Takut menjalin hubungan dan kembali mengulang kesalahan, membuat Hoseok memilih menjadi pecundang. Ia hidup seolah berdamai dengan kesendirian, padahal yang dilakukannya hanyalah lari dari luka yang belum selesai. Cinta, keluarga, dan sisa hidupnya pernah terhempas dalam sekali pukulan nasib. Dan saat semuanya berantakan, hanya satu hal yang membuatnya bertahan—sepasang mata bulat milik bayi kecil yang memanggilnya ayah, bahkan sebelum bisa berbicara.
Sejak hari itu, Hoseok tahu, hidupnya belum selesai.
Ia meninggalkan kota tempat kenangan menyakitkan pernah tumbuh. Tempat di mana egonya tumbuh liar, dan cintanya tumbuh salah arah. Tempat ia pernah merasa lengkap, sebelum akhirnya kehilangan segalanya dalam diam.
Namun, kembali ke tempat masa remaja juga bukan keputusan ringan. Ada seseorang yang harus ia temui—seseorang yang dulu ia tinggalkan tanpa alasan yang cukup. Seseorang yang tetap menyambutnya dengan tenang, bahkan ikut membesarkan Hyuka dengan kasih yang tak pernah ia duga.
Kim Eungi.
Selalu Eungi, yang sejak dulu punya cara paling diam untuk mencintai.
Namun, diam Eungi bukan berarti tanpa luka. Ada opini yang ia pendam, ada spekulasi yang tumbuh tanpa dikonfirmasi. Tentang Marrie—ibu kandung Hyuka—yang Eungi nilai kejam dan tak berperasaan. Padahal, Eungi tidak tahu semua hal. Hoseok tidak pernah benar-benar menjelaskan. Bukan karena Eungi tidak layak tahu. Ia hanya ingin melindungi masa depan yang sedang ia bangun—tanpa bayang-bayang masa lalu.
Sayangnya, Eungi belum mau memahami. Belum sekarang.
***
Pagi itu, dapur rumah kecil mereka sudah beraroma wangi kaldu dan bubur bayi. Cahaya matahari menyusup melalui kisi jendela, menari di meja makan, menyinari wajah Eungi yang sedang menyuapi Hyuka sambil sesekali membersihkan remahan nasi dari pipi bayi itu. Sementara Hoseok menyelesaikan sarapannya dalam diam.
“Persediaan dapur hampir habis. Nanti siang aku akan belanja sama Hyuka,” ucap Eungi, datar. Tak ada basa-basi, hanya pernyataan fungsional.
Hoseok menoleh sedikit. “Perlu tambahan uang?”
“Uang minggu lalu masih cukup,” jawabnya sambil mengganti baju Hyuka dengan tangan cekatan.
Hoseok mengangguk pelan, berdiri, dan meraih tas kerjanya. Ia mendekati anaknya, lalu mengecup puncak kepala mungil itu. “Ayah mencintaimu. Dadah, Hyuka.”
Matanya sempat menatap Eungi. Namun, Eungi hanya membuang pandang. Dingin. Kaku. Senyum Hoseok mengendur. Ia tak berkata apa-apa. Hanya menatap punggung Eungi sejenak sebelum melangkah keluar rumah.
***
Siang hari, pasar pusat kota terasa ramai dan sumuk. Udara berbau logam, suara pedagang saling bersahutan, dan langkah kaki tak henti melintas di jalan paving. Eungi menggenggam satu kantong belanja di tangan kiri dan mendorong kereta bayi dengan tangan kanan. Rambutnya sedikit berantakan karena angin. Wajahnya mengilat oleh keringat.
“Hyuka, kayaknya kita butuh makan enak, deh,” gumamnya sambil melihat sekeliling. Matanya menangkap papan besar berwarna merah terang: Gochu Chicken. Ia tersenyum kecil. “Tempat yang tepat, ya?”
Hyuka menggeliat, lalu tertawa kecil. Seolah mengiyakan. Namun, langkahnya terhenti di trotoar ketika matanya secara tidak sengaja menangkap siluet yang tak asing—seseorang baru saja keluar dari kafe kecil di sisi jalan. Ia berbicara ramah pada seorang wanita, tertawa kecil, lalu berpisah dengan melambaikan tangan.
Eungi refleks menunduk. Hatinya langsung gelisah. Tidak sekarang. Jangan sekarang. Namun, semesta memang senang bercanda.
“Eungi?” suara itu memanggil. Nyaring, ringan, dan ... terlalu akrab untuk disukai. “Wow. Ini kejutan menyenangkan.”
Eungi berusaha tersenyum. Dingin. Sopan. Kosong.
“Oh? Siapa bayi kecil ini?” lanjut pria itu sambil menunduk ke arah Hyuka, yang menatapnya dengan rasa ingin tahu.
“Putra teman,” jawab Eungi cepat. “Aku pengasuhnya.”
“Benarkah?” pria itu tampak lega. “Aku kira ... ya, sudahlah. Tapi tetap lucu sekali. Mirip kamu sedikit, loh.”
Eungi tak menggubris. Ia ingin pergi. Namun, lelaki itu, seperti masa lalu yang keras kepala, tetap mengikuti.
“Aku tahu kamu nggak suka aku. Tapi bisa nggak ... beri aku satu kesempatan buat bicara? Kalau kamu tetap diam, aku bakal terus ganggu. Ini akan menyebalkan.”
Eungi menghentikan langkah. Memandangnya sejenak, lalu kembali berjalan. Tak menolak, tapi tak mengiyakan. Dan pria itu menafsirkan diamnya sebagai lampu hijau.
***
Di dalam Gochu Chicken, suasana cukup tenang. Beberapa pelanggan duduk sambil memainkan ponsel. Pelayan menyodorkan menu. Pria itu langsung mengambil alih.
“Kamu pesan yang banyak ya, kali ini aku yang traktir.”
Eungi mendesah. “Kita cuma berdua. Hyuka nggak makan ayam goreng.”
“Oke. Tapi tetap, pesan yang kamu suka.”
Tak lama, ponsel Eungi bergetar. Hoseok menelepon.
“Ya?” sapanya, datar.
“Kamu di mana? Aku bisa nyusul,” ucap Hoseok dari seberang.
“Kenapa?”
“Cuma khawatir aja. Hyuka pasti nyusahin kamu, kan?”
Eungi terdiam sesaat. Napasnya ditahan. Mata lawan bicaranya di meja menatap penuh rasa ingin tahu.
“Gochu Chicken,” jawabnya singkat. “Kita di sini.”
Setelah panggilan selesai, pria di depannya tak bisa menahan rasa ingin tahu lebih lama. “Siapa?”
“Hoseok,” jawab Eungi sambil menatapnya, tajam dan lurus. “Jung Hoseok. Ingat dia?”
Reaksi pria itu berubah. Kaget. Canggung. Lalu akhirnya tersenyum kaku.
“Oh ... ya. Hoseok ....”
Eungi tak menjawab. Ia menunduk, memperbaiki posisi selimut kecil Hyuka. Hatinya belum benar-benar tenang. Tapi yang pasti, satu hal tak berubah—dia tahu betul, tidak semua masa lalu pantas diberi pintu kembali.
Dan tidak semua luka butuh penjelasan untuk sembuh. []
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Moment [JH]
Fiksi PenggemarJung Hoseok pernah percaya pada cinta... sampai seseorang yang ia cintai memilih pergi. Sejak saat itu, senyum cerianya tak lagi sama. Ia lebih banyak diam, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar pulih. Sementara Kim Eungi, gadis berhati hangat...
![Beautiful Moment [JH]](https://img.wattpad.com/cover/146188955-64-k676195.jpg)