36. Simpanan Dospem

5.8K 326 59
                                        

Paginya Pharita duduk kursi perpustakaan dengan satu buku cerita rakyat di tangannya. Ia membaca setiap bait demi bait disana, Pharita menopang dagunya membaca dengan serius meskipun sesekali kilasan Damian tadi malam terlintas di kepalanya.

Twila disampingnya berkali-kali melirik. Perempuan modis dengan kacamata radiasi itu memicingkan matanya curiga pada Pharita.

"Gimana ngedate lo lancar?" tanya Twila pelan.

"Huh?" Pharita menoleh dan mengangguk. "Lancar dong!!" ucapnya seraya menyunggingkan senyum manisnya.

"Atlet ya gebetan lo?" Twila berbasa-basi sebelum membahas pertanyaan yang berat. "Soalnya gue liat badannya gede banget, beb. Pantes aja lo ngga mau sama Bara!"

"Iya, kan?!" Pharita tertawa tapi di dalam hati ketar-ketir.

"Siapa namanya?" tanya Twila membuat Pharita terkejut tidak menyangka Twila akan bertanya nama.

"Ah jangan salah paham, Beb. Lo tau kan gue ikut gym beberapa bulan ini? Kali aja gue kenal di tempat gym gue, gue juga bisa ngasih tau lo dia baik atau ngga sesuai yang gue tau." ujar Twila seraya tersenyum hingga matanya menyipit.

Twila merasa yakin tuduhan Kia selama ini benar, segala urusan tugas Pharita selalu dipermudah pak Damian. Sedangkan yang lain harus jatuh bangun berdarah-darah baru mendapatkan tandatangan dari dosen super sibuk itu.

Twila baru kepikiran semuanya masuk akal. Aneh juga jika Pharita tidak pernah di marahi oleh dosen sibuk itu padahal presentasi Pharita paling buruk di kelas.

Bara yang public speaking nya lumayan di setiap presentasi selalu mendapat nilai B. Sementara itu sahabatnya modal joki dapat nilai A+. Twila benar-benar merasa aneh.

"Lo ngga mau jawab?" tanya Twila melihat Pharita yang membisu. Twila tertawa kecil mencairkan suasana yang canggung. "Ngga papa sih santai aja."

Pharita mengambil sejumput rambutnya dan menyampaikannya dibalik daun telinga. Ia kembali membaca bukunya namun notif pesan diponselnya yang ia letakan diatas meja berbunyi.

Damian Swastamita
Pulang nanti ke ruangan ku sebentar ya?

Pharita dengan sigap mengambil ponselnya diatas meja dan menyembunyikan ponsel itu didalam saku bajunya. Keringat dingin membasahi keningnya, apalagi Twila sedang menatapnya horor.

"Lo beneran selingkuhan pak Damian, Ta?!" bisik Twila terkejut dengan mulutnya yang terbuka saking kagetnya. "Lo udah gila?"

"Apasih, Wil? Main tuduh aja." ujar Pharita menatap Twila kesal.

"No, no, no..." Twila mengedarkan pandangannya, melihat sekitarnya yang sepi tangannya segera merogoh sesuatu dari dalam tasnya dan menunjukannya pada Pharita. "Gue nemuin ini di taman tadi malam pas banget posisinya dibawah kaki gebetan lo itu!" ujarnya menunjukan kartu nama sang dosen.

"Gue pikir lo cuma bercanda mau jadi selingkuhannya pak Damian, ternyata selama ini bener?!" bisik Twila sembari menekan setiap intonasinya. Alisnya hampir menyatu karena kesal pada sahabatnya yang malah menjatuhkan harga diri.

"Wil..."

"Lo ngapain Ta bisa sampe mau jadi simpenan?" tanya Twila. "Atau lo dijebak? Iya?"

Pharita menggeleng cepat. "Wil dengerin gue dulu!"

"Jadi karena lo mau?!" Twila menutup mulutnya benar-benar terkejut. "Udah gila lo, ya?!"

"Iya gue gila! Tapi please dengerin gue dulu, bisa ngga?" tanya Pharita membuat Twila yang berkepala dingin mengangguk setuju.

"Iya, jelasin apa maksud lo ngelakuin semua ini." Twila mendekatkan kursinya pada Pharita.

"Tapi sebelum itu lo janji ngga ngasih tau siapa-siapa dulu," ujar Pharita menatap Twila memohon.

Simpanan DospemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang