Ramalan cuaca akhir-akhir ini tak bisa diandalkan. Baru tadi pagi pembaca berita berseru riang bahwa sore nanti akan cerah, tetapi yang terjadi malah sebaliknya—langit mencurahkan hujan deras, seolah mengguyur seluruh kota dengan tampungan air raksasa. Hoseok mendesah kesal, menatap langit kelabu dari balik atap halte. Payungnya tertinggal di loker kantor, dan sekarang ia terjebak di antara dingin, gerimis yang menampar-nampar angin, dan keengganannya untuk berlari pulang melewati seratus meter yang tersisa.
Bukan karena takut basah. Tapi ia tahu benar apa yang akan terjadi setelahnya—pakaian basah, cucian menumpuk, dan Eungi yang harus membereskan semua itu. Hoseok menunduk, menatap sepatu yang mulai lembap. Sudah terlalu banyak ia bebankan pada gadis itu akhir-akhir ini.
Ia melirik arlojinya. Sepuluh menit lagi. Seharusnya sekarang ia sudah tiba di rumah. Eungi pasti sedang gelisah menunggu. Apalagi gadis itu masih harus bekerja malam ini. Ia menghela napas berat, mendelik ke layar ponsel. Masih tidak diangkat. Entah Eungi sedang sibuk, atau diam-diam marah karena ia tak juga pulang.
Pikirannya masih dipenuhi tanya, saat suara klakson mengagetkannya. Sebuah mobil merah berhenti persis di depannya. Hoseok menoleh, dahi berkerut. Kaca mobil perlahan turun. Hatinya tercekat.
“Kamu butuh tumpangan?”
Perempuan cantik di kursi pengemudi tersenyum lebar, seolah mereka baru saja berbincang semalam. Wajahnya begitu familiar, tapi tetap membuat dada Hoseok mengencang. Ia tak menjawab. Bahkan tak bergerak.
“Ya! Ayo, masuklah. Aku memang ingin ke rumahmu juga,” lanjut perempuan itu.
Dunia seperti berhenti sebentar. Ke rumah? Dia?
***
Hujan semakin deras. Di ruang tengah, Hyuka sudah tertidur pulas di atas matras, tubuh mungilnya dibalut selimut bergambar kartun. Eungi ikut terlelap, memeluk anak itu dari belakang. Hoseok berdiri tak jauh dari mereka, memandangi dua makhluk kecil dan besar yang seolah tak tersentuh hiruk pikuk dunia luar.
Ia menaruh tas kerja pelan-pelan, lalu berjalan mendekat. Kartun Pororo masih menyala di layar televisi. Ia mengambil remote dari tangan Eungi dan mengecilkan suara pelan-pelan, nyaris tanpa bunyi.
Ada rasa haru yang membanjiri dadanya. Eungi pasti lelah. Wajahnya tampak tenang, meski tubuhnya pasti letih. Hoseok membungkuk, nyaris menyentuh rambut gadis itu ketika Eungi menggeliat pelan. Tangannya meraih tangan Hoseok secara refleks, sebelum matanya membuka perlahan.
“Kamu?!” serunya kaget, buru-buru duduk.
Ia menoleh ke jendela. Langit sudah gelap, hujan tak kunjung reda.
“Aish ... ponsel sialan! Alarmnya kenapa enggak bunyi, sih?”
Ia menggerutu sendiri, menepuk pipinya agar sadar sepenuhnya.
“Kamu tidur seperti kerbau, malah nyalahin benda mati,” sahut Hoseok sambil mendengus geli.
Eungi tak membalas. Ia hanya melotot kesal, bangkit dengan langkah oleng menuju wastafel, bermaksud menyiram wajahnya dengan air.
“Bersiaplah. Aku antar kamu ke tempat kerja,” kata Hoseok sambil mengeluarkan ponsel. “Aku pinjam mobil Paman Hwang.”
“Ah, enggak usah,” potong Eungi cepat. “Aku enggak pergi.”
Jari Hoseok terhenti di atas layar. Ia menoleh, menatap pantulan Eungi di cermin. Tak perlu bicara, wajahnya sudah penuh tanda tanya.
“Kalau kita pergi, siapa yang jaga Hyuka?” Eungi menjawab akhirnya. “Dia enggak bisa sendirian.”
“Biar aku saja.”
Sebuah suara asing menyelusup ke dalam ruang itu. Eungi refleks menoleh, wajahnya basah karena air yang baru disekakan. Penglihatannya sempat kabur, tapi begitu fokusnya kembali, ia nyaris tak bisa bernapas.
Seorang wanita berdiri di belakangnya. Tinggi semampai. Anggun. Cantik dengan kulit yang tampak terawat sempurna. Tatapannya lembut, namun asing. Eungi berbalik cepat, menatap wanita itu tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“K-kau … siapa?”
Perempuan itu tersenyum tenang.
“Aku Jeon Marrie,” ucapnya. “Ibunya Hyuka.”
Hening. Dunia seolah membeku. Eungi hanya bisa mematung dengan rahang terkatup dan mata melebar. Hoseok—pria yang selama ini begitu ia percayai—memalingkan wajah, entah karena enggan menjelaskan, atau memang tak punya kata-kata.
***
“Sudah lama, ya. Rasanya bertahun-tahun sejak terakhir kali kita bertemu,” ujar Marrie di dalam mobil, memecah keheningan.
Hoseok bersandar di jok, menoleh sekilas. Suaranya terasa jauh, asing, meski lembut.
“Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja,” jawabnya datar.
Ia tak tahu apa yang dirasakannya sekarang. Senang? Aneh. Sedih? Mungkin sudah terlalu kebal untuk itu. Yang ia tahu, ini tidak nyaman.
“Syukurlah.” Marrie menarik napas panjang. “Bagaimana dengan bayi kita?”
Hoseok menoleh cepat. Dahi mengerut. Matanya menajam, menatap profil perempuan yang kini menggenggam kemudi.
“Namanya Hyuka. Dan dia juga baik-baik saja.”
“Hyuka .…” Bibir Marrie melengkung. “Nama yang bagus. Selama ini aku cuma memanggilnya Boni. Wajahnya manis sekali, seperti boneka.”
“Ya. Putraku memang manis. Dan tampan.”
“Oh tentu. Dia juga putraku, kan?”
Hoseok memilih diam. Kata-kata Marrie seperti tamparan ringan yang menyisakan nyeri lama. Ya, dia memang ibunya. Wanita yang melahirkan Hyuka. Tapi bertahun-tahun ini, ia yang mengganti popok. Ia yang menemani saat anak itu demam tengah malam.
Meski begitu, Marrie tetap punya hak. Hoseok tak bisa menepis itu.
Namun, yang tak bisa ia abaikan adalah satu pertanyaan yang membakar tenggorokannya sejak tadi.
Untuk apa dia kembali?
Kenapa sekarang? []
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Moment [JH]
FanfictionJung Hoseok pernah percaya pada cinta... sampai seseorang yang ia cintai memilih pergi. Sejak saat itu, senyum cerianya tak lagi sama. Ia lebih banyak diam, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar pulih. Sementara Kim Eungi, gadis berhati hangat...
![Beautiful Moment [JH]](https://img.wattpad.com/cover/146188955-64-k676195.jpg)