Moment 58

46 7 0
                                        

Keesokan paginya, saat matahari baru saja menyinari kota, Hoseok sudah berada di depan pintu rumah Eungi. Dia datang lebih awal, mengenakan pakaian kasual yang rapi, siap untuk ikut serta dalam acara amal yang akan dihadiri Eungi dan Seo Jung. Ketika pintu terbuka, Eungi tersenyum lembut, senang melihat Hoseok memenuhi janjinya.

“Kamu datang tepat waktu,” kata Eungi.

“Untukmu, aku tak mungkin terlambat,” jawab Hoseok, memamerkan senyum hangat yang membuat Eungi tersipu. Dia selalu terkesan dengan komitmen Hoseok, terutama sejak hubungan mereka semakin serius.

Tak lama kemudian, Seo Jung keluar dari kamar, siap dengan pakaian formal sederhana namun elegan, seperti biasanya. Melihat Hoseok sudah menunggu, alisnya sedikit terangkat, meski ia tak berkata apa-apa. Ada sedikit kejutan di wajahnya, tapi dia tidak menolak kehadiran Hoseok.

“Selamat pagi, Bibi,” sapa Hoseok dengan sopan, membungkukkan badannya.

Seo Jung hanya mengangguk ringan, lalu berkata, “Mari kita berangkat. Acara amal sudah akan dimulai.”

Mereka bertiga kemudian menuju ke tempat acara yang berlokasi di sebuah aula besar milik komunitas, tak jauh dari rumah Eungi. Setibanya di sana, area itu sudah dipenuhi berbagai stan kegiatan amal: mulai dari bazar makanan, pakaian bekas, hingga donasi buku dan mainan untuk anak-anak. Semua orang tampak sibuk menyiapkan barang-barang yang akan dijual atau dibagikan kepada yang membutuhkan.

Begitu mereka masuk, beberapa teman Seo Jung segera menghampiri. Para wanita itu—ibu-ibu dari kalangan sosial yang sama—langsung terpesona oleh kehadiran Hoseok. Mereka bertanya dengan antusias, “Ini siapa, Seo Jung? Anak muda ini tampan sekali. Calon menantu, ya?”

Seo Jung tersenyum tipis, tapi tidak menjawab. Sementara itu, Eungi hanya bisa menahan tawa kecil, merasa geli melihat perhatian yang Hoseok terima. Hoseok, di sisi lain, tetap menjaga sikapnya. Dia merespon dengan ramah dan sopan kepada semua yang bertanya, tidak terganggu dengan tatapan penuh rasa ingin tahu dari para ibu-ibu itu.

Acara amal berlangsung dengan penuh kesibukan. Hoseok mengambil peran aktif membantu di berbagai stan. Dia membantu mengangkut barang, menyusun meja, bahkan ikut melayani para pengunjung yang datang membeli makanan dan barang-barang dari stan. Di sela-sela kesibukannya, Hoseok juga menyempatkan diri membantu Seo Jung, menata ulang barang-barang di stan pakaian bekas.

“Bibi, boleh saya bantu lagi di sini?” tanya Hoseok saat melihat Seo Jung sibuk.

Seo Jung menatapnya sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. “Bantu aku melipat pakaian ini dan letakkan di meja, supaya lebih rapi.”

Hoseok melakukan pekerjaan itu dengan cekatan, bekerja berdampingan dengan Seo Jung tanpa banyak bicara, namun dengan penuh rasa hormat. Eungi memperhatikan dari kejauhan, senang melihat Hoseok benar-benar berusaha mendekati ibunya. Dia tahu bahwa ibunya tidak mudah didekati, tapi kerja keras Hoseok hari ini mulai membuahkan hasil.

Di lain waktu, ketika Hoseok melihat Eungi kesulitan membawa beberapa kotak mainan untuk didonasikan, dia segera mendekat dan mengambil alih kotak-kotak itu dari tangannya. “Biar aku saja yang bawa,” katanya, tersenyum hangat pada Eungi.

Eungi mengangguk, merasa tenang dengan kehadirannya. “Terima kasih, Hoseok-ah.”

Selama acara, beberapa kali Hoseok berhasil menarik perhatian teman-teman Seo Jung. Mereka mengagumi sikap dan kerja kerasnya, terutama bagaimana dia sangat memperhatikan Seo Jung dan Eungi. Salah satu ibu bahkan berkata, “Seo Jung, kamu beruntung punya calon menantu yang begitu rajin dan baik. Dia pasti akan menjadi suami yang hebat untuk Eungi.”

Seo Jung tidak segera menjawab, tapi dari senyum kecil yang mulai terukir di wajahnya, terlihat bahwa dia mulai mempertimbangkan kebaikan Hoseok. Di balik sikapnya yang masih menjaga jarak, dia tidak bisa menyangkal bahwa Hoseok telah menunjukkan ketulusan dan dedikasi, tidak hanya kepada Eungi, tetapi juga kepada dirinya.

Beautiful Moment [JH]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang