sembilan

13.5K 421 1
                                        

Bab 9

Dua minggu Rosela menjalani magang, ia merasa sangat tersiksa. Sudah jelas Luke sengaja mempersulitnya. Dari tugas yang masuk akal hingga aneh, ia lakukan. Seperti menyuruhnya mengambil berkas di rumah pria itu, membuatkan kopi bahkan berkeliling berbagai divisi hanya untuk mengantar sebuah kunci mobil yang Luke tinggalkan di parkiran.

Helaan nafas kasar, ia baru bisa duduk kembali di kursi kerjanya pukul dua. Bahkan Rosela melewati jam makan siangnya. Semua tak lepas dari Luke, tak ada yang bisa membantunya disini, Luke berada di tahta paling tinggi di kantor. Mereka semua tutup mata tak ingin mendapat masalah dari Luke. Amaryllis? Rosela tak ingin mengadu, lagipula belum tentu Amaryllis akan percaya dengan ucapannya. Luke saat bersama Amaryllis berbanding terbalik saat dengan Rosela. Ia tak ingin dicap sebagai gadis yang berlindung dibalik ketiak sahabatnya.

Rosela memijat kakinya yang pegal, merutuki Luke berkali-kali di hatinya. Mengusap perutnya yang berbunyi, ia tak mungkin melipir keluar atau ke kantin untuk mencari makan, sedangkan tugasnya sudah menggunung kembali.

"Mending buat teh hangat buat ganjel perut," ucap Rosela, ia melangkah menuju pantri yang berada di lantai yang sama. Meminum minuman manis bisa mengganjal perutnya sementara. Sekaligus menunggu jam pulang, semoga saja tak ada hal-hal yang menjebaknya untuk melewatkan makan lagi.

Rosela menyeduh teh dalam cangkir, lalu menambah dua sendok kecil gula. Ia membawa teh tersebut kembali lagi ke kubikelnya. Rosela kembali fokus pada tugas hariannya, dirinya memang diberi tugas harian yang sederhana, semua tetap dalam handle dan pengawasan.

Kantor akhir-akhir ini memang dua kali lebih sibuk dari biasanya. Minggu depan akan diadakan aniversary berdirinya perusahaan, sudah jelas acara besar itu akan menggelar pesta di sebuah hotel berbintang, dengan berbagai tamu undangan. Serta karyawan seluruh karyawan akan menghadiri pesta tersebut, termasuk anak magang sepertinya. Rosela tidak membayangkan seramai apa, karyawan saja sudah banyak.

Untung saja anak magang sepertinya tak perlu ikut pusing mengatur acara, mereka hanya diundang untuk datang memeriahkan acara.

Rosela kembali tenggelam dalam tugasnya, tak terasa jam pulang sudah tiba, satu persatu kubikel mulai ditinggalkan pemiliknya. Rosela meregangkan tubuhnya yang pegal, ia menatap sekitar yang mulai sepi.

Rosela meraih tasnya, ia akan mencari makan terlebih dahulu sebelum kembali ke kosannya tercinta.

Saat berada di lobi kantor Rosela melihat Roman yang tengah berdiri sambil menatap ponsel. Rosela menghampiri pria itu, ia menepuk bahu Roman untuk menarik atensinya.

"Nungguin siapa lo?" Tanya Rosela penasaran.

"Nungguin lo," balas Roman dengan candaan.

"Boong lo kelihatan, nungguin Amary, ya?"

"Iya, siapa lagi coba. Katanya tadi mau ke toilet bentar. Lo baru balik?"

"Iya, tugas gue baru kelar tadi. Bayangin gue seharian dikerjain kesana kemari buat ambil ini itu, capek kaki gue," keluh Rosela.

"Ya lo protes, jangan mau ngerjain yang bukan jobdesk lo, atau lo mau gue bantu protes." Roman menawarkan bantuannya.

"Gak dulu, gue masih sayang nilai. Mau lulus cepat, lagian kita anak magang, mana bisa semena-mena protes. Lo mau nilai gue ditahan," balas Rosela. Mereka hanya magang, kekuasaan penuh masih ada ditangan atasan perusahaan.

"Kita bisa minta tolong Amary, buat bilang ke kakaknya, ringanin kerjaan lo. Lo juga bisa bilang siapa pegawai yang ganggu lo," saran Roman. Tanpa tau jika sosok yang mempersulitnya adalah Luke.

"Gak dulu, gue gak mau cari perkara. Bisa magang disini aja gue harusnya bersyukur. Gue gak mau banyak tingkah." Mengabaikan saran Roman yang tak bisa memberikannya solusi.

Rosela (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang