Moment 12

517 95 5
                                        

Malam sudah larut, angin dingin semilir menyapu helaian rambut Eungi yang dibiarkan tergerai. Ia berdiri di depan rumah Hoseok dengan jaket tipis yang terlalu kecil untuk melindungi rasa gelisah dalam dirinya. Sesekali ia mengecek jam tangan, lalu menatap jalanan gelap yang kosong. Detik berlalu, namun ia tetap bertahan di sana, menunggu.

Hingga suara mesin mobil yang familiar akhirnya memecah keheningan malam. Lampu depan menyapu halaman, dan mobil merah itu berhenti tepat di depan pagar. Dari balik kaca, Eungi melihat sosok yang membuat dadanya terasa sesak—Hoseok turun terlebih dulu, kemudian menyusul Marrie yang dengan hati-hati menggendong Hyuka yang sudah terlelap di bahunya.

Tiga sosok itu terlihat seperti lukisan keluarga yang bahagia. Terlalu utuh, terlalu harmonis. Untuk sesaat, Eungi membeku, menelan rasa yang bahkan tidak ia beri nama.

“Eungi?” Hoseok menghampiri. Nada suaranya rendah, terdengar seperti seseorang yang kelelahan tapi tetap mencoba bersikap ramah. “Kamu sudah lama di sini?”

Eungi mengangguk pelan. “Aku ingin bicara, bisa sekarang?”

Hoseok melirik Marrie sejenak lalu kembali menatap Eungi. “Boleh, tapi masuk dulu. Udara dingin tidak baik untuk Hyuka.”

Eungi hanya mengangguk sekali lagi dan mengikuti langkah mereka masuk ke rumah. Marrie tanpa banyak bicara menghilang ke kamar, sementara Hoseok mengambil tempat duduk di ruang tengah, menepuk sofa kosong di sampingnya.

“Ada apa?” tanyanya pelan. “Kamu terlihat serius.”

Eungi menarik napas dalam, mencoba meredam gemuruh di dadanya. “Mulai besok, aku akan kembali menjaga Hyuka.”

Hoseok sempat terdiam. Matanya menatap Eungi penuh tanda tanya. Namun, sebelum ia sempat menjawab, suara Marrie terdengar dari arah belakang.

“Kamu tidak perlu khawatir, Eungi-ssi,” katanya lembut, berdiri di ambang pintu kamar. “Aku bisa menjaganya. Dan sejujurnya… aku sangat senang bisa menghabiskan waktu dengan Hyuka. Dia sudah mulai nyaman berada di rumah sakit. Dia bahkan sudah punya beberapa teman kecil di sana.”

Eungi menoleh, mencoba tersenyum sopan, tapi tak sepenuhnya berhasil. “Aku tahu. Tapi aku juga punya tanggung jawab. Aku bukan hanya pengasuh Hyuka, aku sudah menjadi bagian dari hidupnya. Ini bukan soal jam kerja atau rasa senang.”

Tatapan mereka bertaut sejenak. Marrie terdiam, dan suasana ruangan perlahan menghangat dengan ketegangan tak terlihat.

“Kecuali …” sambung Eungi sambil melirik ke arah Hoseok, “kalau kamu memang ingin aku berhenti.”

Hoseok terhenyak. “Bukan itu maksudku .…”

“Kalau begitu biarkan aku kembali menjalankan tugasku.”

Hoseok mengusap wajahnya, seolah lelah dengan dilema yang mulai menyesaki ruang. “Kalian berdua … dengar, aku sangat menghargai kalian. Tapi ini bukan tentang memilih satu dan menolak yang lain. Hyuka bukan barang yang bisa diperebutkan.”

Eungi menunduk. Terselip perih di balik kata-kata itu, meskipun ia tahu maksud Hoseok bukan untuk menyakiti.

“Aku tidak pernah berpikir mengganti posisi kamu, Eungi,” lanjut Hoseok dengan suara yang lebih pelan. “Aku hanya … aku pikir Marrie butuh waktu bersama Hyuka. Tapi kamu benar, kamu punya peran yang tak tergantikan.”

Senyuman tipis muncul di wajah Eungi, tapi matanya tetap sayu. Ia mencoba menyembunyikan rasa lega yang diam-diam menyusup ke dalam hatinya.

“Kalau begitu,” potong Marrie, suaranya tetap tenang meski terdengar goyah, “aku pamit dulu. Terima kasih atas waktunya malam ini.”

Hoseok mengangguk dan mengantar Marrie sampai ke luar. Sementara itu, Eungi diam, berdiri di dekat meja makan, menatap kosong ke arah dapur.

Beberapa menit kemudian, Hoseok kembali. Saat mereka berpapasan di lorong rumah, Eungi berkata pelan, “Aku pulang dulu.”

“Eungi .…” Hoseok menahan langkahnya. “Kamu masih marah padaku?”

Gadis itu berhenti, namun tak menoleh. “Aku tidak marah. Aku hanya sedang belajar menaruh ekspektasi di tempat yang benar.”

Ucapan itu membuat Hoseok terdiam. Ia ingin berkata sesuatu, tapi lidahnya kelu. Dan sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, Eungi kembali melangkah.

“Selamat malam, Hoseok,” ucapnya, lembut namun berat. Kemudian pintu tertutup, meninggalkan keheningan yang menggantung di udara.

Eungi berjalan pulang di bawah langit malam yang bersih. Bintang-bintang seperti enggan turun menemaninya. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan dingin menyusup ke dadanya. Di satu sisi, ia tahu dirinya telah memperjuangkan sesuatu yang penting. Namun, di sisi lain, ia sadar bahwa perasaannya pada Hoseok … mungkin tak pernah benar-benar berada di tempat yang aman. []

Beautiful Moment [JH]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang