Klik.
Jepit berbentuk kupu-kupu itu tersemat di sisi kiri rambut Pharita menahan poni halusnya agar tidak menutupi dahi mulusnya.
Urusan tadi malam sudah selesai dan Damian meyakinkan akan melindunginya. Kini, Pharita duduk di sofa mengenakan sepatu putih branded-nya.
Pharita mendongak menatap Damian yang berdiri didepannya, pria itu menggunakan setelan kerja rapi, Pharita menahan senyumnya ketika Damian berjongkok didepannya mengambil alih mengikat tali sepatunya.
"Hari ini aku boleh shopping sama Twila ngga, Mas?" tanya Pharita. "Soalnya hari ini tuh di mall ada kaya promo-promo gitu."
"Kenapa bertanya biasanya langsung belanja?" Damian mengangkat kepalanya menatap perempuan kesayangannya. "Kalau kurang bilang sayang."
"Makasiii," seru Pharita memeluk leher kokoh Damian erat. Pharita mencium pipi Damian sekilas sebelum melepas pelukannya.
"Memangnya ngga cape pulang dari sini langsung ke mall?" tanya Damian beranjak berdiri dan meraih tangan mungil Pharita agar mengikutinya.
Pharita mengenakan kardigan rajutnya. "Ngga cape kok, aku kuat." kuat menghabiskan uang. Lanjutnya didalam hati.
Setelah melihat kekayaan Damian langsung didepan matanya, Pharita menjadi semakin bersemangat untuk menghabiskan uang Damian. Jika suatu saat ia kalah telak oleh Shera, Pharita sudah kaya raya menangis di dalam mobil Tesla.
Ending yang not bad baginya.
Realistis saja, meskipun Pharita mencintai suami orang, Pharita juga harus memikirkan masa depannya jika sewaktu-waktu Damian membuangnya. Pharita akan mempersiapkan aset atas namanya dan dibeli menggunakan uang Damian.
"Mikirin apa?" tanya Damian melihat Pharita yang senyum-senyum sendiri disampingnya.
Pharita refleks menggeleng, ia menepuk-nepuk pipinya menyadarkan diri dari khayalannya tentang aset. Perempuan itu mengikuti langkah kaki lebar Damian yang menarik tangannya.
"Kalau kamu nanti bosan sama aku, gimana?" tanya Pharita melirik Damian sedikit takut. Pharita menggigit bibir bawahnya ketika genggaman tangan Damian semakin erat.
"Tidak mungkin." jawab Damian. Pria itu menoleh pada Pharita. "Kamu perempuan satu-satunya."
"Kenapa ngga mungkin? Istri kamu itu cantik loh, Mas. Pinter, keluarganya bagus, aku- aku cuma upik abu." ujar Pharita mendesah lesu. "Bukan upik abu deh, tapi berlian yang kena debu."
Damian mengernyit. "Aku kira pembahasan tentang ini cukup tadi malam."
"Tapi aku kepikiran."
"Hilangkan pikiran itu, aku serius dengan kamu." balas Damian, suaranya yang berat membuat Pharita diam.
Melihat Pharita yang tidak membuka mulut mengeluarkan sepatah kata pun Damian jadi sedikit terganggu. Entah mengapa hati Damian tidak tenang jika Pharita membisu seperti ini.
"Jangan memikirkan apapun tentang hubungan kita, sudah berkali-kali ku bilang biar aku yang mengambil kendalinya." ujar Damian, "tugas kamu hanya percaya dan terima."
"Iya." sahut Pharita pelan.
Damian membukakan pintu mobil untuk Pharita. "Jangan khawatir, aku mencintai kamu, tidak ada satupun dari kita berdua yang akan terasingkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Simpanan Dospem
RomanceUntuk apasih susah-susah kerja kalo bisa jadi ani-ani? Tinggal minta aja ke gadun kalau mau barang-barang mewah, treatment badan, dan jadi kaya secara instan. Itulah yang dilakukan oleh Pharita, perempuan cantik berasal dari kampung yang berkuliah d...
