39. Simpanan Dospem

3.2K 329 37
                                        

Pagi itu udara terasa dingin meski matahari sudah mulai meninggi. Tirai apartemen terbuka setengah, membiarkan cahaya lembut masuk dan menyentuh gaun putih yang membalut tubuh Pharita. Gaun itu senada dengan kulitnya yang seputih susu—rapuh, pucat, dan tampak begitu dingin seperti porselen yang bisa retak kapan saja. Rambutnya yang lurus ia ikat seadanya, hanya dijepit pelan dengan jepit kupu-kupu kecil di sisi kanan.

Tak ada senyum atau ekspresi. Hanya sepasang mata kosong yang memandang lurus ke depan, dan bibir merah yang kini kering, pecah-pecah, seolah menggambarkan seberapa keras dirinya mencoba bertahan.

Pharita sudah memasuki usia kandungan tiga bulan, perutnya mulai terlihat membuncit—mengingatkan pada kenyataan yang terus ia tolak dalam diam. Jadwal check-up pagi ini sebenarnya penting, dokter bilang kandungannya rentan akibat stres yang tak kunjung reda. Tapi wajah Pharita tak menunjukkan harapan apa pun. Ia hanya diam, duduk di pinggir ranjang seperti boneka hidup yang kehilangan jiwanya.

Bara yang sedari tadi sibuk menyiapkan segala kebutuhan, kini berjongkok di hadapannya. Tangannya cekatan memasangkan kaos kaki pada kaki Pharita yang telanjang dan dingin. Telapak tangan laki-laki itu terasa hangat ketika menyentuh kulit kaki Pharita, namun gadis itu tetap tak bereaksi. Bara menghela napas pelan, mencoba menyembunyikan perasaan yang campur aduk—antara pedih, marah, dan sayang yang tak pernah berbalas.

Sampai hari ini Pharita masih belum mengabari orangtuanya tentang keadaan sebenarnya. Bara dan Twila pun tidak bisa berbuat apa-apa, mereka takut jika memaksa Pharita malah semakin parah.

Dan hari ini, Bara bolos dari kuliah sementara Twila tidak bisa bolos karena harus bimbingan skripsi. Hanya Bara sendiri yang mengantar Pharita pergi kerumah sakit, Bara mengorbankan waktu belajarnya untuk menemani Pharita.

"Lo beneran ngga mau ngomong nih? Dari kemarin loh, Ta." ucap Bara mencoba merayu Pharita agar bersuara, tidak ada lelahnya Bara mencoba membujuk Pharita bangkit dari keterpurukannya.

Cowo berkemeja fanel merah kotak-kotak, rambut sedikit berantakan dan celana jeans hitam itu menggaruk tengkuknya bingung dengan cara apalagi merayu Pharita.

"Gue harus gimana lagi, sih, Ta?" tanya Bara ikut frustasi. "Ayo dong ngomong, lo lupa kata dokter minggu lalu? Coba lo ceritain apa isi kepala lo sekarang ke gue, jangan di simpen sendiri." Minggu lalu adalah jadwal Pharita untuk cek kesehatan mentalnya, semua ini adalah biaya dari Bara.

Pharita menoleh, tatapannya sayu dan wajah cantiknya sendu. "Gue laper Bar."

Sekelebat kelegaan melintas di mata Bara saat mendengar suara itu—rapuh, serak, tapi akhirnya keluar juga. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, Pharita bersuara. Meski hanya dua kata, dua kata itu terasa seperti angin sejuk setelah hari-hari penuh kabut.

"Laper?" Bara tersenyum kecil, hampir tak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Ia langsung berdiri, menepuk lembut kepala Pharita seakan mengapresiasi keberaniannya membuka mulut. "Oke, Princess. Kita cari makan dulu sebelum ke rumah sakit, ya?"

Pharita tidak menjawab. Tapi sorot matanya sedikit berubah, tak sesuram tadi. Ia hanya menunduk, menggenggam jemari tangannya sendiri yang dingin di pangkuan. Bara melihatnya, dan itu cukup. Meskipun belum ada senyum, meskipun belum ada kata lain, Bara akan tetap bertahan. Karena hari ini, Pharita mengucap sesuatu. Itu artinya, mungkin… hanya mungkin, Pharita masih ingin hidup.

"Gue pesenin bubur ayam favorit lo di deket RS, ya?" Bara melanjutkan, mengambil tas kecil berisi barang-barang keperluan Pharita, lalu membantu perempuan itu berdiri.

Perut Pharita yang mulai membuncit terlihat jelas di balik gaun putihnya ketika ia bangkit. Bara terlalu mencintai Pharita hingga ia tidak rela Pharita seterpuruk ini.

Simpanan DospemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang