Moment 11

545 98 4
                                        

Semenjak keluar kamar dan bergabung di meja makan, Eungi belum juga mengeluarkan sepatah kata pun. Gadis itu duduk kaku, bibirnya mengatup rapat, pandangan matanya hanya terfokus pada mangkuk sup lobak berisi daging ayam yang mengepul hangat di depannya. Aroma kaldunya menguar harum, namun tak cukup menarik minat Eungi untuk sekadar mencicipinya. Apalagi setelah mengetahui siapa yang memasaknya.

Suasana pagi yang seharusnya hangat bersama keluarga justru terasa janggal baginya. Di sisi lain meja, pemuda yang telah membuatnya muntah karena terlalu banyak bicara semalam—Jungkook—duduk dengan santai, menyantap makanannya sambil sesekali mengobrol dengan Seokjin, kakaknya.

Percakapan mereka mengalir begitu lancar, layaknya dua sahabat lama yang baru bertemu kembali. Jungkook tertawa lepas ketika Seokjin melemparkan lelucon tentang kesibukan, dan Jungkook membalasnya dengan gurauan soal mahasiswa kedokteran yang gemar begadang. Sementara Eungi hanya duduk di sana, diam membeku. Tidak dengan Hoseok pun Seokjin seakrab ini, batinnya.

Bosan, Eungi menyentuh sendoknya lalu meletakkannya kembali. Ia berniat bangkit dari kursi, tetapi Seokjin lebih dulu memotong gerakannya. “Jangan pergi dulu sebelum kamu habiskan sarapannya,” ujarnya tegas. “Hargailah Jungkook yang sudah bersusah payah memasaknya.”

Eungi menghela napas panjang, lalu memutar bola matanya dengan gerakan khas yang menunjukkan kejengkelan. "Lagian siapa suruh dia masih ada di sini?"

Seokjin menoleh dengan cepat, lalu menepuk pelan bagian belakang kepala adiknya. “Ya!”

“Aduh!”

Wajah Eungi cemberut, dan ia melirik Jungkook yang dengan santainya tertawa pelan. Seokjin menggelengkan kepala, lalu berkata, “Kamu itu benar-benar tidak tahu terima kasih. Jungkook sudah menolongmu semalam sampai bajunya kena muntah, dan kamu malah begini?”

Eungi mendengus. “Kakak tidak tahu saja, dia itu sangat menyebalkan,” keluhnya sambil mengarahkan tatapan menusuk ke Jungkook. “Aku yakin dia punya maksud tersembunyi.”

“Kenapa kamu menuduhku sebelum mengenalku?” sela Jungkook santai. Ia mencondongkan tubuh sedikit, memperlihatkan senyum khasnya yang jenaka. “Kita pernah ketemu di mini market, lalu aku melihatmu bertengkar dengan Taehyung di pub. Setelah itu, kamu pingsan di taman, dan aku cuma kebetulan lewat. Aku hanya ingin menolong. Itu saja.”

“Kamu dengar, kan?” sahut Seokjin, mempertegas. “Dia lebih dewasa daripada kamu, Eungi.”

Eungi hanya mengalihkan pandangannya ke sisi lain ruangan. “Ck.”

Seokjin tertawa pelan, lalu menepuk punggung Jungkook. “Tapi aku harap kamu mau memaafkan adikku. Dia memang begitu pada awalnya, tapi kalau sudah kenal, dia manis kok.”

“Kakak!” seru Eungi tak terima, wajahnya memerah karena malu. Namun, kedua laki-laki itu justru tertawa lebih keras.

“Bercanda,” ujar Seokjin sambil mengangkat tangan sebagai tanda damai. “Kalau begitu, aku harus berangkat kerja. Ada jadwal operasi pagi ini.”

“Hyung dokter?” tanya Jungkook sambil berkedip beberapa kali, tak menyangka.

Seokjin mengangguk. “Dokter OBGYN di Rumah Sakit Seonghan.”

“Wow! Luar biasa. Setelah lulus nanti, aku juga ingin kerja di RS Seonghan,” kata Jungkook antusias.

Mata kakak beradik itu membelalak bersamaan. “Kamu calon dokter?”

“Tentu saja. Aku ingin jadi dokter sehebat ayahku.”

Seokjin menepuk pundaknya. “Semangat! Aku yakin kamu bisa.”

Sementara itu, Eungi mengamati diam-diam. ‘Calon dokter? Yang benar saja. Penampilannya saja seperti mahasiswa yang doyan tidur di taman,’ pikirnya sinis.

***

Siang menjelang, sinar matahari menyusup hangat melalui jendela ruang tengah. Eungi yang sudah selesai membersihkan rumah dan mandi, kini berdiri di ambang pintu ruang tamu, tangan di pinggang.

“Kapan kamu pulang?” tanyanya ketus pada Jungkook yang santai duduk di matras, menyantap cemilan sambil menonton drama.

“Kenapa kamu ingin sekali mengusirku?” Jungkook menoleh sekilas lalu kembali fokus ke layar TV.

“Pertama, kamu orang asing. Kedua, bukannya kamu punya kuliah, Ca-lon Dok-ter?”

“Hari ini aku libur.”

Eungi menghampiri. “Terserah, tapi pergilah dari rumahku.”

Jungkook bangkit berdiri. Kini mereka saling berhadapan, dan jaraknya terlalu dekat.

“Oke. Mungkin awal pertemuan kita kurang baik, tapi jujur, aku tertarik mengenalmu. Mau berteman denganku?” tanyanya sambil menjulurkan tangan.

Namun, sebelum Eungi sempat merespons, bel rumah berbunyi.

“Itu pasti kurir jjajangmyeon-ku!” Jungkook langsung berlari menuju pintu. Eungi hanya mampu menggeleng.

Begitu membuka pintu, Jungkook malah melongo. Orang di hadapannya tidak tampak seperti kurir. Ia mengenakan kemeja rapi dan celana bahan, wajahnya juga tidak asing.

“Kamu siapa?” tanya pria itu datar.

“Anda bercanda? Mana jjajangmyeon saya?” Jungkook merebut kantung keresek dari tangannya dan membuka isinya. “Hobakjuk?”

“Ada apa?” seru Eungi dari dalam. Ia menghampiri, dan seketika tubuhnya menegang. “Hoseok, kamu ….”

“Kamu mengenalnya?” Jungkook menoleh.

“Karena kamu sakit, aku membawakan hobakjuk,” ujar Hoseok singkat, kemudian tersenyum kecil. “Aku harus kembali ke kantor. Jaga dirimu.”

Tanpa menunggu jawaban, ia pun berbalik pergi.

Eungi tidak berkata apa-apa. Ia hanya memandangi punggung Hoseok yang menjauh, sambil menggenggam jemarinya sendiri.

‘Dia menyempatkan diri datang hanya untuk mengantar makanan. Jadi … Hoseok masih peduli padaku?’ []

Beautiful Moment [JH]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang