tiga puluh satu

14.9K 451 31
                                        

BAB 31

Tidak pernah Rosela sangka ia akan berada di posisi ini. Duduk di kursi persidangan sebagai korban dari kekejaman dan kekerasan keluarga angkatnya. Di sudut yang lain terlihat Rudi dan Arvan tertunduk malu dengan wajah yang memar, penuh akan luka. Ia tak mau tau darimana luka itu. Tak peduli juga, pembalasan seperti apa yang Luke berikan pada keluarga angkatnya.

Rosela hanya merasa terharu saat Luke berhasil menyeret mereka semua di ruang persidangan ini, membantu hak Rosela untuk bebas dari belenggu keluarga angkatnya. Di barisan kursi belakangnya terdapat Luke yang sejak hari pertama persidangan selalu hadir, barulah setelah ketok palu penetapan hukuman Arvan dan Rudi, Luke membawa Rosela. Menunjukkan padanya bahwa kebebasan yang sejak awal ia dambakan memang nyata adanya.

Mencoba menulikan telinganya dengan tangisan ibu angkatnya yang berada disudut lain, ia mencoba mengeraskan hatinya. Kali ini Rosela harus tega pada wanita itu. Lagipula ia juga membantu membebaskan Ibunya dari kelakukan Bapak angkatnya yang tidak berguna dan patriaki.

Ketok palu hakim menggema, mengucap putusan lima tahun penjara dan denda dua ratus juta, menggema dalam ruang persidangan. Tubuh Rosela terasa lemas ia hampir terjatuh, hingga sebuah lengan menahan bobot tubuhnya. Luke berdiri disampingnya, menahan tubuh dan lengannya agar tetap mampu berdiri dengan benar.

"Kita berhasil, Luke...." Gumam Rosela merasa senang, ia lemas bukan karena bersedih, namun perasaan yang membuncah akan kebebasan yang dirinya peroleh.

"Ya, kita berhasil. Selamat atas kebebasanmu Rosie, kali ini kamu menang, ikatan itu sudah lepas, kamu sudah bisa bernafas dengan lega sekarang," balas Luke. Ia menatap Rosela dengan puas, merasa bangga dengan usahanya yang tidak seberapa ini bisa membawa secerca cahaya kebahagiaan pada Rosela.

"Pulang sekarang?" tanya Luke.

"Ayo pulang." Rosela menyetujui tawaran Luke. Pria itu masih setia membantunya melangah hingga keluar ruang persidangan. Saat keduanya akan meninggalkan ruang pengadilan, langkahnya terhenti oleh seorang wanita yang kini terduduk dihadapan keduanya.

"Rosela, Ibu memohon ampun padamu. Tolong bebaskan Bapak dan Arvan," ucap Shamira - Ibu angkat Rosela. Wanita itu berderai air mata mencoba menggapai tubuh Rosela, namun pria yang ada di sisi Rosela melindungi perempuan itu.

"Ibu mohon Rosela, Ibu akan melakukan apapun asal kamu bersedia membebaskan Arvan. Ibu juga berjanji mereka gak akan ganggu kamu lagi. Kamu bisa percaya pada Ibu asal bebaskan mereka. Ibu mohon, apa kamu tidak kasihan pada Ibu. Ibu kehilangan dua orang penting di hidup Ibu."

Rosela menggeleng, ia ikut sedih melihat keadaan Ibunya. Kedua orang itu harus bertanggung jawab akan luka yang dirinya terima bukan.

"Apa kamu gak merasa kasihan pada kami. Kami sudah merawatmu sepenuh hati. Kami juga memberimu perlindungan dan kehidupan. Tolong kasihani Ibu, Ibu gak bisa hidup tanpa mereka. Kita pernah menjadi keluargamu, bukan?"

"Keluarga harus saling memaafkan, Rosela. Mereka pasti khilaf telah berbuat salah padamu. Jadi Ibu mohon bebaskan mereka, ya."

Luke mengernyit, menatap tak suka pada wanita tua itu. Setelah berhasil mengumpulkan semua bukti, ia semakin marah dengan keluarga angkat Rosela. Penderitaan perempuan itu sangat banyak. Luke bahkan tak sanggup mengingatnya lagi. Tak sanggup membayangkan berada di posisi Rosela selama ini. Sekarang dengan tak tau diri, wanita tua itu meminta pembebasan dan pengampunan akan keuarganya, setelah membuat Rosela menderita sejauh ini.

"Anda gila! setelah anda melihat kebejatan suami dan anak anda. Anda masih dengan percaya diri memohon ampun dan memohon pembebasan pada korban?" Kepalan tangan Luke semakin kuat, ia bahkan tanpa sadar menggenggam terlalu erat tangan Rosela.

Rosela (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang