lima belas

17.7K 515 128
                                        

Bab 15

Rosela kembali berangkat ke kantor untuk magang. Sisa magangnya tinggal beberapa bulan lagi, ia harus bertahan dan menguatkan dirinya. Setelah kuliahnya selesai Rosela akan pergi jauh dan menghilang dari Amaryllis dan Roman. Ia sudah memikirkan matang-matang rencanannya itu. Ia akan menjauh setelah wisuda. Memutus segala komunikasi dan menghilang dan keluarga angkatnya juga yang membuatnya menderita selama ini.

Langkah kaki Rosela memasuki lantai divisi keuangan. Rosela langsung duduk di kubikelnya, meraih lembar tugas hariannya yang terbengkalai. Rika teman satu divisinya terlihat menyapa Rosela.

"Kamu kemarin kemana gak berangkat? Mr. Luke nyariin kamu kemarin."

"Aku pulang ke rumah orang tuaku, aku lupa mengabari Mr. Luke karena buru-buru. Apa aku harus menemuinya nanti?" Tanya Rosela.

"Harusnya iya, kamu gak berangkat tanpa keterangan dan lagipula kamu anak magang, gak bisa bertindak semaumu." Rika memberi penjelasan pada Rosela.

"Nanti biar aku menghadap Mr. Luke, makasih infonya Kak Rika." Rika mengangguk lalu melangkah menuju kubikelnya.

Rosela menyandarkan punggungnya lelah, ia tak mau menemui Luke. Malas sekali harus bertatap muka dengan pria itu.

Memang kesialan selalu menghampiri Rosela. Luke menghampiri kubikelnya, pria itu terlihat berniat sekali menunjukkan kuasanya dikantor.

"Rosela, temui saya di ruangan sekarang," ucap Luke dengan tegas.

"Baik, Mr." Rosela segera berdiri melangkah mengekori pria itu menuju riangan besar milik Luke.

Bertepatan dengan tubuh keduanya yang tertelan pintu, bunyi kunci automatis terdengar, Rosela menatap Luke dengan was-was. Jangan lagi, Rosela mohon biarkan ia tenang hari ini.

Pria itu brsandar pada meja kerjanya, tangannya terlipad didepan dada, menatap Rosela dengan tajam.

"Saya minta maaf, karena kemarin tidak berangkat tanpa keterangan, Mr." Rosela berbicara dengan penuh sopan dan kehati-hatian.

"Kemana?" Tanya Luke, meski pria itu sudah mendengar alasan dari Amaryllis tentang ketidak hadiran Rosela. Ia masih ingin mendengar alasan langsung dari wanita itu.

"Kemarin saya ada kepentingan pulang ke rumah orang tua saya, saya tidak sempat menyentuh ponsel sama sekali, maaf atas keteledoran saya," jelas Rosela.

Luke bisa melihat Rosela berbohong tentang alasan ketidak hadirannya kemarin, "Tindakanmu sangat tidak profesional, seharusnya kamu tau kamu memiliki banyak tugas dan tidak hanya condong pada satu hal. Saya heran bagaimana kamu bisa masuk jajaran berprestasi, saat melihat kinerjamu kemarin. Bolos tanpa kejelasan. Kamu kira ini perusahaan milik keluargamu. Kamu seolah menyepelekan nilai yang akan diperoleh. Saya bisa keluarin kamu dengan mudah Rosela."

Rosela hanya bisa bersabar saat mendapat semburan dari Luke.

"Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan saya kemarin Mr."

Luke melangkah menghampiri Rosela, ia melingkarkan lengannya pada pinggang Rosela, mengikis jarak mereka. Rosela mencoba berontak darinya, ia tak suka mendapat penolakan dari wanita itu.

"Lepas, Mr. Luke Ini tidak pantas. Saya harus kembali bekerja." Rosela mencoba melepaskan ikatan lengan Luke. Pria itu malah semakin menempelkan tubuh mereka.

"Tidak pantas? Bukankah kita sudah melakukan hal yang lebih tidak pantas? Jangan berlagak suci kembali Rosie." Luke mengusap pipi Rosela lalu turun pada leher, pria itu malah semakin nekat dengan menyusri jarinya pada tulang selangka Rosela yang menonjol.

"Luke! Berhenti!" Bentak Rosela.

Pria itu tersulut, ia mencengkram dagu Rosela. Luke yang marah melampiaskannya dengan ciuman untuk membungkam Rosela. Menyatukan lembah lembut tersebut, memangut atas dan bawah secara bergantian. Masih menjadi hal favirut bagi Luke, bibir Rosela selalu terasa manis.

"Mphmmm...." Rosela selalu merasa kehabisan nafas saat berciuman dengan Luke. Kenapa rasa pangutan dari bibir pria itu berbeda dari para mantannya. Luke seolah memiliki kendali dan rasa candu akan ciuman pria itu. Rosela seolah dikendalikan tidak boleh menolak pemberian Luke.

Lihat, bahkan tangan Rosela bertengger, mencengkran kemeja depan Luke. Wanita itu memilih menyerahkan diri, menikmati permainan Luke. Mau sejauh atau seberusaha apapun ia menolak, Luke selalu berhasil mendominasi dirinya.

"Hamph.... berhentihh...." wanita itu berhasil melepas tautan Luke. Nafas Rosela terengah, tatapannya menjadi sayu, hanya karena ciuman Luke ia merasakan bagian intinya lembab. Merutuki dirinya yang murahan.

"Manis, kamu boleh kembali." Luke memberi kecupan singkat, mengusap bibir Rosela yang terlihat berantakan. Ia merih tisu di mejanya. Menyeka lipstik yang berantakan karena ulahnya.

"Luke aku mohon lepaskan aku." Rosela berucap lirih. Merasa frustasi dengan segala kerumitan hidupnya.

"Gak semudah itu Rosie. Kamu milikku, aku gak akan melepasmu sebelum diriku puas." Luke menyeringai penuh kepuasan. Ia tak akan melepas mainannya semudah itu. Rosela harus dalam kendalinya.

Kenapa pria itu tak mau melepasnya, padahal ia berjanji akan menjauhi Roman dan tak mengganggu hubungan Amary lagi. Rosela menatap Luke sarat akan luka. Apa pria itu tak bisa melihat kehidupannya sudah hancur, kenapa tak ada yang berpihak kepadanya. Sekarang Luke menambah hal-hal yang menyakitinya.

Rosela merosot, ia bertumpu dengan lututnya. Kedua tangannya menangkup memohon pada pria yang menjulang tinggi.

"Luke, gue mohon maaf atas segalanya. Tindakan jahat gue, niat jahat gue dan perlakuan gue yang selalu menyusahlan Amary, Noah dan keluarga Canavoro. Gue mohon lepasin gue, hapus foto sama video gue di ponsel lo. Gue bakalan menjauh dari semua orang, gue bersumpah." Rosela menatap Luke dengan mata yang telah berembun. Jika dengan cara berontak ia tak bisa lepas dari genggaman Luke. Ia akan mencoba memohon belas kasih pria itu.

Tindakan Rosela tak pernah masuk dalam prediksinya, lebih baik wanita itu berontak dan memakinya. Maka Luka akan lebih mudah dalam menyengsarakan wanita itu. Bukannya memohon belas kasihnya seperti sekarang.

Luke menunduk, tangannya terulur mencengkram dagu Rosela membuat wanita itu mendongak menatap netra miliknya.

"Jadi pemuasku selama magang, setelah itu aku mau kamu enyah dari kehidupan Amary dan menjauh darinya. Jika kamu melanggar atau berontak, foto dan video vulgar milikmu akan kusebar. Mengerti?!"

"Lo gila!" Air mata Rosela menetes, ia tak pernah mengira Luke sepicik ini.

Luke menyetak dagu Rosela membuat wanita itu meringis.

"Kamu tau jawabannya, Rosie." Bahkan Luke kembali mencuri ciuman pada Rosela. Mengabaikan air mata Rosela yang menetes kembali. Setelah puas barulah Luke melepas Rosela.

"Kembali bekerja." Luke berbalik, melangkah meninggalkan Rosela menuju meja kerjanya.

Rosela meremas rok spannya, ia bangkit perlahan lalu pergi dari ruangan Luke tanpa pamit. Ia menyusap pipinya, lalu melangkah menuju meja kerja. Untung saja semua tengah fokus pada pekerjaan masing-masing.

Rosela duduk di kursinya, meraih cermin yang ada di meja. Terlihat tampilannya mengenaskan, wajahnya sembab. Ia meraih tisu untuk mengusap wajahnya. Memperbaiki kembali riasannya agar terlihat lebih baik.

***

Bersambung

Rosela (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang