Langit kampus tampak teduh siang itu. Kelas baru saja usai, dan para mahasiswa mulai keluar satu per satu dari ruang kuliah. Pharita berjalan beriringan dengan Twila menyusuri koridor, langkahnya pelan tapi tetap anggun.
"Gue kasihan sumpah sama Bara di bantai habis-habisan tadi." ucap Twila seraya tertawa kecil. "Lo liat ngga komuknya?"
Pharita tergelak. "Iya ih gue liat tadi, parah sih dia sampe ngeliat kemana-mana lho minta tolong."
"Bisa ya lo berdua ngejudge gue sekarang, padahal tadi ngga bantuin samsek." ucap Bara tiba-tiba muncul di tengah-tengah antara Pharita dan Twila.
Twila mengibaskan rambutnya. "Ya.. lo sih ngeliatin Pharita mulu!"
Pharita langsung menutup mulutnya menahan tawa, matanya sudah berbinar duluan melihat ekspresi ngambek Bara yang super drama.
"Ya ampun Bar, lo tuh lucu banget tadi. Sumpah, ngeliat lo panik tuh bener-bener kayak baca webtoon live action," ucap Pharita masih menahan tawa.
Bara ngelus dada pura-pura sakit hati. "Gue tuh korban sistem penglihatan! Mata gue ke arah cantik tuh udah default, ngga bisa dilawan."
Twila langsung tertawa keras hingga menarik perhatian beberapa orang, "Elah alasan lo. Udah deh, next time belajar beneran aja daripada nyari muka depan dosen lo!"
"Aish syibal sekiya!" balas Bara super drama. "Gue cabut duluan guys!" Bara tiba-tiba berlari kecil menghampiri Dimas dan Jiwo yang sudah berdiri di parkiran menunggunya.
Pharita dan Twila saling pandang sebelum ketawa bareng, masih terngiang tingkah Bara yang super lebay.
"Anak itu tuh ya, makin gede makin absurd." ujar Twila sambil geleng-geleng kepala, mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya.
Pharita bersandar ke tiang dekat tangga gedung kampus. "Tapi jujur gue seneng sih, vibes kayak gini bikin gue agak lupa sama skripsi."
Twila tertawa geli, "Lo kan skripsi tinggal revisi, masih bisa glowing cantik tiap hari juga."
"Glowing karena capek, Wil. Bukan skincare." jawab Pharita sok dramatis tapi tetap senyum manis.
Twila menatapnya sebentar, lalu melipat tangan. "Eh lo nggak ke ruang dosen sekarang?"
Pharita langsung berdiri tegak dan merapikan totebag-nya. “Iya, gue harus konsul—sekalian numpang liat dospem ganteng.”
Twila cengar-cengir, “Jangan kelamaan di ruang dosen ya, takut ruangannya kebakar karena tensi asmara.”
Pharita tertawa pelan, lalu melambaikan tangan. “Lo drama banget sih—gue cabut duluan, wish me luck!”
"Always, queen!" balas Twila santai sambil melambaikan tangan balik.
🍑🍑🍑
Pharita menarik napas sejenak di depan pintu berlabel Dosen Pembimbing — Damian Swastamita dengan segala gelarnya. Tangannya terulur mengetuk dua kali sebelum suara berat dari dalam menjawab, “Masuk.”
Dengan langkah tenang dan anggun, Pharita membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan yang sejuk dan wangi aroma kopi. Damian duduk di balik meja kerjanya yang rapi, mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung di bagian siku, tampak kontras dengan kulitnya.
Ia sedang mengetik sesuatu di laptopnya, namun langsung menghentikan gerak jarinya saat melihat siapa yang datang.
“Silakan duduk.” ucapnya datar, tapi matanya menatap Pharita lebih lama dari seharusnya.
Pharita duduk dengan tenang, menyilangkan kaki dan membuka file skripsinya di iPad. Senyumnya lembut, sopan, tapi matanya menyiratkan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar hubungan akademik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Simpanan Dospem
RomansaUntuk apasih susah-susah kerja kalo bisa jadi ani-ani? Tinggal minta aja ke gadun kalau mau barang-barang mewah, treatment badan, dan jadi kaya secara instan. Itulah yang dilakukan oleh Pharita, perempuan cantik berasal dari kampung yang berkuliah d...
