Pagi itu, kampus kembali hidup. Setelah dua bulan libur semester, koridor-koridor dipenuhi mahasiswa yang datang dengan cerita liburan masing-masing. Tawa bersahut-sahutan, udara terasa riang dan ringan — seolah semua orang siap memulai awal yang baru.
Pharita melangkah masuk ke kelas bersama Twila. Keduanya tampil menarik seperti biasa, aura mereka selalu menarik perhatian, bahkan hanya dengan gaya kasual.
Pharita mengenakan blus putih simple dan rok A-line biru navy. Rambutnya diikat setengah ke belakang, makeup-nya natural tapi tetap terlihat segar. Twila sendiri tampil bold dengan crop top hitam dan outer denim, seperti biasa penuh percaya diri.
Begitu masuk kelas, pandangan mereka langsung tertuju pada satu sosok yang sudah duduk lebih dulu — Bara.
Biasanya, Bara akan menyapa mereka. Minimal melempar senyum atau mengangguk kecil. Kadang malah berebut tempat duduk di samping Pharita, dengan alasan "biar gampang diskusi".
Tapi hari ini berbeda.
Bara tidak menoleh sama sekali. Pandangannya lurus ke depan, wajahnya datar. Ia duduk di deretan samping dekat jendela bersama Dimas dan Jiwo — jauh dari posisi biasa mereka.
Pharita sempat melambatkan langkah. Ada rasa aneh di dadanya. Twila juga melirik ke arah Bara, lalu menoleh ke Pharita dengan ekspresi heran.
"Dia kenapa ya?" bisik Twila pelan.
Pharita hanya menggeleng pelan, sedikit penasaran dengan perubahan sikap Bara yang sudah ia anggap sebagai teman selain Twila.
Mereka duduk di kursi tengah, posisi aman. Pharita mencoba mengabaikan tatapan-tatapan kecil yang tetap datang dari beberapa mahasiswa lain. Meski dua bulan telah berlalu, kehadiran Pharita di ruang mana pun masih cukup mencuri perhatian.
Beberapa menit kemudian, pintu kelas terbuka lagi.
Damian masuk.
Langkahnya tegap, raut wajahnya dingin dan tak terganggu oleh suasana apapun. Kemeja putihnya tergulung rapi sampai siku, rambutnya disisir ke belakang. Semua mata langsung terfokus ke depan, termasuk Pharita — meski ia berusaha tampak biasa saja.
“Selamat pagi,” ucap Damian singkat, tanpa ekspresi. Suaranya tetap terdengar tenang, tapi tegas.
Tak ada yang tahu, bahwa pagi ini ada tiga orang di ruangan itu yang menyembunyikan rahasia.
Bara, yang menjaga jarak tanpa penjelasan, memilih diam karena kecewa.
Dan Damian, yang tetap seperti biasanya — tenang, tertutup, dan tak tersentuh. Aura mahalnya benar-benar menginspirasi sebagian mahasiswa di kelas ini.
Damian meletakkan laptopnya di atas meja dosen, lalu menyambungkannya ke proyektor tanpa banyak bicara. Ruangan hening. Tak ada suara selain derik pelan dari kabel yang ia sambungkan, dan suara klik mouse-nya yang teratur.
Slide pertama langsung muncul di layar:
Strategic Management — Semester 7
Beberapa mahasiswa mulai membuka laptop atau mencatat di buku. Pharita hanya duduk diam, kedua tangannya terlipat rapi di atas meja. Ia tidak berani menatap terlalu lama ke depan, meski setiap kali Damian bicara… suaranya menusuk langsung ke dadanya.
“Topik pertama,” ujar Damian tanpa basa-basi, “adalah analisis lingkungan bisnis.”
Suara baritonnya tegas dan fokus. Ia tidak berbasa-basi seperti dosen lain, tidak juga mencoba ‘mendekati’ mahasiswa. Semua disampaikan dengan efisien dan rapi, khas Damian.
“Bisnis tidak pernah berjalan dalam ruang hampa,” lanjutnya sambil mulai menulis poin-poin utama di papan. Tulisan tangannya rapi dan tegak. “Kita harus tahu bagaimana membaca lingkungan, memetakan kekuatan dan ancaman, dan menyusun strategi dari sana. Ini bukan teori kosong — ini fondasi dalam dunia nyata.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Simpanan Dospem
RomanceUntuk apasih susah-susah kerja kalo bisa jadi ani-ani? Tinggal minta aja ke gadun kalau mau barang-barang mewah, treatment badan, dan jadi kaya secara instan. Itulah yang dilakukan oleh Pharita, perempuan cantik berasal dari kampung yang berkuliah d...
