Cahaya matahari pagi menyelinap lewat celah tirai jendela, jatuh tepat di atas wajah Pharita yang masih tertidur pulas. Selimut tersingkap sebagian, memperlihatkan bahunya yang terbuka, sementara tanktop-nya hanya menutupi pusar saja, dan helaian rambutnya berantakan menempel di pipi. Napasnya teratur, tenang tapi lelah—sisa dari malam yang begitu intens.
Di sudut kamar, Damian berdiri di depan cermin. Kemeja putihnya sudah rapi, dasi hitam sudah terpasang sempurna. Tangannya menyemprotkan parfum ke leher, lalu merapikan rambutnya yang masih sedikit basah. Tatapannya sempat melirik ke arah ranjang.
Pharita masih belum bangun.
Ia mendekat, pelan-pelan duduk di sisi tempat tidur. Pandangannya turun menyusuri wajah perempuan itu yang terlihat sangat manis saat tertidur. Ada sedikit bekas merah di leher Pharita, hasil dari malam tadi. Karena sekarang libur, Damian bebas menandai kepemilikannya di manapun.
Damian tersenyum tipis, lalu membungkuk untuk mengecup dahi Pharita.
“Pagi, sleepyhead.” bisiknya pelan.
Pharita hanya menggumam kecil, menggeliat sedikit dan menarik selimut naik sampai ke dagunya. Damian terkekeh, lalu berdiri kembali.
“Aku kerja dulu sayang, jangan lupa sarapan ya.”
Pharita membuka satu mata saat Damian hendak pergi. Sakit semua tapi seneng. Perempuan itu menahan tangan Damian agar tidak pergi.
"Badan aku sakit." adu Pharita manja.
"Ya iyalah sakit," gumamnya sambil duduk di sisi tempat tidur lagi. Tangannya menyibakkan selimut kemudian mengusap lembut paha mulus Pharita yang tidak tertutup apapun. "Siapa suruh kamu ngelawan semalam?"
Pharita mencibir lemah, matanya masih setengah tertutup. “Kamu tuh egois, aku disiksa tapi kamu yang senyum-senyum.”
Damian menunduk, mencium pelan keningnya. “Kalau aku egois, aku nggak bakal berhenti pas kamu nangis nangis tengah malam."
Pharita menutup mukanya dengan bantal, tubuhnya menggeliat geli sendiri. “ih malu tau,” suaranya teredam bantal.
Damian tertawa kecil. Ia menampar bokong Pharita pelan, lalu kembali berdiri. “Istirahat yang banyak. Aku meeting jam sembilan. Jangan lupa makan, dan jangan buka-buka sosial media dulu ya.”
Pharita menyingkap bantal dari wajahnya, mengerutkan alis. “Kenapa?”
Damian hanya tersenyum samar, lalu berjalan ke pintu. “Pokoknya jangan dulu. Nanti aku jelasin.”
Pintu kamar tertutup perlahan. Pharita langsung meraih iPhone-nya di meja samping tempat tidur, membuka layar dengan wajah curiga.
Dan benar saja. Di Instagram story Damian terpampang foto Shera lagi.
Pharita menatap layar ponselnya dengan mata yang mulai memanas. Di Instagram story Damian terpampang foto Shera tersenyum manis, dihiasi tulisan “Happy birthday to my beloved wife.”
Rasa cemburu dan kesal langsung menyeruak dalam dada Pharita. Ia tahu, ini bukan soal Shera, tapi tentang posisi yang selalu dipertaruhkan di depan publik. Damian pasti melakukan ini demi citra, demi menjaga image sebagai suami sah yang sempurna di mata dunia—padahal hatinya tetap milik Pharita.
Ia mengusap pelan pelipisnya, berusaha tenang. “Ini semua cuma permainan demi PR, demi citra.”
Pharita tahu, Damian harus melakukan ini agar reputasinya tetap kuat di bisnis dan media. Shera sebagai istri resmi, harus ‘dipamerkan’ supaya tidak ada gosip yang bisa merusak nama baiknya. Tapi tetap saja, itu membuat Pharita merasa seperti bayangan yang tersembunyi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Simpanan Dospem
RomanceUntuk apasih susah-susah kerja kalo bisa jadi ani-ani? Tinggal minta aja ke gadun kalau mau barang-barang mewah, treatment badan, dan jadi kaya secara instan. Itulah yang dilakukan oleh Pharita, perempuan cantik berasal dari kampung yang berkuliah d...
