“Breaking News: Pasangan Muda Penuh Prestasi! Damian Swastamita dan Shera Namisadora Tuai Penghargaan Internasional!”
Suara pembawa berita terdengar semangat, latar belakang layar menampilkan Damian dan Shera berdiri berdampingan di sebuah panggung megah di luar negeri, menerima penghargaan dari organisasi global.
“Dalam pidatonya, Damian menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan istri tercinta, Shera, yang selalu berada di sisinya. Sorotan kamera memperlihatkan Shera yang tersenyum anggun di samping Damian, mengenakan gaun putih elegan yang kontras dengan kesan dingin yang sering melekat padanya.”
Layar televisi menampilkan momen Shera merangkul Damian di panggung, lalu mereka berfoto bersama para pemimpin muda dunia lainnya. Musik latar yang heroik mengiringi tayangan tersebut.
Klik!
Layar televisi yang semula menampilkan wajah Damian dengan headline menggelegar mendadak gelap. Bara berdiri di depannya dengan remote di tangan, lalu meletakkannya pelan di atas meja. Di tangannya yang lain, ada semangkuk popcorn hangat dan sebotol jus jeruk dingin.
“Udah, jangan ditonton. Isinya cuma racun,” gumamnya sambil melangkah ke sofa.
Pharita duduk membisu di sudut ruangan, bersandar pada bantal besar dengan kaki jenjangnya tersilang. Kaos merah muda longgar menggantung manis di tubuh mungilnya, menyisakan sedikit bahu yang telanjang. Hotpants ketat memamerkan betis dan pahanya yang mulus, tapi tak ada aura menggoda sedikit pun. Dingin. Beku. Seperti boneka porselen yang kehilangan jiwanya.
Sudah sebulan sejak kecelakaan itu. Sejak suara Damian menjadi asing. Sejak nama Pharita berubah dari 'perempuan yang dicintai CEO' menjadi 'wanita skandal.'
Tak ada kabar. Tak ada pesan.
Bahkan ketika dia masih terbaring di rumah sakit dengan infus menempel di tangannya, Damian tak pernah datang.
Sosial media? Semua lenyap. Diblokir. Dihapus.
Kartu-kartu kredit yang dulu selalu muncul di notifikasi banknya? Ditutup sepihak.
Pharita kini hanya tinggal bersama Bara, atau kadang di tempat Twila. Tapi hari ini Twila pulang ke rumah orang tuanya. Dan Bara—yang meski hatinya hancur tiap melihat wanita yang ia cintai—tetap jadi satu-satunya orang yang bertahan di sisinya.
Ia duduk perlahan di sebelah Pharita, mencoba menyuapkan popcorn ke mulut gadis itu. Tapi seperti biasa, Pharita cuma menoleh sesaat, lalu kembali menatap kosong ke depan.
“Ta,” panggil Bara pelan. “Makan dulu, ya?”
Tak ada respons.
“Ini popcorn keju favorit lo, kan?"
Pharita menunduk. Tangan rampingnya menarik bantal ke pelukannya. Matanya sembab. Tak pernah tersenyum lagi sejak malam itu. Seolah semua harapan ikut mati di dalam dentuman mobil yang menghancurkan hidupnya.
Bara menahan napas. Sakit rasanya melihat perempuan yang ia cinta hanya bisa diam seperti ini. Tapi lebih sakit lagi saat mengingat, dia mengandung anak dari pria lain. Pria yang kini bahkan tak sudi menoleh ke belakang.
Dengan suara pelan, Bara berbisik, “Kalau lo capek, gue bisa jaga lo terus. Gue janji, Ta. Sekalipun dia ninggalin lo, gue enggak akan pernah…”
Pharita akhirnya membuka suara, lirih dan nyaris tak terdengar.
“Aku capek, Bar”
Suara itu membuat dada Bara nyeri. Tapi ia tetap tersenyum kecil, menahan segala sakit hatinya.
“Boleh capek asal jangan nyerah, ya?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Simpanan Dospem
RomanceUntuk apasih susah-susah kerja kalo bisa jadi ani-ani? Tinggal minta aja ke gadun kalau mau barang-barang mewah, treatment badan, dan jadi kaya secara instan. Itulah yang dilakukan oleh Pharita, perempuan cantik berasal dari kampung yang berkuliah d...
