opor aja.” ucap Pharita antusias.

Damian menatap perempuan di atasnya itu lama, akhirnya menghela napas. “Kamu sudah kayak notifikasi darurat tengah malam.”

"Aku kelaparan, Mas," ucap Pharita dramatis, tangannya memegang perut sendiri seolah-olah sedang sekarat. "Aaaak — aku kehabisan napas akibat kelaparan." lanjutnya sambil mengguling ke samping Damian dan meringkuk seperti burrito hidup.

Damian menoleh pelan, menatap tingkahnya dengan ekspresi datar. “Kamu ngedrama jam dua pagi hebat sih.”

Pharita hanya meringkuk lebih erat, punggung menghadap Damian, suaranya kecil, “Kalau aku pingsan, nanti kamu nyesel."

“Pingsan karena pengen opor ayam?” Damian terdengar nyaris tertawa, tapi tetap menahan. Ia berguling menghadap Pharita, lalu menepuk bokong perempuan itu pelan. “Udah, bangun. Ganti baju yang layak ke luar. Kita cari opor.”

Pharita langsung membalikkan badan seperti kilat, wajahnya sumringah, “Beneran, Mas?”

“Selama kamu nggak minta ketupat juga,” Damian berdiri sambil meraih jaketnya.

Pharita melonjak turun dari kasur, lalu mencium pipi Damian dengan cepat. “Mas Damian emang suami idaman!”

“Belum jadi suami,” Damian menyipitkan mata, tapi senyumnya tipis muncul juga.

Simpanan DospemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang