tiga puluh lima

10.1K 355 28
                                        

BAB 35

Sepulang kelas Kanna mengajak Rosela ke pantai, sekalian malam mingguan. Sebelum itu, ia membawa Rosela mampir ke rumahnya. Pria itu lupa membawa camera miliknya. Ia tak mungkin melewatkan moment ini tanpa mengabadikannya.

Setibanya kendaraan Kanna di rumah, pria itu mengajak Rosela untuk masuk sekalian mengenalkan pada Mamanya. Kebetulan wanita kesayangannya itu sedang ada di rumah.

"Ini gue gak masalah ikut masuk?" Tanya Rosela. Ia melihat Rumah Kanna yang cukup besar. Meski lebih besar kediaman Canavaro. Perasaannya sedikit tak.nyaman jika berurusan dengan orang-orang kaya. Pasalnya tak semua orang sebaik keluarga Canavaro yang menerima manusia dengan berbagai latar belakang.

"Santai aja, Mama gue baik kok." Kanna berucap dengan bangga. Lalu menggandeng tangan Rosela untuk masuk kedalam.

"Mah, Kanna pulang." Kanna memberi salam pada Mamanya. Kanna memberi kecupan hangat pada pipi wanita yang telah melahirkannya tersebut.

"Sayang, kamu baru pulang? Capek gak kuliahnya?" Tanya Marianne Evesa—ibu dari Kanna. Wanita berpenampilan glamor tersebut terlihat sangat menyayangi putra sematawayangnya.

"Kanna gak capek, Mah. Oh, ya, Kanna bawa teman." Kanna menggandeng Rosela mendekat untuk memperkenalkan perempuan itu.

"Teman atau teman, nih? Tumben kamu bawa cewek," balas Anne, menatap Rosela dengan penuh penilaian.

"Soon, girlfriend doain, Mah. Kanna keatas dulu mau ambil barang." Kanna memberi ruang untuk keduanya.

"Gue keatas dulu," pamit Kanna yang tak sadar Rosela sangat tegang.

"I-iya." Rosela mengangguk kaku. Melihat pria itu yang sudah menghilang.

Wajah ramah Anne menghilang bersamaan dengan fisik putranya yang juga sudah pergi. Ia menatap Rosela dengan penuh penilaian, kentara sekali wajah tak senangnya disana.

"Nama?" Tanya Anne.

"Rosela, Tante." Rosela berniat menyalami wanita itu, namun segera ditahan oleh Anne.

"Gak perlu. Nama panjang, dari keluarga mana?" Kembali Anne membrondong Rosela, berniat mengulik, perempuan yang dekat dengan putranya. Ia tak mungkin membiarkan putra satu-satunya itu berhubungan dengan perempuan yang tak jelas.

Rosela kembali dibuat deja vu, tatapan Mama Kanna sangat mirip dengan tatapan Luke dahulu. Tatapan penuh ketidak sukaan, dan ia merasa Anne bukanlah sosok yang akan berubah hanya karena kisah pelik yang dimilik Rosela.

"Rosela bleu, Tante. Saya bukan dari keluarga berpengaruh maanapun, hanya anak panti." Rosela menjelaskan sejelas-jelasnya. Ia tak mau mencoba memelas atau mencari simpati agar diterima. Merasa hal itu akan percuma. Melihat Anne yang kini terlihat mengerut semakin tak suka.

"Anak haram yang gak jelas asal usulnya. Sebelum terlalu jauh, Nona. Saya sebagai Mama Kanna ingin menekankan, bahwa saya sudah memiliki calon potensial untuk putraku, sebaiknya kamu pergi menjauh, jangan berharap untuk bisa masuk ke kediaman kami. Saya gak akan menerima perempuan sepertimu yang tidak jelas bibit, bobot, bebetnya, meski kamu sudah mernagkak kejenjang pendidikan tinggi. Di mata keluarga Evesa kamu tetap perempuan biasa." Anne langsung memukul telak ego Rosela. Ia memukul hingga tenggelam tanpa membiarkan Rosela berharap apapun. Ia bisa melihat Kanna menyukai Rosela, maka ia akan melarang perempuan itu dahulu, menekannya agar menjauhi putranya.

"Jadi tolong jauhi Kanna, jangan sampai Kanna tau pembicaraan kita atau kamu akan tau akibatnya. Mengerti! Kamu gak ingin merusak hubungan Ibu dan Anak yang sudah terjalin sejak lahir, bukan?" Tekan Anne.

"Mengerti, Tante." Rosela sudah menebak, namun ia tetap merasa sakit hati, bukan karena penolakan Anne mengenai hubungan dirinya dan Kanna. Tetapi karena kalimat Anne yang keterlaluan, ia tau ia hanya oranv biasa, namun Anne keterlaluan sangat. Rosela tak ingin memperpanjang apapun. Ia juga tak ingin merusak hubungan keduanya. Dirinya jadi membandingkan perlakuan Liliana dan Anne, sungguh berbanding terbalik. Dirinya juga tak akan bersikap bodoh dengan tetap menerobos masuk di rumah yang tidak menerimanya. Setelah kejadian ini, ia semakin yakin dengan keputusannya.

Rosela (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang