“Hi, apa kabar?”
Suara itu terdengar ringan, namun cukup untuk membuat langkah Eungi terhenti. Matanya membulat saat menyadari siapa pemilik suara itu. Seluruh tubuhnya seolah dibekukan waktu. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena rindu, tapi karena luka lama yang kembali menganga.
Di hadapannya, berdiri Kim Taehyung. Pemuda yang dulu sempat mengisi relung hati Eungi—lalu menghancurkannya tanpa ampun. Kehadirannya kini, begitu dekat, nyaris membuat Eungi sesak oleh kenangan yang menyakitkan.
Mereka hanya berdiri saling menatap. Eungi berusaha keras menguasai diri, tapi tangannya gemetar. Dalam sepersekian detik, semua memori masa SMA menyerbu: cemoohan, hinaan, rasa malu. Ia ingat bagaimana dulu ia disudutkan hanya karena menyukai Taehyung. Bahkan pemuda itu sendiri—yang kini berdiri dengan senyum kecil di bibir—ikut melukai hatinya kala itu.
Eungi mengalihkan pandangan, menelan pahit rasa getir yang muncul. Ia ingin pergi. Sekarang juga. Namun saat ia berbalik, tangan Taehyung lebih cepat menarik pergelangan tangannya.
“Eungi-ya, tunggu. Tolong, dengarkan aku dulu.”
Tanpa kata, Eungi menepis tangan itu. Tatapannya tajam, penuh luka yang belum sembuh.
“Untuk apa?” katanya dingin. “Aku tidak butuh penjelasanmu.”
“Aku tahu aku salah. Tapi tolong ... aku ingin menjelaskan. Aku ingin meminta maaf.”
Eungi tertawa pelan, getir. “Meminta maaf? Setelah bertahun-tahun? Setelah semua yang kamu lakukan?”
“Aku tahu ini terdengar gila. Tapi tiap tahun, aku selalu berharap kamu datang ke pestaku. Aku ingin melihatmu lagi ... ingin menebus semuanya.”
“Dengan apa? Dengan kata-kata manis seperti sekarang?”
“Dengan perasaan yang jujur.”
Mata Eungi menyipit curiga. “Perasaan?”
Taehyung menatapnya dalam. “Aku menyukaimu, Eungi. Sejak dulu. Tapi aku pengecut. Aku takut diejek, takut kehilangan gengsi. Jadi aku berpura-pura membencimu. Aku salah besar.”
Seketika ruangan seakan menghilang dari radar kesadaran Eungi. Hanya suara detak jantung dan nafasnya sendiri yang terdengar.
“Jangan bercanda. Kamu menyukaiku? Setelah kamu menjadikan aku bahan tertawaan?”
“Karena aku bodoh.” Taehyung meraih pundaknya. “Aku malu. Tapi sekarang aku ingin jujur. Aku masih menyukaimu.”
Dengan cepat Eungi menepis tangannya lagi. “Sudah cukup. Aku bukan gadis polos yang bisa kau permainkan lagi.”
Tamu undangan mulai melirik. Beberapa bahkan diam-diam merekam dengan ponsel. Eungi merasa tercekik oleh sorotan itu. Ia harus pergi.
“Sudah selesai?” katanya tegas. “Kalau begitu, permisi.”
Tanpa menoleh lagi, ia melangkah keluar dari pub itu. Langkahnya cepat, seperti ingin meninggalkan masa lalu yang menjeratnya kembali.
***
Eungi duduk di kursi kayu tua di sebuah kedai kecil, sendirian, ditemani segelas soju. Ia tak bisa menahan rasa sesak yang mendera. Segelas berganti dua, lalu tiga. Ia tak peduli.
“Bodoh. Kenapa aku datang ke pesta itu? Kenapa harus ketemu dia?” gerutunya.
Ia mulai bergumam tak jelas, wajahnya memerah karena mabuk.
“Kim Taehyung. Dasar kodok sok ganteng. Seharusnya aku lempar kamu ke rawa!”
Ia mendengus. Kepalanya berat, pikirannya buram. Ingatannya mulai kabur.
“Semua laki-laki sama aja. Menyebalkan.”
Tiba-tiba kepalanya jatuh ke meja. Ia sempat mengaduh pelan, lalu tertidur di sana, dengan wajah tertutup lengannya.
***
“Ah ... kepalaku ...”
Eungi mengerang. Cahaya matahari menembus tirai jendela, menyilaukan matanya. Ia mengangkat kepala dengan susah payah dan memandang sekeliling.
Kamar ini ... kamarnya sendiri?
Lalu terdengar suara seseorang membuka gorden. “Bagus. Akhirnya kamu bangun juga.”
Eungi mengenal suara itu. “Ka-kakak?”
Seokjin menghampiri dengan wajah kesal.
“Kamu ini benar-benar keterlaluan. Mabuk sampai gak sadar apa-apa. Gimana kalau ada yang jahat padamu?!”
Eungi mengernyit, mencoba mengingat. “Kamu yang bawa aku pulang?”
Seokjin terdiam. Belum sempat menjawab, seseorang masuk ke dalam kamar.
“Maaf, aku kesulitan cari gula di dapur. Boleh minta bantuannya sebentar?”
Suara itu membuat Eungi refleks menoleh.
“KAMU?!”
Laki-laki yang pernah ia lihat di minimarket itu berdiri dengan senyum polos, mengenakan kaus rumah yang kebesaran.
“Hi, selamat pagi!” katanya ceria.
Eungi hampir menjatuhkan bantal.
“APA YANG KAMU LAKUKAN DI RUMAHKU?!”
Seokjin menghela napas panjang. “Tenang dulu. Jungkook yang membawamu pulang semalam. Untung dia datang ke kedai tepat waktu.”
Eungi menatap orang itu dengan bingung dan sedikit panik.
“Jungkook?” Eungi jelas baru tahu namanya, tapi dia sudah ada di rumahnya sekarang.
Jungkook mengangkat bahu. “Aku cuma enggak tega lihat kamu sendirian, tergeletak begitu. Jadi kupanggil kakakmu.”
Eungi merasa pipinya panas. Campuran antara malu, bingung, dan ... masih marah.
Jungkook mendekat, lalu berbisik, “Tapi ngomong-ngomong, kamu tetap cantik saat mabuk.”
Eungi mengambil bantal dan melempar ke wajahnya. “KELUAR!”
Sementara Seokjin terkekeh di belakang, Jungkook hanya tergelak sambil mundur pelan. “Baik, baik. Tapi sarapan sudah siap di dapur, Nona Pemabuk.”
Pintu kamar menutup. Sunyi sesaat. Lalu Eungi menyandarkan diri di bantal dan mengeluh.
“Dunia memang kejam.”
Tapi, entah mengapa ... sudut bibirnya perlahan terangkat. []
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Moment [JH]
Fan-FictionJung Hoseok pernah percaya pada cinta... sampai seseorang yang ia cintai memilih pergi. Sejak saat itu, senyum cerianya tak lagi sama. Ia lebih banyak diam, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar pulih. Sementara Kim Eungi, gadis berhati hangat...
![Beautiful Moment [JH]](https://img.wattpad.com/cover/146188955-64-k676195.jpg)