Kim Eungi menatap langit malam yang mulai berubah kelam saat langkahnya menapaki tanjakan kecil menuju rumah. Angin semilir meniup anak-anak rambutnya yang terurai dari cepol asal-asalan. Pundaknya terasa berat, bukan hanya karena tote bag yang memuat belanjaan diskon pegawai dari mini market tempatnya bekerja, tapi juga karena beban hari ini.
Ia berhenti sejenak di depan rumah mungil berdinding bata merah itu. Menarik napas dalam-dalam, lalu memukul-mukul ringan bahu kirinya yang pegal. Mata terpejam. Layar gelap langsung memutar ulang apa saja yang ia lalui sejak pagi.
Kasir mini market memang bukan pekerjaan yang glamor—apalagi dengan gaji pas-pasan dan shift panjang. Namun, Eungi tidak pernah mengeluh. Setidaknya ia bisa berdiri di atas kaki sendiri. Walau kadang, rasanya seperti lututnya akan copot karena naik turun tangga rumah dan harus mampir ke tempat Jung Hoseok sebelum pulang.
“Hanya sebentar,” katanya tadi pada dirinya sendiri. “Hanya bantu menenangkan Hyuka yang rewel.”
Tapi “sebentar” itu berubah jadi satu jam lebih. Dan satu jam dengan bayi berusia satu tahun yang sedang tumbuh gigi, tidak bisa dianggap enteng.
Eungi tahu, Hoseok tidak pernah minta banyak. Laki-laki itu hanya butuh bantuan kecil—kadang untuk menidurkan anaknya, kadang untuk menenangkan dirinya sendiri. Sejak adik dan bibinya pindah ke Gangnam mengikuti suami baru sang ibu, Hoseok hidup sendiri di Seoul. Sendiri—dengan bayi yang dititipkan takdir padanya.
Sebagai sahabat, Eungi tak punya hati untuk menolak.
“Ibu pengganti,” begitu orang-orang menjulukinya. Bahkan ibunya sendiri ikut-ikutan menyebutnya begitu dengan nada menggoda. Namun, bukan itu yang membuat Eungi risih.
Yang membuatnya risih adalah … pertanyaan berikutnya.
“Kapan kamu punya pasangan?”
Dan benar saja.
Baru saja Eungi membuka pintu rumah, aroma sup rumput laut menyambutnya bersama suara khas sang ibu dari dapur, “Kamu tidak lelah terus-menerus mengurus anak orang, Eungi? Padahal kamu sendiri belum tentu akan punya anak kalau terus begini.”
Eungi hanya meringis. Ia mengganti sepatunya, lalu duduk di kursi makan, meraih gelas air putih yang sudah tersedia seperti biasa.
“Tadi kamu dari rumah Jung Hoseok lagi?”
“Hmm,” gumam Eungi sambil meneguk air.
“Dia kerja sampai malam?”
“Dia begadang menyusun proposal proyek freelance katanya. Tapi Hyuka nggak mau tidur kalau bukan aku yang gendong.”
Seo Jung, sang ibu, menyipitkan mata. “Bayi itu mulai mirip anakmu sendiri, tahu?”
Eungi mendengus sambil menenggak air terakhir. “Ibu, jangan mulai .…”
“Lalu kapan kamu kenalkan pacar ke Ibu?” potong Seo Jung, kini duduk di seberang meja. “Ibu khawatir, kamu ini ... masih normal, bukan?”
Glek.
Eungi tersedak. Air putih yang belum sempat ditelan malah memenuhi tenggorokannya.
“Ibu!” protesnya, batuk-batuk sambil menepuk dadanya sendiri. “Dari mana Ibu dengar hal gila itu?!”
“Dari Kak Jin. Katanya kamu terlalu nyaman hidup tanpa laki-laki sampai dia curiga,” jawab sang ibu santai.
“Ah, sialan itu Kak Jin! Mulutnya harus dijahit!” Eungi mencibir. “Dia tuh asal ngomong aja. Tentu saja aku masih normal. Mana mungkin—”
“Kalau begitu, buktikan.” Seo Jung menyodorkan sebuah amplop merah muda dari kantong jaketnya. “Datanglah ke pesta ulang tahun teman sekolahmu itu. Siapa tahu kamu bisa bertemu pria normal dan... jatuh cinta.”
Eungi memelototi amplop itu seakan-akan itu adalah surat kutukan. “Dari orang yang sama?”
“Iya. Katanya kalian dulu cukup akrab.”
“Huh. Akrab apanya. Dia bahkan—” Eungi menghela napas. Dadanya mendadak terasa sesak. “—Dia bahkan salah satu alasan aku dibully dulu, Ibu.”
Seo Jung terdiam.
Tangan Eungi mengepal di atas meja. Memori itu kembali, begitu nyata.
Suara-suara tawa kejam. Pesan-pesan menyakitkan. Komentar tentang penampilan fisik, tubuhnya, bahkan cara dia berjalan. Semua dimulai dari satu celetukan kecil... dari “teman” itu.
“Aku belum siap bertemu dia. Dan tidak tertarik.”
“Ibu hanya ingin kamu membuka diri lagi, Eungi.”
“Aku sudah membuka diri, Bu ... pada anak orang lain, rumah orang lain, bahkan pekerjaan yang tidak disukai banyak orang.” Suaranya mengecil, bergetar. “Tapi kalau harus membuka diri untuk jatuh cinta? Aku belum sanggup.”
Sunyi menggantung sejenak di ruang makan kecil itu.
Kemudian, Eungi menatap ibunya dalam-dalam. “Ibu takut aku jatuh cinta sama Hoseok, kan?”
Seo Jung mengerjap, tertangkap basah. “Ibu ... hanya ingin kamu bahagia. Bukan menjadi cadangan dalam kisah orang lain.”
Eungi tersenyum miris. “Tenang, Bu. Aku nggak sebodoh itu. Aku tahu siapa yang masih dicintai Hoseok—dan itu bukan aku. Itu ibunya Hyuka. Dan mungkin ... akan selalu begitu.”
Seo Jung membuka mulut, hendak berkata sesuatu, tapi akhirnya hanya mengangguk pelan.
Hening kembali.
Tapi yang berbeda, kini ada pengertian di sana. Bukan paksaan. Bukan dorongan.
Hanya ibu dan anak perempuan yang sama-sama pernah terluka oleh cinta. Sama-sama ingin percaya lagi, tapi belum menemukan jalannya.
Eungi berdiri, mengambil amplop itu dan menatapnya sejenak sebelum meletakkannya di meja. “Terima kasih, Bu. Tapi aku benar-benar nggak ingin datang.”
Seo Jung mengangguk, meski wajahnya terlihat kecewa. “Baiklah. Tapi jangan salahkan Ibu kalau tiba-tiba menjodohkanmu dengan anak tetangga sebelah yang kuliah hukum itu, ya.”
Eungi tertawa kecil, akhirnya. “Hah! Yang pakai earphone 24 jam sehari itu? Jangan-jangan dia bahkan nggak tahu suara sendiri kayak apa!”
Seo Jung ikut terkekeh. “Dia baik kok. Pintar masak juga.”
“Hmm, kalau begitu ... biar aku nilai dulu dari masakannya.”
Mereka tertawa bersama, dan untuk sesaat, beban di bahu Eungi sedikit lebih ringan. []
Bagaimana warga namaste 🙏???
Spill komentar kalian!!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Moment [JH]
FanfictionJung Hoseok pernah percaya pada cinta... sampai seseorang yang ia cintai memilih pergi. Sejak saat itu, senyum cerianya tak lagi sama. Ia lebih banyak diam, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar pulih. Sementara Kim Eungi, gadis berhati hangat...
![Beautiful Moment [JH]](https://img.wattpad.com/cover/146188955-64-k676195.jpg)