Bab 18
Weekend hari minggu yang paling ditunggu untuk mengistirahatkan diri. Begitupula dengan Rosela, hingga pukul satu siang, dia baru bangun dari tidurnya. Semalam seperti biasanya ia tak bisa tidur dan baru tidur pukul enam pagi. Gaya hidupnya semakin tak terurus. Rosela merasa lapar dan memilih memakan roti yang menjadi simpanannya. Mengganjal perutnya dengan sebuah roti rasa nanas.
Hari ini ia akan berbelanja, ia merindukan masakannya sendiri. Sebelum keluar ia harus membersihkan diri dahulu, bukan. Tampilannya terlalu kucel dan mengenaskan.
Rosela segera bangkit membersihkan dirinya. Tak butuh waktu lama tubuhnya sudah kembali segar. Setalah memakai baju panjang ia segera meraih tasnya, Rosela keluar dari kamar kosnya. Baru ia akan melangkah menutup gerbang kosnya. Ia sudah dihadang oleh seorang pemuda yang ia hafal tabiatnya ketika bertemu.
"Bagi uang!" ucap Arvan tanpa ada salam atau menanyakan kabar dirinya.
"Gak ada! Gue udah bilang jangan ganggu gue lagi!" Rosela muak, keluarga angkatnya ini selalu saja meminta uang-uang dan uang padanya.
"Bacot! Buruan bagi duit. Gak usah belagak gak tau diri. Lo udah dipungut dibesarin keluarga gue. Lo harus tau balas budi!"
Arvan yang tak terima ingin merebut tas Rosela. Wanita itu dengan cepat menyembunyikan dibalik tubuhnya. Ia mendorong Arvan agar tak merebut tasnya. Di jalan kosnya yang memang sepi memudahkan pemuda itu untuk beraksi.
"Gak mau Arvan! Gue udah muak! Udah banyak yang gue beri! Kalo mau uang, sana kerja! Cari duit sendiri!" Bentak Rosela.
Pemuda itu tak terima, Arvan mengangkat tangannya dan sekali pukulan ia berhasil menampar Rosela hingga tersungkur.
"Mampus! Gak usah belaguk jadi cewek. Lebih baik lo kasih gue uang dari tadi." Arvan menarik tas Rosela, wanita itu terus menahan hingga ia kembali mendapat pukulan keras.
"Jangan! gue mohon! Itu uang gue!" Rosela memohon, ia memegang kepalanya yang berdenging, merasakan dua kali pukulan pria itu. Mengingatkannya pada kekerasan yang sering ia dapat dari Bapak angkatnya.
Arvan berhasil merebut tas Rosela. Pemuda itu membuka isi dompet Rosela dan menguras seluruh uang yang ada disana menyisakan ponsel dan dompet yang telah kosong. Arvan melempar tas itu pada tubuh Rosela. Ia menoyor kepala Rosela.
"Bodoh, harusnya lo kasih gue duit dari tadi. Jadi gue gak perlu capek-capek keluarin tenaga buat mukul lo. Atau lo emang kangen pukulan dari keluarga angkat lo?" Ejek Arvan, pemuda itu tertawa, meninggalkan Rosela yang terduduk didekat gerbang kos miliknya.
Rosela memeluk tas dompet dan ponselnya. Ia menatap miris pada kehidupannya yang tak pernah berjalan baik.
"Ya ampun, Rosela! Kamu kenapa?" Ucap Avaluna yang terlihat baru saja pulamg bekerja. Wanita itu membantu Rosela berdiri, hingga keduanya memasuki kamar kos Rosela kembali. Rosela sejak tadi hanya diam dan menuruti arahan Avaluna.
"Kamu kenapa? Wajahmu sampai merah gini, siapa yang mukul kamu? Bilang sama Kak Ava!" Avaluna mengusap pipi Rosela yang memerah, jelas sekali bekas kekerasan tangan.
Rosela menatap Avaluna dengan mata yang telah memerah. Sungguh dirinya lelah. Ia tak bisa menahan air matanya lagi. Rosela memeluk erat tubuh Avaluna, menumpahkan seluruh beban berat yang ia tanggung.
"Kak Ava...."
Avaluna membalas pelukan Rosela, mengusap surai wanita itu. Tubuh Rosela bergetar, menumpahkan air matanya. Sebanyak apa beban yang ditanggungnya. Kenapa wanita sebaik Rosela harus menanggung banyak beban.
"Kak Ava, tadi Arvan anak dari keluarga angkat gue datang lagi. Dia minta uang, gue udah nolak tapi dia paksa rebut dan kuras semua uang di dompet gue..dia bahkan pukul gue dua kali."
"Gue udah banyak ngasih mereka uang, bahkan gue udah pergi jauh kenapa mereka masih aja nyusahin gue. Malak gue hampir tiap minggu. Kenapa dunia jahat sama gue."
"Gue gak pernah minta diadopsi sama mereka, mereka yang mau sendiri ngadopsi gue buat anak pancingan. Sekarang mereka malah nuntut hutang kehidupan gue sama mereka. Belum lagi siksaan bapak angkat gue yang gila judi itu. Apa gak cukup luka yang mereka beri." Rosela menumpahkan semua rasa sakitnya. Ia tak bisa menahannya lagi.
"Kenapa dunia jahat sama gue, gue capek, Kak...."
"Ditambah sekarang Luke, kakak dari Amaryllis jadiin gue pemuas nafsu dia, dia ngancam gue dengan foto telanjang gue. Gue ngerasa hidup gue udah hancur Kak. Gue gak berani bermimpi apapun lagi, gue cuma mau tenang aja...."
Avalune merasa tertohok dengan pengakuan Rosela.
"Kamu bisa lapor polisi biar Kak Ava temani urus, kita bisa hukum dia dan cari kebebasan buat kamu."
"Gue gak segila itu, Kak. Lawan gue keluarga Canavarro. Gue cuma seonggok sampah, gak bisa nyari keadilan. Lagipula semua urusan kuliah gue dipegang Luke. Dia berkuasa buat nekan gue. Gue gak minta bantuan apapun Kak, gue cuma mau didengar. Gue takut buat melangkah, gue cuma bisa percaya cerita sama lo, Kak." Rosela menatap Avaluna dengan berderai air mata. Ia hanya butuh sandaran. Lagipula ia tak ingin melawan jika ujungnya ia juga hancur lagi.
Wanita itu paham maksud Rosela, sulit rakyat kecil seperti mereka meminta keadilan pada bangsawan seperti Canavarro pada pihak berwajib.
"Kak Ava paham, Kakak akan selalu ada buat kamu. Kamu gak sendiri lagi Rosela." Avaluna memeluk erat tubuh Rosela berharap bisa menguatkan wanita rapuh tersebut. Ia tak bisa menghakimi apapun dalam hidup Rosela. Wanita itu memiliki kehidupan yang berat dan rumit, Avaluna bahkan tak sanggup membayangkan.
"Makasih udah jadi pendengar yang baik buat gue, Kak." Rosela terpejam, ia tak kuasa menahan bebannya lagi.
Satu jam Rosela puas menangis gadis itu kembali terlelap. Avaluna mengompres pipi Rosela agar tak bengkak. Avaluna merawat Rosela dengan baik. Sekarang ia tau Rosela benar-benar hebat dan kuat. Masih bisa berdiri menghadapi hari ini dan esok adalah pencapaian yang luar biasa.
"Kak Ava selalu doain kamu buat bahagia Rosela. Kamu layak untuk bahagia. Semoga keburukan dalam hidupmu lekas belalu." Avaluna menarik selimut Rosela, terlihat jejak air mata yang tak bisa dihapus hanya dengan usapan tangan, entah sudha berapa kali Rosela menangis sendirian memeluk lukanya. Avaluna mengusap kepala Rosela lembut, lalu membiarkan wanita itu istirahat. Ia kembali memasuki kamar kosnya.
Rosela yang malang, wanita itu hanya mampu memeluk dan menguatkan dirinya sendiri ditengah kemalangan yang terus menimpanya. Rosela hanya berharap hal kecil yaitu ketenangan hidup, sepertinya ia amat sulit mendapatkan hal tersebut.
***
Bersambung
Jangan lupa klik follow, vote dan komen cerita author.
Iseng nyoba target :
500 bintang, author up bab 19(+) besok.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rosela (On Going)
Short Story#MINNIESERIES2 BLURB Rosela, sebuah nama yang indah. Namun tidak seindah kisahnya. Rosela terjebak dengan kejahatannya sendiri. Rasa iri memang hanya akan membakar diri kita sendiri. Begitupula dengan yang Rosela alami. Selalu iri melihat hidup sah...
