Moment 23

403 85 21
                                        

Lebih dari sekadar marah, Eungi merasa dirinya baru saja terhempas dari tempat paling tinggi—dan jatuh dengan keras ke tanah realita yang dingin. Kepalanya masih berdengung, seperti tak percaya bahwa dirinya bisa menjadi sehancur ini hanya karena satu kalimat sederhana dari seseorang yang bahkan belum tentu menyadari keberadaannya sepenuh hati.

Bodoh. Ya, barangkali itu memang sebutan paling tepat untuk dirinya. Sejak dulu.

Ia tertawa getir dalam hati. Bukan sekali dua kali ia mencoba meyakinkan diri bahwa perasaannya pada Hoseok tidak akan menjadi luka. Tapi malam ini, ketika rasa itu kembali menabrak kenyataan, Eungi seperti ingin menampar dirinya sendiri. Cinta yang ia simpan begitu hati-hati, diam-diam berharap bisa tumbuh menjadi sesuatu yang indah, ternyata selama ini hanya ilusi sepihak.

Merrie kembali.

Dan bukan hanya kembali. Wanita itu datang sebagai seseorang yang jauh lebih kuat dari status masa lalu—seorang ibu dari anak yang Eungi cintai seperti darah daging sendiri. Bagaimana bisa ia bersaing? Dengan siapa? Untuk apa? Ia bahkan tidak pernah punya tempat pasti di hidup Hoseok.

Ia menghapus air matanya cepat-cepat, bersamaan dengan langkah Jungkook yang menghampirinya dari belakang. Namun, bukannya meredakan sesak di dada, kehadiran lelaki itu malah menambah panas yang mendidih dalam kepalanya.

“Lepas,” desisnya pelan, tapi tegas. Tangannya masih digenggam erat oleh Jungkook.

“Eungi, tolong—”

“Aku bilang lepas!” kali ini suaranya meninggi. Amarahnya bukan karena Jungkook, tapi ia perlu tempat untuk meluapkan semuanya, dan sayangnya, laki-laki ini ada di waktu dan tempat yang salah. “Jangan sok baik. Kamu dan kakakmu sama saja. Orang kaya yang bisa melakukan apa pun seenaknya.”

Jungkook mengernyit. Ia tak melepas genggamannya.

“Apa yang kamu maksud? Aku bukan seperti itu, dan kamu tahu itu. Aku mencintaimu, Eungi. Aku benar-benar peduli.”

“Omong kosong.” Napas Eungi memburu, tidak stabil. Ia lelah. Bukan hanya secara fisik, tapi juga hati dan pikirannya. “Sudah cukup. Jangan dekati aku lagi.”

Ia mendorong dada Jungkook dengan kedua tangannya. Sekuat tenaga. Dan kali ini, tautan mereka benar-benar terlepas.

Sejenak tak ada yang bicara. Hanya angin malam yang berhembus perlahan, membawa suara dedaunan yang berdesir seperti tahu apa yang tengah terjadi. Eungi menunduk, matanya memanas lagi. Sementara Jungkook hanya berdiri, menatapnya dengan kecewa yang tak bisa ia sembunyikan.

“Aku tidak akan membiarkanmu sendirian,” ucapnya lirih.

Eungi hanya menghela napas berat. Ia tidak ingin berdebat lebih jauh. Tidak malam ini.

***

Di tempat berbeda, ruangan klinik anak masih berbau alkohol dan aroma antiseptik yang tajam. Di atas ranjang mungil berwarna putih lembut, Hyuka meringkuk lemas, sesekali memainkan pesawat-pesawat kecil yang tidak lagi membuat matanya bersinar seperti biasanya. Wajahnya lesu, matanya sembab.

Dokter selesai memeriksa dengan seksama, lalu menatap Hoseok dan Marrie secara bergantian.

“Kondisi Hyuka sudah membaik. Tidak perlu rawat inap lagi. Tapi tolong pastikan dia cukup istirahat, dan minum obat sesuai jadwal.”

“Terima kasih, Dokter,” Marrie menjawab dengan anggukan sopan.

Hoseok berdiri di sisi lain tempat tidur, mengelus punggung kecil putranya. Ia lega, namun ada bagian dari dirinya yang terasa hampa.

Marrie mendekat dan menyodorkan tangan, mencoba menggendong Hyuka. “Ayo, sayang. Kita pulang, ya. Ibu gendong.”

Namun, Hyuka menggeleng lemah, matanya berkaca-kaca. Ia memalingkan wajah, lalu mengangkat tangannya ke arah Hoseok.

“Bi-bi-bi-bu ....”

Hoseok terdiam. Ia menatap mata anaknya, dan tahu pasti—Hyuka sedang mencari Eungi. Belakangan ini, bayi itu memang mulai menyebutnya 'Bibu', mungkin singkatan polos dari 'ibu' versi balita.

“Bi-bu ...,” rengeknya lagi, kali ini mulai terdengar gemetar. Tangannya terbentang pada Hoseok, dan dengan segera sang ayah mengangkat tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.

Marrie terdiam. Ada rasa getir yang menyelinap ke dalam dadanya, dan ia berusaha menutupinya dengan senyum kecil.

“Aku yang akan ambil resepnya di apotek,” ucapnya akhirnya, sebelum berbalik dan berjalan keluar.

Hoseok menepuk punggung Hyuka perlahan, membisikkan janji pelan, “Nanti kita ketemu Bibu, ya. Sekarang tenang dulu.”

Hyuka mengangguk pelan, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Hoseok. Anak itu terlalu kecil untuk paham dunia orang dewasa, tapi cukup peka untuk tahu siapa yang membuatnya merasa nyaman.

***

Di luar klinik, langit mendung menggantung, menambah beban pikiran Hoseok. Ia duduk di bangku tunggu, memangku Hyuka yang mulai terlelap. Pikirannya terus memutar kejadian semalam.

Ia menyesal. Sangat. Apa yang ia lakukan pada Eungi, cara ia membiarkannya turun dari mobil dalam hujan, membiarkannya sendirian... itu bukan dirinya. Tapi saat itu pikirannya begitu kacau. Marrie muncul tiba-tiba. Masa lalu menyeruak. Semuanya seperti berputar tanpa kendali.

Dan Eungi... gadis itu tidak layak menerima semua kekacauannya.

“Apa aku pantas memintanya kembali?” bisik Hoseok pada dirinya sendiri. Ia mengelus rambut Hyuka. “Kau pun merindukannya, ya?”

Hyuka menggumam dalam tidurnya, “Bibu ....”

Hoseok tersenyum pahit. “Aku juga.”

***

Di malam yang sama, Eungi duduk di halte tua dekat sungai Han, menggigil dalam dingin. Ia tak lagi menangis, tapi ada genangan air di matanya yang belum jatuh. Di sampingnya, kopi kaleng hangat yang baru saja dibeli dari mesin otomatis sudah setengah dingin.

Ia merasa sendirian. Tidak secara fisik, tapi emosional. Terlalu lama menyimpan perasaan. Terlalu lama berharap diam-diam.

Saat seseorang mencintaimu secara terang-terangan, seperti Jungkook, mengapa hatimu justru terpaut pada seseorang yang bahkan tidak pernah kamu tahu isi hatinya?

Eungi memejamkan mata. Angin malam menyapu wajahnya.

Mungkin ... sudah saatnya melepaskan.

Atau, mungkin ... ia hanya butuh waktu. []


Masih setia? Tunggu part selanjutnya.
Bye-bye!

Beautiful Moment [JH]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang