Moment 7

603 106 11
                                        

Sinar matahari menerobos tirai kamar Eungi, menciptakan pola cahaya yang menari di dinding. Namun, kehangatan pagi tak mampu menembus tubuhnya yang lemah. Keringat dingin membasahi pelipisnya, dan setiap gerakan terasa seperti beban berat.

Seo Jung, ibunya, masuk dengan langkah cepat, membawa nampan berisi air hangat dan handuk kecil. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.

“Sudah Ibu bilang berkali-kali, Eungi. Keluar saja dari pekerjaan itu dan cari yang lebih manusiawi jam kerjanya,” ucapnya sambil menatap putrinya yang terbaring lemah.

Eungi hanya mengangguk pelan, terlalu lelah untuk membantah. Dalam hatinya, ia tahu bahwa kelelahan ini bukan semata karena pekerjaan, tetapi juga karena pertengkarannya dengan Hoseok semalam. Hujan deras yang mengguyur mereka seakan mencerminkan badai dalam hatinya.

Seo Jung mengompres kening Eungi dengan lembut, mengukur suhu tubuhnya, lalu menyodorkan obat.

“Dan satu lagi,” lanjutnya, “Berhenti membantu Hoseok dan anaknya itu. Kamu ini sarjana, cari pekerjaan yang sesuai dengan gelarmu.”

“Ibu ....” Eungi mencoba berbicara, tapi suaranya nyaris tak terdengar.

“Tidak ada bantahan. Keputusan Ibu sudah bulat,” tegas Seo Jung sebelum beranjak keluar, meninggalkan Eungi yang menatap langit-langit dengan mata berkaca-kaca.

***

Sementara itu rumah kecil Hoseok sudah riuh oleh tangisan bayi. Tangis Hyuka membelah keheningan pagi dengan lantang. Hoseok, yang masih dalam kaus rumah dan celana training kusut, sibuk mondar-mandir dari kamar ke dapur. Rambutnya berantakan, dan kantung matanya semakin jelas terlihat.

“Hyuka, Ayah minta maaf. Susunya sebentar lagi, ya ...,” katanya sambil membuka botol susu dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia terlihat kewalahan, dan entah sudah berapa kali ia memeriksa air panas dari dispenser, memastikan suhunya tidak terlalu panas untuk bayi kecilnya.

Sambil berusaha menyendok susu formula ke dalam botol, Hoseok melirik ponselnya yang berbunyi pelan—satu notifikasi masuk. Dari Eungi.

Maaf, pagi ini aku nggak bisa datang.

Hoseok menatap layar ponsel itu lama. Tak langsung membalas. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menguasai dadanya. Semalam … ia terlalu emosional. Terlalu keterlaluan. Ia membentak Eungi, meninggalkannya sendirian di tengah hujan, tanpa payung, tanpa penjelasan, hanya karena … dirinya sedang kacau.

Pikirannya melayang ke momen semalam—wajah Eungi yang menahan kecewa, jaketnya yang basah kuyup saat turun dari mobil, dan ekspresi terluka yang berusaha ia sembunyikan. Hoseok memejamkan mata sejenak, menyesal. Eungi pasti marah. Dan itu sangat wajar.

Ia ingin membalas pesan itu. Namun, tidak, bukan lewat chat. Ia merasa permintaan maafnya pantas disampaikan secara langsung.

Tangis Hyuka kembali terdengar, mengembalikannya ke kenyataan. Hoseok segera memasang dot ke botol dan mencoba menenangkan putranya yang mulai rewel karena lapar. Namun, sebelum ia sempat menggendong Hyuka, pintu rumah diketuk. Dua kali. Ragu-ragu tapi jelas.

Dengan botol susu di tangan, Hoseok membuka pintu.

Dan di sana—berdiri seorang perempuan dengan jas dokter dilipat di lengannya, rambut dikuncir rapi, dan senyum seolah tak pernah pudar.

“Marrie?” Hoseok hampir tidak percaya.

“Pagi juga,” jawab Marrie santai, seolah kehadirannya adalah hal biasa. “Aku rasa kamu sedang butuh bala bantuan?”

Hoseok tidak langsung menjawab. Pandangannya masih pada Marrie yang kini sudah melangkah masuk tanpa menunggu undangan. Ia langsung menghampiri Hyuka yang masih menangis di ranjang kecilnya.

“Hyuka sayang, mama di sini. Ssshhh …,” bisiknya lembut sambil mengangkat bayi itu ke pelukannya. Dalam hitungan detik, tangisan Hyuka mereda. Hoseok hanya bisa mematung, terheran melihat betapa cepatnya bayi itu tenang dalam pelukan Marrie.

“Aku ... kaget kamu datang—lagi,” ujar Hoseok akhirnya.

Marrie menoleh sambil meminta botol susu. “Kamu pasti kerepotan. Aku cuma ingin membantu.”

Hoseok menyodorkan botol itu dan membiarkan Marrie menyuapi Hyuka. Ada perasaan campur aduk yang menyerang dadanya—lega, marah, bingung. Terutama saat melihat betapa Marrie terlihat sangat nyaman mengurus anak mereka. Ia datang begitu saja, seolah luka dan sejarah panjang mereka tidak pernah ada.

“Aku ingin mengganti waktu yang selama ini hilang,” ucap Marrie tiba-tiba, seperti bisa membaca pikirannya. “Aku tahu aku banyak salah. Tapi sekarang aku mau berusaha. Aku ingin jadi ibu untuk Hyuka. Kalau kamu izinkan … aku bisa bantu jaga dia saat kamu kerja.”

Hoseok menatap Marrie dengan ragu. Matanya menyipit. “Kamu kan kerja juga. Sibuk di rumah sakit.”

“Tenang,” Marrie cepat menanggapi. “Aku sudah atur semuanya. Di rumah sakit ada ruangan khusus, aman dan tenang. Asistenku juga bisa bantu jagain Hyuka kalau aku operasi atau sibuk. Aku janji, Hyuka akan aman.”

Hoseok menarik napas panjang. Ia tahu rumah sakit itu—milik kakek Marrie. Di sana jelas Marrie punya kuasa. Tidak ada alasan baginya untuk meragukan keamanan di sana. Namun, hatinya belum sepenuhnya yakin.

Saat ia kembali melihat Hyuka yang tenang, menyusu sambil menatap ibunya dengan mata bulatnya, Hoseok tahu—mungkin ini memang sesuatu yang harus ia beri kesempatan. Mungkin ada yang disebut ikatan batin itu. Meskipun lama tak bertemu, Marrie tetaplah ibu kandung anaknya.

Setelah menimbang, Hoseok akhirnya mengangguk pelan. “Baiklah.”

Senyum Marrie langsung mengembang. “Terima kasih. Aku nggak akan mengecewakan kamu. Atau Hyuka.”

Sementara Hoseok masuk kamar mandi untuk bersiap, Marrie terus sibuk bermain dengan Hyuka. Ia berbicara dengan suara lembut, memperlihatkan boneka tangan, dan membuat anak itu terkikik kecil. Melihat pemandangan itu dari balik pintu, Hoseok sempat terdiam. Mungkin ... ini awal dari sesuatu yang baru. Namun, ia belum tahu, apakah itu awal yang baik atau hanya jeda sebelum luka lama terbuka kembali.

Ketika mereka sudah siap dan akan berangkat ke rumah sakit, Marrie menggandeng tas perlengkapan bayi dan menatap Hoseok sambil tersenyum.

“Sebelum ke rumah sakit … gimana kalau kita sarapan dulu? Aku tahu tempat yang enak, nggak jauh dari sini. Kamu pasti belum makan, kan?”

Hoseok ragu sejenak, tapi Marrie menatapnya dengan ekspresi memohon.

“Anggap saja ... sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah mengizinkan aku kembali dalam hidup Hyuka.”

Dan seperti biasa, Hoseok tak bisa menolak permintaan dengan wajah semanis itu. Ia akhirnya mengangguk, dan mereka pun melangkah keluar bersama.

Langit pagi terlihat cerah. Namun, di dalam hati Hoseok, awan-awan kelabu semalam belum sepenuhnya pergi. Ia hanya berharap ... kali ini, semuanya akan lebih baik. []

Beautiful Moment [JH]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang