28. Simpanan Dospem

5.8K 281 23
                                        

Suara langkah Damian terdengar mantap menyusuri lorong panjang lantai atas kantor pusat Serendipity Hotel Group. Setelah seminggu menghilang tanpa banyak penjelasan, aura dingin dan dominannya kembali menyelimuti koridor itu.

Ia membuka pintu ruang kerjanya—dan tanpa terkejut, mendapati seorang perempuan duduk anggun di sofa berlapis kulit hitam, kakinya bersilang sempurna, lipstik merahnya masih tampak utuh meski sudah menunggu lama.

Hari ini, Damian harus mengecek kinerja Shera selama ia tidak ada.

“Lama banget liburannya,” ujar Shera datar, sorot matanya tajam dan penuh penilaian.

Damian menutup pintu perlahan, menanggalkan jasnya, lalu berjalan menuju meja kerjanya tanpa membalas sapaan itu. "Kenapa?"

Shera berdiri, mendekat, langkahnya tenang tapi mengandung tekanan. “Aku istrimu. Wajar dong kalau aku khawatir—apalagi kalau kamu pergi ke tempat entah di mana tanpa kabar jelas.”

Damian mengangkat kepalanya, menatap Shera sebentar. “Khawatir atau penasaran?”

Shera tersenyum tipis. “Keduanya.”

Ada jeda. Udara terasa mengeras. Damian menatap layar laptop-nya yang baru dinyalakan, tapi pikirannya tidak di situ. Shera—selalu penuh agenda. Dan hari ini, ia yakin, bukan sekadar kunjungan istri yang merindukan suaminya.

"Aku penasaran ngapain aja ke kampung peliharaan kamu?" lanjut Shera pelan, tapi nadanya dalam.

Damian menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangan kirinya terlipat di dada, sementara tangan kanan masih menggenggam mouse. Sorot matanya tajam, tapi wajahnya tetap tenang seperti biasa.

“Kamu nyebut orang kayak barang, Shera,” ucapnya datar.

Shera mendecak pelan, lalu duduk kembali di sofa. “Kamu nggak jawab pertanyaanku. Aku cuma pengen tahu apa dia segitu pentingnya sampai kamu ninggalin semua kerjaan seminggu penuh, bahkan cuti tanpa sepengetahuanku?”

Damian menghela napas. “Itu urusan personal.”

“Personal?” Shera menaikkan sebelah alis. “Kamu masih sadar kan status kamu sekarang? Kita ini suami istri, Damian. Apa yang kamu lakuin, apalagi di belakangku, itu bukan sekadar urusan pribadi.”

Damian menatap Shera dalam, nyaris seperti membedah isi kepalanya. “Aku nggak pernah minta kamu ikut campur hidup pribadi aku. Dari awal kita tahu pernikahan ini dibangun dari kepentingan, bukan perasaan.”

Shera terkekeh lirih, matanya berkaca-kaca namun masih berusaha tetap kuat. “Tapi tetap aja, Damian. aku istri kamu. Di atas kertas, di mata publik, di keluarga. Kalau kamu ketahuan selingkuh, yang malu bukan cuma kamu.”

“Kalau kamu takut malu, kamu seharusnya nggak usah main politik dari awal,” balas Damian dingin. “Pharita bukan mainan. Dan aku nggak akan biarin dia jadi korban permainan ini juga.”

Shera diam. Kali ini bibirnya kelu. Nama itu—Pharita, meluncur begitu tenang dari bibir Damian, tapi menyayat dadanya seperti pisau yang ditarik perlahan.

Diam-diam, ia tahu. Ia kalah dengan gundik, perempuan kampung, miskin yang cuma modal cantik itu.

Shera mengangkat dagunya, menatap Damian penuh luka dan ego yang tercabik tapi semuanya tertutup rapi dengan wajah angkuhnya. “Kamu cinta sama dia?”

Damian menatapnya balik. Hening. Tapi jawabannya ada di tatapannya jelas, tajam, dan tidak butuh kata-kata.

Shera mengangguk pelan. Sakit itu nyata, tapi yang lebih menyakitkan adalah ketika ia sadar ia memang tak pernah benar-benar punya tempat di hati laki-laki ini.

Simpanan DospemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang