“Selamat pagi, Dok!”
Sapaan hangat itu menyambut Seokjin begitu ia melangkah masuk ke lobi utama rumah sakit. Ia membalas dengan senyum tenang dan anggukan kecil sambil sedikit membungkuk, seperti yang biasa ia lakukan. Meski langkahnya mantap dan wibawa terpancar dari jas dokter putih yang ia kenakan, sebenarnya ia tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian—meski, yah, sulit untuk tidak diperhatikan jika kamu adalah Kim Seokjin, dokter bedah tampan dengan senyum maut dan reputasi nyaris sempurna.
Beberapa suster berbisik-bisik sambil menyikut lengan satu sama lain. Seokjin menangkap tatapan-tatapan itu, tapi memilih pura-pura tidak melihat.
Fokus, Kim Seokjin. Rapat jam sembilan, pasien rawat jalan jam sepuluh. Jangan pikirkan yang aneh-aneh.
Namun, pikirannya sempat melenceng ke satu wajah lain. Wajah gadis dokter yang baru bergabung—yang juga pewaris utama rumah sakit ini. Jeon Marrie. Dia sangat menarik, meski Seokjin mencoba tidak menunjukkan ketertarikan. Bukannya tak tertarik, dia hanya ... takut perasaan itu mengganggu pekerjaannya. Dan sejak melihat dokter Marrie di rumah Hoseok tempo hari, entah kenapa, rasa penasaran itu jadi lebih besar.
Pikiran Seokjin belum sempat mengembara lebih jauh ketika ia merasakan sesuatu menghantam punggungnya—cukup keras hingga ia sedikit terkejut. Ia menoleh dengan cepat, alisnya bertaut karena kaget.
Di belakangnya, berdiri seorang wanita dengan bayi di gendongannya—dan bola plastik kecil tergelincir ke lantai marmer yang mengkilap.
“Hyuka!” seru wanita itu sambil berjongkok, mengambil bola yang jatuh.
Seokjin membeku. Matanya menyipit sedikit, memastikan apa yang dilihatnya bukan ilusi. Itu benar-benar Jeon Marrie. Dan bayi itu ... Hyuka.
“Oh ... maaf, Dokter!” kata Marrie tergesa, senyum kecil mengembang di wajahnya. “Hyuka melempar bola seenaknya, saya tidak sempat mencegah.”
Seokjin masih mematung, matanya berpindah dari Marrie ke bayi kecil yang terlihat nyaman dalam pelukannya. Hyuka tertawa, menatapnya dengan mata bulat polos. Seketika, suara-suara bising rumah sakit terasa menjauh.
“Tidak masalah,” ucap Seokjin akhirnya, suaranya pelan, hampir ragu. “Anak kecil memang begitu.”
Marrie tersenyum lagi, kali ini lebih lembut. “Kalau begitu saya permisi, ya. Selamat bekerja, Dokter Kim.” Lalu ia berlalu, meninggalkan aroma samar dari parfum bunga segar dan satu pertanyaan besar di kepala Seokjin:
Kenapa Marrie membawa Hyuka?
***
Sementara itu, di kamar apartemen kecil yang hangat namun terasa lebih sunyi pagi ini, Eungi menghela napas panjang. Kedua kakinya ia lipat, duduk bersila di atas tempat tidur. Ia baru saja meletakkan novel romansa yang sejak pagi tadi coba ia nikmati, tapi entah kenapa tidak satu pun halaman bisa menenangkannya.
“Bagus, tokohnya jatuh cinta lagi,” gumamnya sinis. “Padahal diselingkuhi di bab tiga.”
Ia meraih ponsel dari nakas, memandangi layar dengan tatapan bimbang. Beberapa kali ia membuka aplikasi pesan, lalu menutupnya lagi. Ia bahkan sempat menulis: Bagaimana kabar Hyuka hari ini?—dan langsung menghapusnya.
“Kenapa aku seperti ini sih?” lirihnya. “Aku bukan siapa-siapa.”
Tapi tetap saja, perasaannya tak tenang. Sejak tadi pagi, setelah mengirimkan pesan singkat pada Hoseok bahwa ia tidak bisa datang, hatinya tak berhenti gelisah. Bukan hanya karena ia merasa bersalah meninggalkan Hyuka, tapi juga karena ... ia memikirkan Hoseok. Lebih dari yang seharusnya.
Suaranya kecil saat bergumam lagi, “Apa Hyuka sama Paman Hwang? Atau ... jangan-jangan Hoseok bawa dia ke kantor?”
Jantungnya berdetak tak karuan ketika akhirnya ia membuka kontak atas nama Jung Hoseok.
“Aku nggak boleh peduli, aku harus menjaga jarak,” bisiknya. Namun, jarinya sudah terlanjur menekan ikon panggilan.
Nada sambung terdengar cukup lama, hingga ia hampir menutup kembali. Tapi suara itu akhirnya muncul, berat dan sedikit lelah. “Halo?”
“Dengar,” kata Eungi cepat, tidak ingin memberi kesempatan Hoseok berbicara lebih dulu. “Aku hanya ingin tahu ... Hyuka. Dia sekarang bersama siapa?”
Hening beberapa detik. “Dia bersama Marrie,” jawab Hoseok akhirnya.
Seketika, dada Eungi terasa sesak.
“M-marrie?” Suaranya goyah. “O-oh. Itu bagus. Syukurlah.” Ia berusaha terdengar netral, tapi suaranya justru terdengar pecah. Ada jeda sunyi, sebelum kalimat berikutnya meluncur lirih, hampir seperti bisikan. “Sepertinya ... kamu sudah tidak butuh bantuanku lagi.”
Tangannya gemetar saat ia menurunkan ponsel dari telinga. Matanya memanas. Tanpa ia sadari, satu tetes air mata mengalir pelan di pipinya. []
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Moment [JH]
FanfictionJung Hoseok pernah percaya pada cinta... sampai seseorang yang ia cintai memilih pergi. Sejak saat itu, senyum cerianya tak lagi sama. Ia lebih banyak diam, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar pulih. Sementara Kim Eungi, gadis berhati hangat...
![Beautiful Moment [JH]](https://img.wattpad.com/cover/146188955-64-k676195.jpg)