sembilan belas (+)

29.5K 351 11
                                        

Bab 19 (+)

Rosela menatap layar laptopnya, ia mengerjakan laporan dari kegiatan magangnya. Beberapa kali tangannya mencoret-coret kertas. Mengetik laporan yang akan ia kumpulkan pada dosen. Kepalanya mengebul, memikirkan banyak hal. Meski tubuhnya disibukkan dengan membuat laporan, otaknya tak hanya berpikir pada tugas tersebut. Sesekali pikirannya berlarian membuat Rosela pusing.

Wanita itu dengan sengaja menyibukkan diri, memberi beban lebih pada kegiatan hariannya, agar tak memikirkan masalah yang menimpanya.

Meraih botol mineral, ia teguk air tersebut agar melepas dahaganya. Matanya terasa perih, ia hanya terlelap dua jam kemarin, hingga sekarang ia masih terjaga. Jam menunjukkan sore hari, harusnya ia beristirahat, namun Rosela menolak panggilan tersebut. Ia pasti akan kembali terjaga ketika menyentuh kasur dan malah memberikan beban pikiran yang berlebih. Ia tidak boleh mengosongkan kegiatannya sedikitpun.

Ponsel disamping berdering, tertera nomor Luke yang ada disana. Dengan gemetar Rosela mengangkat panggilan tersebut, ia sudah yakin panggilan ini bukanlah pertanda baik.

"Datang ke apartementku, dalam dua jam kamu belum kesini aku akan menyebar foto dan video syur milikmu."

Panggilan tersebut terputus, lalu tak berselang lama terdapat dua pesan dari Luke. Yang pertama sebuah foto dimana layar laptop yang menunjukkan web ilegal, dengan laman posting yang membuat matanya melebar adalah ada foto dan videonya. Ancaman nyata bahwa Luke tak pernah main-main. Rosela membaca rentetan kalimat dari Luke.

Luke

Segera ke apartemen Vonstein lantai 44 unit nomor 3015.

Aku tidak bermain-main dengan ancamanku, Rosie.

Berdandanlah yang cantik, aku membenci wanita bau.

Rosela meremas ponselnya, ia tau apartemen itu, hunian mewah yang ada dipusat kota. Bahkan Luke seolah tau ia akan datang dengan serampangan. Pria itu sudah mengancam agar dirinya tidak bau. Rosela dengan cepat membersihkan dirinya. Tak butuh waktu lama Rosela memakai pakaian yang layak. Ia bahkan memesan taksi agar dirinya bisa sampai tepat waktu. Ia seolah dikejar antara hidup dan matinya jika membuat pria dominan itu marah.

***

Langkah kaki Rosela menyusuri lorong lantai tempat Luke tinggal, kakinya semakin berat saat melewati beberapa nomor apartemen. Hingga tiba di apartemen paling ujung, tangan Rosela gemetar, ia memencet bel apartemen milik Luke. Pintu itu terbuka, terlihats seorang pria yang hanya memakai celana panjang, tanpa atasan, membiarkan tubuh kekar itu terlihat oleh siapapun.

"Kamu hampir terlambat Rosie," ucap Luke. Senyum pria itu terlihat sangat licik, Rosela semakin ciut.

"Maafkan aku," balas Rosela yang tak ingin menambah masalah. Ia tak bisa apapun sekarang. Sekuat apapun ia berontak, Luke akan semakin menyiksanya. Ia ingin semua ini segera berakhir dan kembali pulang di kamar kos sempit miliknya. Tanpa disadari kosa kata Rosela berubah menjadi aku kamu saat bersama Luke. Terlihat sekali Rosela semakin tunduk dalam genggaman Luke tanpa dirinya sadari.

"Masuk," perintah Luke. Rosela berjalan dengan jantung yang tak henti berdegup. Setelah Rosela masuk, pria itu menutup pintu dan langsung menguncinya. Mencegah wanitanya kabur. Padahal tanpa Luke melakukan hal itu, Rosela sudah jelas tunduk dibawah kakinya. Luke hanya ingin mendominasi keadaan wanita itu.

Rosela berdiri dengan tegang, matanya menyorot mengikuti setiap pergerakan pria itu.

"Luke, apa kamu gak bisa melepasku saja," lirih Rosela. Mengharap pengampunan, merendahkan egonya. Ia ingin lepas dari pria itu dengan cara apapun. Meski harus memohon dibawah kaki Luke.

Luke tak membalas, pria itu memilih duduk di sofa dengan tatapan tajamnya pada wajah Rosela. Tengah menikmati rasa frustasi dan putus asa wanita itu. Ia tak bisa melepas Rosela semudah itu. Tubuh wanita itu menjadi bayang-bayang di kepalanya. Meminta dirinya untuk terus meneguh dahaga yang nikmat dari penyatuan mereka. Rosela sudah masuk kedalam kehidupannya dan sungguh sayang jika Luke melepas begitu saja.

Tangan pria itu terangkat, mengkode Rosela untuk mendekat padanya.

"Kemarilah, percuma kamu memohon padaku Rosie, aku gak akan pernah melepas dirimu."

Luke mengusap gundukan dibalik celananya. Pria itu menatap Rosela dengan tajam, menolak penolakan Rosela yang akan keluar. "Puaskan milikku kembali, merangkaklah dari sana bersimpuh didepan kejantananku, aku ingin merasakan mulut hangatmu lagi."

Rosela menatap Luke tak percaya, pria itu kenapa tak memiliki sedikitpun belas kasih padanya.

"Cepat! Aku gak suka penolakan Rosie, atau kamu hanya menganggap ancamanku bohong semata?!" Luke menaikan alisnya sebelah, menatap Rosela tak suka karena terlalu lambat dalam bergerak. Ia meraih ponselnya. Menunjukkan rekaman persetubuhan mereka. Menunjukan Rosela yang terlihat sangat terpuaskan, bahkan dalan rekaman tersebut Rosela mendesah dengan nyaring dan panas.

"Sungguh menggairahkan, kamu selalu menolak tapi desahan dan kewanitaanmu tak bisa berbohong." Luke terlihat bangga karena bisa memiliki hal yang Rosela takuti.

"C .... cukup," pinta Rosela dengan bergetar. Ia sangat malu menonton video mereka. Merutuki tubuhnya yang selalu merespon positif setiap permainan Luke.

Luke menyimpan kembali ponselnya, "Padahal sangat seru persetubuhan kita, kamu terlalu malu menonton. Mungkin kamu lebih suka praktek langsung. Cepat lakukan sesuai perintahku, Rosie."

Rosela bersimpuh, ia melempar asal tasnya. Tangannya menyentuh lantai, ia dengan sadar merangkak menuju Luke. Jarak mereka memang tak terlalu jauh, namun dengan cara merangkak, jarak mereka menjadi dua kali lipat. Rosela menggigit bibirnya, merasa semakin rendah.

Tubuhnya tiba didepan kedua kaki Luke. Pria itu terkekeh, tangannya terulur mengusap surai panjang Rosela. Tengah mengapresiasi tindakan Rosela.

"Good, Rosie."

Kenapa ada rasa bangga saat pria itu mengapresiasinya. Apa Rosela tanpa sadar mulai menikmati hubungan gila mereka. Merasa setitik rasa bangga saat mendapat reward meski hanya sebuah kalimat dari pria yang duduk dengan wajah angkuh tersebut. Rosela merasa ia semakin tertular kegilaan Luke.

"Ayo, bukalah. Kamu pasti juga merindukan kejantananku." Luke terus berucap, mendoktrin bahwa Rosela juga sama-sama menginginkan penyatuan mereka. Membuat kewarasan Rosela menjadi kacau dengan semua kalimat yang terucap dari bibir pria itu.

Tangan Luke membelai pipi Rosela, jempolnya menekan bibir merah muda wanita itu, hanya menyentuh bibir saja Luke sudah membayangkan kenikmatan yang tak berujung. Ia ingin terus membungkam bibir Rosela dengan kenikmatan. Luke menunduk, mencium bibir Rosela, memaksa wanita itu mendongak menerima pangutannya.

"Mphh.... amhh...."

Rosela membalas pangutan Luke yang menuntut, ia meremas lengan pria itu. Ciuman bibir Luke selalu terasa mendebarkan, Luke tak pernah gagal dalam memantik gairahnya. Membuat dirinya selalu pasrah dalam kuasa pria itu.

"Luke nghh.... give mphhh..... me.... breath anmphhh...." Rosela mencoba melepas tautan bibir mereka, tapi pria itu malah terus mengejar bibirnya, menahan wajah Rosela agar tidak menjauh.

Saliva mereka saling beradu, cecapan bibir menggema dalam ruang apartemen tersebut. Luke mengutuk hatinya berulang kali mengenai rasa bibir Rosela membuatnya ingin selalu mencicipi tanpa puas.

Tautan keduanya terlepas, Rosela terengah, tangannya bertumpu pada lantai. Menatap Luke dengan sayu, permainan pria itu sangat lihai dan selalu berhasil membuatnya kewalahan.

"Puasin milikku Rosie, milikku sudah merindukan rongga mulutmu," ucap Luke. Tangannya mengusap saliva mereka yang bercecer diwajah Rosela. Tampilan Rosela yang merah dan keringat yang berguguran, terlihat seksi dan jauh menggodanya.

****

Bersambung

Rosela (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang