BAB 25
Ruang perawatan Rosela kini penuh dengan Avaluna, Amaryllis, Roman, Kanna, serta Tuan dan Nyonya Canavaro. Mereka semua menunggu kesadaran Rosela setelah tindakan kuretase. Mereka menatap Rosela yang terlelap setelah konsumsi obat, tak ada yang berani berbicara. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.
Avaluna duduk disebelah Rosela. Menatap perempuan yang kini terlihat pucat, ia tak menyangka Rosela akan mengalami kejadian segila ini. Apa Tuhan tak berbelas kasih sedikitpun pada Rosela. Tak cukupkah penderitaannya selama ini, dari keluarga angkatnya dan kini juga dari pria sinting bernama Luke.
Jemari Rosela terlihat bergerak, perempuan itu mulai membuka matanya menatap sekitar dengan kosong. Ia mengingat semuanya dan rasa sakit yang amat sangat gila tadi. Bahkan ia sempat berharap jika ini akan membawanya menuju kematian. Namun Tuhan tak seberbaik hati itu. Lihat, dirinya masih bernafas dan bernyawa.
"Rosela, kamu udah sadar? Mau minum dulu?" Avaluna mengusap tangan Rosela. Wanita itu mengangguk kecil, Avaluna menaikkan ranjang Rosela sedikit, lalu membantu wanita itu untuk minum.
"Makasih, Kak Ava." Rosela tersenyum tipis. Kini matanya beralih pada sekitar, semua ada disana. Terlihat menatapnya penuh penyesalan dan rasa bersalah. Semua itu terlihat sia-sia di mata Rosela. Tubuhnya sudah hancur, apalagi yang harus ia usahakan?
"Rosela," panggil Liliana yang kini meraih tangan Rosela. Nyonya Canavaro terlihat kembali berderai air mata. Melihat kondisi Rosela sekarang.
"Tante minta maaf, Sayang. Harusnya kamu gak menderita seperti ini. Harusnya Tante bisa menjaga putra Tante agar tak berbuat sejahat itu padamu. Tante minta maaf, sungguh." Liliana sesengukan, ia mengusap tanga Rosela berulang kali. Harusnya ia lebih tanggap, ia tak seharusnya lepas kontrol dari Luke. Hingga putranya itu bisa berbuat sebejat ini. Morvan ikut berdiri disebelah Liliana mengusap bahu istrinya.
"Benar Rosela, ini salah kami. Harunya Om bisa lebih keras mendidik anak itu."
Rosela tersenyum tipis, ia membalas genggaman Liliana. Menatap wanita paruh baya itu. Ini bukan salah mereka. Rosela yang salah karena tak bisa menjaga diri.
"I-ini bukan salah Tante dan Om, Rosela yang harusnya bisa jaga tindakan dan gak membuat Luke marah. Rosela yang salah disini. Rosela harusnya tak bertindak diluar batas dengan berniat mengganggu Amaryllis." Rosela berucap dengan serak. Ia mengakui perbuatannya terdahulu. Entah kenapa, ia terus dengan sengaja menyalahkan dirinya sendiri. Padahal bukan hanya dirinya yang salah.
"Bukan, ini bukan salah kamu Sayang." Liliana semakin berderai air mata. Kenapa perempuan sebaik Rosela harus menderita.
"Gak Rose. Ini bukan salah lo, jika lo bilang sejak awal gue gak akan marah, sungguh. Gue jauh menyayangi lo daripada Roman. Lo jauh lebih penting bagi gue Rosela. Kalo lo cinta dan suka sama Roman, gue bisa lepasin dia buat lo. Lo gak perlu merasa bersalah. Sungguh. Tolong jangan kayak gini, lo gak salah. Perasaan yang lo miliki gak salah Rosela." Amaryllis menatap Rosela dengan dalam. Sungguh ia menyayangi Rosela selayaknya adiknya.
Rosela menatap Amaryllis tak percaya. Kenapa ia pernah berniat sejahat itu merebut Roman. Amaryllis wanita yang baik dan menyayanginya dengan tulus. Kenapa ia dulu membiarkan perasaan tak pantas itu. Harusnya ia bersyukur memiliki sahabat baik seperti Amaryllis.
"Sungguh Rose, gue sayang sama lo. Begitu pula dengan Roman. Lo bisa miliki dia, gue gak masalah."
Roman mengangguk, ia merangkul.bahu Amaryllis. Namun saat ia berniat meraih tangan Rosela, perempuan tersebut menghindar. Seperti memberi beteng pada dirinya.
"Rose...." lirih Roman.
"Enggak, gue salah disini Amary. Gue jahat disini. Harusnya lo marah dan benci gue. Kenapa lo masih baik. Untuk tawaran lo, gue gak bisa. Gue udah buang semua perasaan itu. Sungguh, gue gak mau lagi. Jangan hubungkan gue dengan perasaan sialan itu. Gue bahagia lo masih sama Noah. Tolong tetap sama Noah dan berbahagia." Rosela dengan tangan bergetar meraih tangan Roman dan Amaryllis, membuat keduanya bertaut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rosela (On Going)
Short Story#MINNIESERIES2 BLURB Rosela, sebuah nama yang indah. Namun tidak seindah kisahnya. Rosela terjebak dengan kejahatannya sendiri. Rasa iri memang hanya akan membakar diri kita sendiri. Begitupula dengan yang Rosela alami. Selalu iri melihat hidup sah...
