Pagi itu matahari belum terlalu tinggi, namun koridor kampus sudah ramai oleh mahasiswa yang lalu-lalang. Pharita melangkah ringan di samping Twila, rambut panjangnya terurai rapi, dan blouse putih yang ia kenakan tampak bersih mengilap di bawah sinar matahari pagi.
Sementara Twila di sampingnya tampak santai mengenakan cardigan oversize, tangan kiri menenteng tote bag berisi laptop dan beberapa dokumen kelas.
Obrolan mereka tadi ringan—tentang lip tint baru, dosen yang telat masuk, dan siapa yang diam-diam punya hubungan sama anak fakultas sebelah.
Tapi langkah mereka melambat begitu melihat seseorang berjalan dari arah berlawanan—Shae.
Gadis itu mengenakan blouse hitam dengan rambut yang tersanggul rapi. Pandangannya lurus ke depan, tapi ekspresinya terlihat dingin, seperti sedang menahan sesuatu yang berat. Saat matanya bersirobok dengan Pharita, ada jeda aneh. Hanya sepersekian detik, tapi cukup terasa ada sesuatu yang berubah.
Shae tidak menyapa. Tidak melirik. Hanya berjalan melewati mereka begitu saja tanpa sepatah kata. Bahkan senyum tipis pun tidak.
Pharita sempat menoleh, seolah ingin memastikan itu benar Shae—karena rasanya seperti sedang lewat di depan orang asing.
Twila juga menoleh cepat ke arah Shae yang sudah makin jauh, lalu menatap Pharita.
“Eh…” gumam Twila lirih, lebih ke diri sendiri. “Kemarin sore masih ketawa bareng di taman, sekarang ngeliat pun nggak?”
Pharita mengernyit kecil, matanya masih menatap punggung Shae yang menjauh.
“Aneh banget, ya?” gumamnya pelan, nyaris hanya untuk dirinya sendiri.
Twila menoleh ke arah sahabatnya. “Lo ada masalah sama dia?”
Pharita menggeleng pelan. “Nggak, bahkan kemarin dia masih cerita soal kerjaan kakaknya, masih becanda juga. Gue juga bingung, sumpah.”
Twila mencibir pelan, lalu mengangkat alis. “Lo yakin? Jangan-jangan dia denger gosip-gosip nggak jelas.”
Pharita menoleh, bingung. “Gosip apaan? Gue bahkan belum update drama kampus minggu ini.”
Twila diam, matanya menyipit memperhatikan ekspresi Pharita yang terlihat jujur. “Nggak tau. Feeling gue aja.”
Pharita menghembuskan napas. “Kalau dia berubah karena sesuatu yang gue lakuin, harusnya dia ngomong langsung, kan? Bukan jadi stranger gitu.”
Twila mendesah dan mengangguk pelan. Tapi dalam hati, ia masih menyimpan rasa heran yang sama.
Karena sejak kemarin, satu per satu orang di sekitar Pharita mulai berubah—dan semuanya diam. Seolah tahu sesuatu yang belum ia tahu.
Begitu langkah mereka memasuki kelas, Pharita dan Twila sama-sama menarik napas dalam dan langsung mencari bangku yang kosong. Mereka memilih duduk di barisan tengah, cukup strategis untuk tidak terlalu mencolok tapi juga tidak terasing di belakang.
Pharita baru saja meletakkan tasnya ketika seseorang menarik kursi di depan mejanya—cepat dan tidak sopan. Ia mengangkat wajah, menemukan Bara yang duduk dengan dagu terangkat dan pandangan tajam.
“Pagi,” sapa Bara dengan nada datar, lalu miringkan kepala sedikit. “Harga diri lo berapa, Pharita? Biar gue yang beli, kali aja dapet diskon.”
Twila sontak menoleh, alisnya terangkat tinggi. “Hah?!”
Pharita menahan ekspresinya tetap netral, meskipun wajahnya sedikit memucat. Hanya mereka bertiga yang mendengar—suara Bara cukup pelan, tapi nada sindirannya tajam, menusuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Simpanan Dospem
RomansaUntuk apasih susah-susah kerja kalo bisa jadi ani-ani? Tinggal minta aja ke gadun kalau mau barang-barang mewah, treatment badan, dan jadi kaya secara instan. Itulah yang dilakukan oleh Pharita, perempuan cantik berasal dari kampung yang berkuliah d...
