Bab 16
Beban pikirannya semakin bertumpuk, Rosela bahkan beberapa kali membuat kesalahan. Entah pada pekerjaan atau dirinya sendiri. Luke berhasil menghancurkan mentalnya perlahan. Ia seolah dilarang untuk hidup tenang. Selepas mengetahui jika pria itu menyimpan foto dan video telanjangnya, Rosela bagaikan memeluk mimpi buruknya. Ia bahkan kesulitan tidur dengan nyenyak, membuat kantung matanya muncul setiap pagi.
Lapor polisi? Itu hanya akan memperburuk kehidupannya. Kalian tau bagaimana kerja penegak hukum di negara ini. Tidak perlu Rosela jelaskan lagi.
Jika dirinya melapor pada pihak kepolisian, ia pasti hanya akan mendapat penghakiman dan ceramah. Sudah jelas ia akan dipertanyakan, apa benar itu diambil tanpa persetujuan, atau dirinya yang mengirim foto telanjang tersebut. Lalu mereka akan menonton bersama video persetubuhan Rosela dan menjadikan bahan olok-olokan. Satu lagi pertanyaan yang gila, apa ia akan melaporkan pria yang menjadi pasangan bercintanya? Kalian jelas saling menikmati dan masih banyak lagi hal gila yang akan mereka pertanyakan.
Rosela cukup tau diri, sulit berurusan dengan keluarga kaya dan berkuasa seperti Canavarro. Beruntung jika Tuan dan Nyonya Canavaro mau membelanya. Jika mereka berada disisi putra mereka, Rosela hanya akan menjadi abu.
Menatap kakinya yang telanjang menginjak aspal yang dingin, anggap saja Rosela gila. Pukul sebelas malam ia keluar dengan isi kepala yang berantakan. Ia mencoba membuat tubuhnya lelah dan mungkin merasakan sakit fisik. Berlari dengan keadaan telanjang kaki dan dalam suasana malam yang dingin. Rosela memilih menyiksa diri agar bisa tertidur dengan lelap.
Kakinya melangkah menuju kursi trotoar. Ia mendudukan dirinya, menatap lalu lalang kendaraan yang telah jarang. Ia seolah tak takut lagi dengan kejahatan apapun. Lagipula harta berharganya sudah tak ada. Rosela melihat kakinya yang lecet akibat bersentuhan dengan aspal yang kasar. Ia memilih abai, sudah jelas kakinya terasa perih sekarang.
"Apa gue berdiri di tengah jalan biar ditabrak kendaraan sampai mampus?" Gumam Rosela. Ia tak sekali dua kali mendapatkan bisikan gila seperti ini.
Sepertinya tanpa diberitahu Rosela memang sudah terguncang banyak. Merasa dunianya satu persatu mulai runtuh.
Wanita itu memilih kembali berjalan menuju kosan miliknya. Ia melangkah perlahan dengan pandangan kosong. Jarak tak terlalu jauh hanya butuh 30 menit sampai ke hunian indahnya.
Langkah kecilnya menyusuri jalan, hingga akhirnya ia tiba di gerbang kosan miliknya. Melangkah dengan perlahan, berharap ia tak bertemu Avaluna. Ia tak mau membuat temannya itu khawatir dengan kondisinya yang setengah gila.
Saat mencapai depan kamar, terdengar pintu sebelah terbuka. Avaluna berjalanan menghampirinya dengan raut khawatir. Rosela melempar senyun pada wanita itu.
"Malam, Kak Ava. Tumben belum tidur." Rosela mencoba berbasa-basi.
"Kamu darimana? Sampai berkeringat gini." Avaluna menatap Rosela penuh perhatian.
"Jalan-jalan cari angin. Suntuk di kamar," jawab Rosela mencoba terlihat bahagia.
Avaluna memegang bahu Rosela, menatap dalam pada wanita yang sudah ia anggap seperti adik sendiri. Ada yang tak beres dengan Rosela. Namun Avaluna tak bisa memaksakan dirinya agar Rosela mau bercerita.
"Kamu kalo ada masalah cerita sama Kak Ava, jangan dipendam sendiri. Oh, ya, tadi Kak Ava beli banyak makanan, ini buat kamu." Avaluna menyerahkan satu kantong berisi makanan berat.
"Makasih, Kak." Rosela menerima dengan senang hati. Avaluna adalah salah satu orang yang menyayanginya. Ia tak ingin membuat wanita itu khawatir pada kondisinya. Meski ia yakin Avaluna menyadari keanehan dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rosela (On Going)
Historia Corta#MINNIESERIES2 BLURB Rosela, sebuah nama yang indah. Namun tidak seindah kisahnya. Rosela terjebak dengan kejahatannya sendiri. Rasa iri memang hanya akan membakar diri kita sendiri. Begitupula dengan yang Rosela alami. Selalu iri melihat hidup sah...
