40. Simpanan Dospem

3.1K 343 70
                                        

Hari itu, kota kecil tempat resepsi berlangsung mendadak gempar. Jalanan dipenuhi mobil mewah, tenda-tenda besar didirikan di sepanjang halaman gedung adat yang dihiasi ulos dan ornamen Batak. Musik gondang menyambut setiap tamu dengan gegap gempita. Semua orang tahu: hari ini adalah pernikahan Bara dan Pharita—dan acaranya bukan main-main.

Namun di tengah kemewahan itu, ada satu hal yang membuat semua tamu terdiam, bahkan lupa untuk bernapas sejenak.

Pharita.

Ia berdiri anggun dengan balutan kebaya putih gading bertabur manik-manik emas, lengkap dengan ulos yang disampirkan di bahunya. Kulitnya yang seputih susu tampak menyatu sempurna dengan gaun pengantinnya. Rambut panjangnya disanggul rapi, dihiasi bunga melati dan tusuk konde emas. Di kepalanya, mahkota pengantin adat Batak bersinar, memantulkan cahaya lampu aula yang mewah. Dan meskipun wajahnya tak banyak tersenyum, auranya tetap bersinar luar biasa.

Sampai-sampai, para tamu tak bisa berhenti memandangnya. Bahkan saat duduk di pelaminan, banyak yang bisik-bisik, menyebut Pharita sebagai “Dewi dari Tanah Batak”.

Sementara itu, Bara—cowok yang biasanya tengil, kini tampil gagah dan menawan dengan jas hitam elegan dan ulos dililitkan di bahu kirinya. Di sisi pelaminan, ia berdiri memegang tangan Pharita erat-erat. Matanya tak lepas dari wajah perempuan yang kini resmi menjadi istrinya. Ada binar bangga, sayang, dan tak percaya yang tumpah ruah dari sorot matanya.

Di antara para tamu, Twila, Jiwo, dan Dimas berdiri di barisan depan. Mereka datang jauh-jauh, menembus kota dan waktu, hanya untuk menyaksikan hari bersejarah sahabat tercinta mereka. Twila terlihat berkali-kali mengusap air mata, sementara Jiwo dan Dimas sibuk mengambil video sambil tertawa bahagia.

"Lo liat nggak, Ta? Semua orang nggak bisa berhenti ngeliatin lo," bisik Twila saat memeluk Pharita sebentar di sela acara. "Gila sih, lo cantik banget. Lo kayak… dewi yang turun pas gondang diputar."

Pharita hanya tersenyum pelan, tapi senyumnya itu cukup untuk membuat Twila dan Jiwo nyengir seharian.

Acara adat berlangsung dengan megah. Manortor pun dimulai, diiringi suara gondang dan sorak-sorai keluarga. Bara dan Pharita ikut menari, menggenggam tangan, bergerak pelan dengan senyum yang entah kenapa terasa damai. Bukan lagi tentang luka, tapi tentang rumah. Tentang dua orang yang akhirnya saling menemukan di ujung badai.

Dan di tengah meriahnya pesta, hanya satu kalimat yang terdengar berulang kali dari para tamu:

"Pengantinnya cantik banget. Laki-nya beruntung banget dapetin dia."

Padahal Pharita lah yang beruntung bertemu Bara.

🍑🍑🍑

Tengah malam telah tiba. Hiruk-pikuk pesta perlahan mereda, lampu-lampu aula dimatikan satu per satu, menyisakan kehangatan sisa tawa dan musik gondang yang masih terngiang di kepala.

Di dalam kamar pengantin yang hangat dan tenang, Pharita sudah lebih dulu masuk. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk berseprai putih bersih, masih lengkap dengan baju adat yang belum sempat ia lepas. Mahkota di kepalanya sudah ia letakkan di meja rias, tapi ulos masih menutupi bahunya, dan sanggulnya masih rapi meski rambut-rambut halus mulai keluar dari tempatnya.

“Duh…” gumamnya pelan, seraya menyentuh pergelangan kakinya. “Pegel banget, kaki gue rasanya mau copot…”

Bara yang baru masuk, masih mengenakan kemeja batiknya dengan bagian atas terbuka dua kancing, langsung mendekat. Ia menutup pintu kamar, lalu berjalan ke sisi ranjang dan duduk di ujung kasur.

“Pegel ya?” tanyanya, tangan hangatnya menyentuh betis mulus Pharita yang masih dibalut kain songket. Ia perlahan membantu membuka kain yang rumit dililit itu, lalu menyisihkan pelan agar tak mengganggu gerakannya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 22 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Simpanan DospemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang