Luke mengantar Rosela kembali ke kediamannya, sepanjang jalan wanita itu hanya diam dan larut dalam lamunannya. Bahkan saat mobil Luke sudah memasuki pekarangan rumah Rosela, wanita itu masih belum sadar.
Pria itu mematikan mesin mobilnya, ia memegang bahu Rosela. Barulah wanita itu sadar dari lamunannya. Rosela menatap dirinya dengan senyum tipis.
"Mau mampir?" Tanya Rosela pada Luke.
"Boleh?" balas Luke bertanya, ia selalu saja mencoba memberi kenyamanan pada Rosela dengan bertanya terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan. Ia tak ingin memantik trauma apapun pada wanita itu.
Rosela menatap Luke dengan terkekeh, ia sekarang bisa melihat sisi Luke yang lain. Sejak pertemuan pertama mereka ia tak pernah melihat sorot ragu di wajah pria itu, meski tindakan pria itu melanggar norma-norma masyarakat, atau bahkan saat Luke bertindak jahat, pria itu selalu penuh akan rasa percaya diri. Baru kali ini ada sosok yang bisa membuat Luke ragu dalam setiap mengambil tindakan jika itu menyangkut dirinya.
"Kenapa engga, kamu udah bantu aku. Kita harus merayakan keberhasilan ini." Rosela membuka pintu mobil, lalu keluar meninggalkan Luke yang terlihat bahagia. Pria itu ikut keluar dan mengekori dirinya masuk kedalam rumah.
Tubuh Rosela berbalik menatap Luke, "Kamu bisa istirahat dulu, aku mau bersihin badan baru masak."
Saat akan berbalik Luke menahan lengan Rosela, "Kalau kamu capek kita bisa pesan makanan aja. Lagipula hari ini udah cukup berat dan melelahkan, kamu bisa istirahat, kita bisa beli makanan dari salah satu resto," saran Luke.
Rosela memilih mengangguk saja, "Boleh, sepertinya saran darimu lebih baik."
"Ada makanan atau minuman yang lagi kamu mau?" tanya Luke, pria itu sudah membuka ponselnya untuk mencari menu makanan yang cocok untuk mereka.
"Boleh pesankan aku Strawberry shortcake, aku selalu memesan itu untuk perayaan kecilku," balas Rosela. Ia kemudian beranjak menuju kamar untuk membersihkan diri.
Luke memesan makanan dan minuman, tak lupa memasukan pesanan Rosela dalam list menu yang akan ia beli. Pria itu duduk di sofa, matanya menatap sekitar, rumah yang ia berikan terlihat lebih hangat karena sentuhan Rosela. Terdapat hiasan kecil diatas meja-meja penyimpanan, mempermanis pemandangan, ia bahkan melihat beberapa potret Rosela sewaktu sekolah, sepertinya foto-foto itu baru Rosela ceetak dan pasang.
Pria itu menekankan dalam hatinya, tak apa bila diujung jalan Rosela menemukan pria yang lebih baik dan bukan dirinya yang berakhir bersama wanita itu. Rosela layak bahagia, lagipula ia juga tak yakin bisa kembali menggenggam Rosela. Akan sulit hidup dengan pria yang menjadi sumber traumanya. Istilah obat trauma adalah sumber sakit itu, semua terasa bohong di telinga Luke.
Berulang kali juga ia mencoba menghalau perasaan cemburu saat melihat Rosela dekat dengan Kanna. Sudahlah Luke, kamu seharusnya kembali fokus bekerja seumur hidupmu, tanpa harus memiliki mimpi jalan di altar pernikahan bersama Rosela.
Tapi jika suatu saat Rosela mendapat masalah karena perbuatan Luke di masa lalu, ia akan menjadi orang pertama yang memeluk wanita itu. Jika dunia menghina dan mendorong Rosela kepada rasa takut dan sakit. Luke akan menjadi orang pertama yang akan memeluk dan melindungi Rosela. Dunia memang tak bisa berputar sesuai harapan yang Luke mau, meski ia kini selalu berharap Rosela akan dikelilingi oleh kebahagiaan.
***
Rosela menatap tampilannya yang tampak lebih segar, ia memilih memakai kaos kebesaran berwarna merah muda dan celana pendek berwarna putih. Tangannya meraih sisir, merapikan rambutnya yang kusut, memoles sedikit lip blam dan krim wajah agar tampilannya lebih fresh. Kepalanya menggeleng ketika dirinya hampir setengah jam bersolek wajah, kenapa ia harus tampil dengan manis, ia tidak akan kemana-mana. Lagipula yang ada di rumah adalah Luke. Tanpa Rosela sadari ia ingin selalu terlihat cantik dan manis, serta wangi, ketika bersama Luke. Aneh sekali.
Keluar dari kamar, melangkah menuju area ruang utama. Disana Luke sudah menata makanan yang dipesan, lengkap dengan alat makan. Pria itu selalu terlihat tampan, apalagi dengan lengan kemeja yang digulung sampai siku, memperlihatkan lengannya yang kekar. Pria itu terlihat menyadari kehadirannya. Luke melambaikan tangan pada Rosela, memintanya untuk duduk.
"Kemarilah Rosie, aku sudah menyiapkan semuanya."
"Kamu jadi menyiapkan semua sendiri." Rosela duduk disebelah Luke, menerima piring pemberian Luke.
"Santai saja, lagipula ini kemauanku sendiri." Luke ikut duduk, keduanya mulai memilih makanan yang akan mereka makan.
"Minggu ini kamu sudah kembali ke kampus?" tanya Luke, pria itu sesekali memasukkan sendok pada mulutnya, menikmati makanan yang sudah ia beli.
"Iya, aku sudah mulai mempersiapkan skripsi. Amary juga, kan? apa dia mengeluh tentang ini? aku bisa membantunya." Rosela membalas tatapan Luke, ia mejelaskan kegiatannya tanpa diminta.
"Aku gak menanyakan tentang Amary, lagipula ia juga sudah memiliki Roman yang membantu. Aku hanya bertanya tentangmu, apa ada kesulitan tentang skripsi yang akan dirimu ambil? Kamu bisa meminta bantuan padaku, jelek-jelek begini aku pernah menjadi asisten dosen," balas Luke dengan candaan, namun serius dengan kalimat akan membantu Rosela.
"Aku gak mungkin mengganggu kesibukan Tuan kepala keuangan hanya untuk membahas skripsi yang memusingkan itu," jawab Rosela. Ia merasa geli ketika Luke bertindak manis dan perhatian seperti sekarang. Tapi sungguh, jika tidak ada adegan masa lalu yang menyakitkan kemarin bersama Luke, ia sudah pasti dengan mudah akan jatuh cinta kepada pria didepannya saat ini.
"Ayolah, aku gak sesibuk itu, Rosie. Lagipula lulus dengan mudah dan cepat bukankah menjadi bagian dari list goals kuliahmu? kapan lagi kamu bisa dapat mentor yang kompeten sepertiku."
Benar kata Luke, lulus dengan cepat adalah bagian dari mimpinya. Seberapa jauh Luke mencari tahu tentang dirinya. Pria itu terlihat berniat sekali ingin menebus kesalahannya.
"Baik jika kamu memaksa, awas saja kalau kamu lari nanti!" Rosela memicing pada Luke. Ia bahkan menyodorkan sendok bersiap untuk memukul Luke jika sampai pria itu berbohong padanya.
"Kamu bisa memegang janji seorang Canavaro," balas Luke dengan yakin.
Rosela mengangguk saja, sisa hari ini ia habiskan dengan banyak obrolan bersama pria itu. Rosela bisa melihat sisi lain Luke hari ini. Pria itu jauh dari kesan kebenciannya selama ini. Bahkan Rosela hampir tak mengenali Luke yang sekarang, jadi yang mana yang Luke sebenarnya.
"Aku pulang dahulu, jaga dirimu dan hati-hati selama disini. Meski lingkungan ini sangat aman, kamu harus selalu menjaga diri, jika ada apapun kamu bisa menghubungi diriku atau satpam komplek." Luke berpamitan pada Rosela.
"Iya-iya, cepat sana pulang, hari sudah malam, aku juga butuh istirahat dasar bawel." Rosela mengusir dan menggerutu dengan tingkah Luke. Sial, ia jadi mengerti kenapa Amaryllis sering mengeluh dengan sikap bawel Luke selama ini, ternyata Luke yang bawel lebih menyebalkan.
Luke terkekeh melihat Rosela yang kesal padanya, "Selamat malam, Rosie."
"Malam Luke," balas Rosela melambaikan tangan. Pria itu memasuki mobilnya lalu melajukan mobil tersebut meninggalkan lingkungan rumah Rosela.
Rosela berbalik, tak lupa mengunci gerbang dan pintu utama, setelah memastikan semua terkunci, ia masuk ke kamar untuk beristirahat. Merebahkan tubuhnya pada ranjang yang nyaman. Malam ini adalah malam terindah baginya, malam kebebasan yang selama ini ia dambakan.
"Terima kasih untuk kehidupan yang lebih baik, Tuhan."
****
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Rosela (On Going)
Conto#MINNIESERIES2 BLURB Rosela, sebuah nama yang indah. Namun tidak seindah kisahnya. Rosela terjebak dengan kejahatannya sendiri. Rasa iri memang hanya akan membakar diri kita sendiri. Begitupula dengan yang Rosela alami. Selalu iri melihat hidup sah...
