tiga puluh tiga

10.3K 305 37
                                        

BAB 33

Rosela mengecek kembali barangnya, setelah kelas ia berniat untuk mampir ke supermarket membeli kebutuhan bulanannya. Rosela melangkah menuju area gerbang kampus, ia baru saja menyelesaikan kelas hari ini.

"Lo mau balik?" tanya Kanna yang entah sejak kapan sudah menyamakan langkahnya dengan Rosela.

"Gue mau mampir ke supermarket buat beli kebutuhan dapur," jelas Rosela.

"Mau gue anter, kebetulan kelas gue juga udah selesai."

"Gak ngerepotin lo?"

"Enggak, kayak sama siapa aja. Yuk, mobil gue disana." Tunjuk Kanna pada kendaraan roda empat berwarna putih tersebut.

Kanna melangkah lebih dulu, ia juga membukakan pintu untuk Rosela. Terlihat sekali pria itu mencoba menjadi pria yang gentle.

"Makasih," ucap Rosela, memberikan senyum tipis pada Kanna. Setelah memastikan Rosela duduk dengan benar barulah Kanna ikut masuk ke kursi kemudi. Pria itu mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Kanna terlihat sangat menikmati perjalanannya bersama Rosela.

Tak membutuhkan waktu lama Kanna sudah memarkirkan kendaraannya di basmen supermarket. Ia kembali membukakan pintu untuk Rosela, memperlakukan perempuan itu layaknya kekasihnya. Segera Kanna akan menjadikan Rosela miliknya.

Keduanya memasuki gedung supermarket, Kanna dengan sigap kembali sudah mengambil troli untuk membawa belanjaan mereka. Kanna bagikan mengantar istrinya yang tengah berbelanja bulanan. Sepertinya kau terlalu jauh membayangkan Tuan Kanna.

Rosela melangkah menuju area bumbu dapur, ia mulai memilih bumbu apa saja yang ia butuhkan, memasukkan satu-persatu bahan pada troli mereka. Lalu ia juga beralih pada bagian sayuran dan daging. Ia akan berbelanja untuk keperluan dua minggu kedepan. Sebenaarnya ia tak berbelanja bahan masakan sebanyak itu, ia pasti beberapa kali akan membeli  makanan di luar. Setelah semua daftar belanjaannya terpenuhi, mereka menuju kasir untuk melakukan pembayaran.

"Totalnya Rp. 800.000, Kak."

Belum sempat Rosela menyodorkan uangnya, Kanna sudah lebih dulu menyerahkan kartu atmnya.

"Pakai uang saya aja Kak," ucap Rosela menyerahkan uangnya.

Kanna menahan tangan Rosela dan dengan cepat menyerahkan kartu atmnya, "Pakai ini saja Kak, udah biar gue yang bayar. Itung-itung traktiran buat lo," balas Kanna.

"Tapi Kanna, gue punya uang sendiri. Gue jadi gak enak, tau gini gue gak nerima tawaran lo tadi," jawab Rosela yang menatap Kanna tak enak. Ia tak pernah berniat untuk mendapat traktiran dari teman-temannya seperti sekarang. Rosela masih mampu menghidupi kebutuhannya sendiri.

"Udah, gak perlu dipikirin. Gue seneng bisa bayarin lo."

"Terserah, capek kalo debat sama lo. Btw, makasih buat belanjaannya.

Pegawai kasir melakukan tugasnya setelah melihat Rosela yang tidak berniat adu debat.

***

Keduanya tiba di kediaman Rosela, setelah menata bahan belanjaan. Rosela kembali menuju ruang utama dengan dua gelas minuman dingin. Ia duduk disebelah Kanna yang tengah menonton film.

"Udah selesai?" tanya Kanna, tadi ia juga berniat membantu Rosela, namun perempuan itu menolak keras dan mengancamnya akan marah. Jadi daripada Rosela berakhir mendiamkannya, lebih baik ia menurut dan menonton televisi.

"Udah. Minum, lo pasti haus udah keliling lama supermarket sama gue," balas Rosela.

Keduanya larut dalam tontonan mereka, hingga adegan romantis mulai muncul di film tersebut, membuat Kanna berdeham pelan. Suasana menjadi lebih hangat, Rosela menatakp Kanna yang sejak tadi melihatnya.

"Kenapa?" tanya Rosela, ia mengernyit heran pada Kanna yang sejak tadi menatapnya dengan intens.

Pria itu mendekatkan wajahnya pada dirinya, Rosela terpejam tanpa sadar ia menunggu apa yang akan Kanna lakukan. Ia mulai merasakan nafas Kanna yang berhembus, menandakan jarak keduanya mulai terkikis. Jantung Rosela berdebar tak sabar, ia bahkan sampai takut Kanna akan mendengar detak jantungnya.

Sebuah bibir lembut menyentuh bilah perempuan itu, Rosela merasakan Kanna mulai menyatukan bibir mereka. Membuat genggaman tangan Rosela pada bajunya menguat.

Pria itu mulai melumat bibir Rosela ketika tidak merasakan penolakan dari Rosela, menyesap dengan lembut. Menikmati penyatuan saliva dengan perlahan.

Rosela terhanyut, ia mulai membalas lumatan bibir Kanna. Bahkan kini tangannya mulai merambat naik, meremas surai Kanna. Tubuhnya bersandar pada sofa, pria itu menekannya dengan ciuman yang mulai memanas.

"Mphh.... Kanna.... sudah mphh...." Rosela memukul bahu Kanna, merasakan pasokan oksigen yang mulai menipis.

Kanna melepas ciuman Rosela dengan tak rela, ia mengecup sekali lagi bibir bengkak perempuan dalam kungkungannya. Mengusap sisa saliva mereka yang kini belepotan. Ia menatap Rosela dengan dalam, perempuan yang manis ini sayang untuk dilewatkan.

"Manis seperti mawar yang mekar di taman."

"Gombal! Gak mempan tau," balas Rosela, namun pipinya tetap bersemu. Membuat pria didepannya terkekeh.

"Gue suka lo Rose, terus terawa. Jangan sedih lagi," ucap Kanna.

Rosela tertegun, apa pria itu sedang menyatakan perasaannya? Aneh sekali.

Kanna mengusap gurat dalam di dahi Rosela. Merasa geli saat Rosela terlihat berpikir keras akan kalimatnya yang ambigu.

"Gue beneran suka sama lo. Ini mirip confess tapi gue tau lo masih belum siap melangkah ke hubungan yang serius seperti pasangan." Kanna berucap tanpa bertanya perasaan Rosela.

"Jadi mari menjadi teman mesra, lo bisa berbagi apapun sama gue. Gue siap dan bakal selalu ada di sisi lo."

"Dengan hubungan yang gak jelas?" Tanya Rosela tak percaya.

"Jelas. Kita teman yang romantis, bukan? Berlaku seperti pasangan tapi tetap memberi ruang kebebasan untuk  masing-masing. Kalo lo udah siap melangkah ke hubungan pasangan seperti Roman dan Amary, lo bisa langsung bilang. Gue cuma nunggu lo siap tanpa beban lagi, Rose." Kanna berucap dengan penuh keyakinan. Seolah merasa tak masalah jika harus menunggu selama apapun.

Rosela menatap Kanna dengan tak percaya. Jika dibilang ia menyukai Kanna, maka jawabannya adalah iya. Namun kalau tolak ukur itu cinta maka Rosela dengan tegas akan berkata belum. Ia hanya merasa cukup nyaman dengan hadirnya Kanna. Pria itu tidak memaksakan kehendak padanya. Bertindak dengan hati-hati.

"Kanna, maaf gue belum siap. Lo tau kejadian belakangan ini, gue masih butuh waktu untuk sembuh. Gue gak mau cuma jadiin lo pelampiasan aja kedepannya." Rosela menggenggam tangan Kanna, ia menatap pria itu dengan tulus, tak mau mengambil resiko dengan menjadikan Kanna sebagai pris pengganti saja.

Tangan Kanna terulur, mengusap pipi Rosela. Tak merasa sakit hati dengan jawaban perempuan itu. Ia menyadari butuh waktu untuk sembuh dan itu tak mungkin sebentar.

"Gue tau, kita bisa melakukan dengan perlahan. Lo juga perlu kenal gue lebih jauh, apapun jawaban kedepannya nanti, biar takdir yang bekerja untuk kita."

Rosela mengangguk, ia mengecup singkat bibir Kanna sebagai apresiasi.

Nyatanya, Kanna yang mendapat kecupan singkat tak ingin melepas begitu saja. Ia meraih kembali wajah Rosela, mengejar ciuman yang lebih dalam, memastikan bahwa cintanya kali ini memang nyata dan tulus.

***

Bersambung

Jangan lupa klik follow, vote dan komen. Serta tambah cerita ini ke reading list kalian.

Rosela (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang