Hujan turun tak henti sejak beberapa waktu lalu, mengetuk kaca mobil seperti irama gelisah yang tak kunjung reda. Di dalam kabin yang sunyi, hanya suara rintiknya yang terdengar. Kim Eungi bersandar di jok, menatap kosong ke luar jendela, tapi pikirannya justru berkecamuk.
Kenapa dia harus berada di sini, terjebak bersama Jung Hoseok dalam keheningan yang menyiksa? Apakah ia menyesal karena meninggalkan Hyuka sendirian dengan wanita asing itu? Atau karena ia datang bersama pria yang bahkan tak berusaha menjelaskan apa pun sejak tadi?
Menyebalkan. Bahkan diamnya Hoseok membuat pikirannya dipenuhi pertanyaan tak berujung. Bagaimana mereka bisa bertemu? Di mana? Untuk apa wanita itu—Jeon Marrie—mendadak datang menemui Hoseok dan anak mereka? Bahkan menyebut nama wanita itu sebagai ibu kandung Hyuka membuat perutnya mual. Ketakutan dan ketidaknyamanan menyeruak tanpa permisi.
“Omong-omong,” Eungi akhirnya memecah hening, suaranya tajam, “kenapa kamu dengan entengnya membiarkan wanita itu berdua dengan Hyuka di rumah?”
Hoseok menoleh sekilas, ekspresinya datar. “Apa salahnya?”
Nada yang terlalu ringan itu memantik api di dada Eungi. “Dia orang asing, Hoseok! Bagaimana kalau dia menyakiti Hyuka?”
“Kamu terlalu banyak berhalusinasi. Berhentilah. Itu tidak sehat.”
“Hoseok-ssi,” ujar Eungi, nada suaranya turun setengah oktaf, tapi lebih tajam. “Aku serius.”
“Aku juga.” Kali ini Hoseok menatapnya lekat, dengan sorot yang tidak bisa dianggap main-main. Wajahnya tegas, lebih menakutkan dari ekspresi para bapak-bapak pemarah yang sering Eungi lihat di jalanan. “Marrie itu ibunya. Tidak mungkin dia berniat menyakiti anaknya sendiri.”
Eungi terkekeh pelan, sinis. “Ibu kamu bilang?” gumamnya, lalu menggeleng-geleng tak percaya. “Ibu macam apa yang tega meninggalkan anak dan kekasihnya begitu saja? Kamu lucu sekali, Hoseok. Hahaha.”
Tawanya hambar, dibuat-buat. Itu bukan tawa bahagia—melainkan cermin dari kekacauan di dalam dadanya. Ia sendiri tidak tahu, apakah yang lebih menyakitkan: kehadiran Jeon Marrie, atau kenyataan bahwa dirinya merasa terancam karena itu?
Hoseok mendesah panjang. Matanya tak lagi menatap Eungi, seolah ingin menghindari kobaran masa lalu yang perlahan membakar udara.
“Tidak bisakah kamu diam saja dan tutup mulutmu itu?” katanya akhirnya, nadanya tertahan, tapi sarat tekanan. “Setidaknya tahan sampai kita sampai di tempat kerjamu.”
Eungi menatap tajam. “Kenapa? Kamu takut aku menyuarakan kebenaran?”
Hoseok menggertakkan giginya. “Kamu tidak tahu apa pun tentang aku dan Marrie. Jadi berhentilah menilainya buruk. Dia tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Untuk pertama kalinya, Eungi melihat Hoseok membentak—bukan karena kesal biasa, tapi karena membela wanita lain—ah, mantannya itu. Hatinya tercekat, antara takut dan sakit. Sungguh, Hoseok belum pernah seperti ini.
Selama ini, ia memang tidak pernah tahu cerita tentang Jeon Marrie. Tentang kenapa mereka berpisah, atau kenapa tiba-tiba Hoseok pindah dan muncul kembali dengan seorang bayi di pelukannya. Ia tidak pernah menuntut. Namun, sekarang, ia mulai meragukan segalanya.
“Waktu memang tidak cukup untuk mengenal seseorang lebih dalam,” ucap Eungi, pelan namun getir. “Aku mengerti.”
Suara itu nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat Hoseok membuang napas kesal. Hati Eungi seperti diremas. Matanya mulai memanas. Ia menunduk, menyembunyikan gejolak yang mulai mengaburkan penglihatannya. Ia butuh jarak. Butuh udara. Dan yang paling penting—ia harus menjauh dari Jung Hoseok.
“Berhenti di depan sana,” ucapnya tajam.
Tak ada respons.
“Aku nggak mau terus di mobil wanita yang nggak tahu malu dan sekarang datang semaunya!”
Tetap tak ada jawaban. Hoseok menatap lurus ke depan, pura-pura fokus pada jalan.
“Aku bilang berhenti, Hoseok-ssi!” seru Eungi lebih keras.
Mendadak mobil berhenti mendadak di sisi jalan yang sepi, membuat tubuh Eungi terhempas ke depan jika bukan karena sabuk pengaman.
“Apa kamu sudah gila?!” teriaknya, napas tersengal.
Hoseok tidak menjawab. Tangannya mencengkeram setir kuat-kuat hingga uratnya tampak menonjol.
Eungi menatapnya dengan jengah, lalu menyampirkan tasnya di bahu. “Permintaan kecil aja kamu nggak bisa pahami. Nggak heran kamu juga nggak pernah ngerti siapa Jeon Marrie sebenarnya.”
Hoseok masih diam, tapi ketegangan di rahangnya menjelaskan semuanya.
“Terkadang,” lanjut Eungi dengan suara gemetar, “orang yang buta bisa mengenali kebaikan dengan hatinya. Tapi tidak untuk yang buta karena cinta.”
Ia membuka pintu, lalu turun tanpa menoleh. Hujan langsung menyambut tubuhnya, membasahi rambut dan pakaian yang tak sempat ia lindungi. Pintu mobil dibantingnya dengan keras, dan beberapa detik kemudian mobil merah itu melesat pergi seperti anak panah lepas dari busurnya.
“Dasar Jung Hoseok bodoh!” teriaknya pada udara. “Bodoh! Kau dengar itu?!”
Ia menendang genangan air, memaki dengan emosi, membiarkan air hujan mengaburkan air matanya yang tak lagi mampu ia bendung. Tubuhnya kuyup, tapi itu tidak lebih dingin dari hatinya yang baru saja diguyur kecewa.
“Bodoh ... bodoh ... bodoh!”
Dan untuk pertama kalinya, Kim Eungi merasa benar-benar sendirian di tengah jalanan yang bahkan tidak tahu harus memihak siapa. []
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Moment [JH]
FanfictionJung Hoseok pernah percaya pada cinta... sampai seseorang yang ia cintai memilih pergi. Sejak saat itu, senyum cerianya tak lagi sama. Ia lebih banyak diam, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar pulih. Sementara Kim Eungi, gadis berhati hangat...
![Beautiful Moment [JH]](https://img.wattpad.com/cover/146188955-64-k676195.jpg)