dua puluh enam

16.2K 519 6
                                        

BAB 26

Ruang perawatan itu kini kosong, Avaluna sedang melakukan siftnya dan akan kembali setelah selesai bekerja. Sementara Kanna, pria muda itu baru saja keluar untuk membeli kopi dan makanan. Sedangkan kedua orang tua Amaryllis kembali ke rumah, mereka akan kembali esok hari. Amaryllis dan Roman membeli pakaian dan keperluan Rosela selama di rumah sakit. Mereka semua mencoba membuat Rosela merasa nyaman dan tak lagi menyinggung rasa sakitnya. Bahkan mereka menawarkan berbagai hal pada Rosela.

Diantara banyak tawaran tersebut ada satu tawaran yang tidak boleh ditolak dari Tuan dan Nyonya Canavaro, mereka akan memberikan Rosela perawatan psikiater untuk mengobati kejiwaannya yang terguncang. Liliana dan Morvan tak ingin Rosela hidup dengan beban dan jiwa yang tersakiti seumur hidupnya. Tak lupa memberi ganti material dan menjamin kehidupan Rosela seumur hidup. Untuk jaminan ini Rosela masih memikirkannya, ia sulit percaya dan tak ingin terlibat lebiha jauh lagi. Namun, jelas Amaryllis pasti akan mengusahakan keamanan dan kenyamanan Rosela, juga tanggung jawab yang akan mereka berikan harus terlaksana.

Ruang perawatan Rosela terbuka, disana berdiri disana. Rosela menatap kearah pintu yang kini tertutup. Ia menatap Luke yang terlihat banyak memar di wajahnya.

Rosela menatap pria itu dengan tajam, ia kembali diingatkan tentang luka dan rasa sakitnya. Rasa sakit dimana ia keguguran dan dokter mengatakan ia akan sulit memiliki anak kedepannya. Pria didepannya adalah sumber masalah yang menimpa Rosela selama ini.

Setiap langkah kaki Luke mengantarkan getar pada tubuh Rosela. Entah kemarahan atau rasa sakit. Rosela sulit membedakannya. Dadanya hanya terasa panas dan sesak yang membuatnya sulit bernafas dengan benar.

"Rosela.... aku minta maaf," ucap Luke dengan suara pelan.

"PERGI!" Bentak Rosela. Rasanya sangat muak melihat Luke. Masih tersimpan dalam ingatannya rasa sakit ketika dirinya mengalami keguguran. Pria itu membunuh janin mereka. Memang hamil bukan salah satu keinginannya, apalagi dalam hubungan gila sekarang. Namun, merasakan keguguran juga sangat menyakiti dirinya dan hatinya.

"KAMU BELUM PUAS? MEMBUNUH JANIN KITA? APA KAMU MAU MENGHANCURKANKU LAGI? MEMBUATKU MENJADI PEMUAS, TUAN LUKE?" Rosela menatap Luke dengan putus asa. Matanya berembun, dalam sekali kedip saja air mata akan berjatuhan.

"Tolong, tinggalkan aku sendiri. Aku sudah hancur, semuanya sudah hilang." Lirih Rosela.

Luke kembali akan mendekat, namun Rosela segera menggila. Ia melempar segala yang ada disekitarnya pada Luke. Ia tak sudi pria itu mendekatinya.

"Rosela, aku minta maaf. Aku akan bertanggung jawab dan menebus semua kesalahanku." Luke kembali mencoba melangkah mendekati Rosela, mengabaikan benda-benda yang perempuan itu lempar padanya.

"Enggak! Kamu harus pergi! Aku gak mau lihat kamu! Pria brengsek! Tinggalkan aku sendiri!"

Rosela semakin panik saat pria itu mendekat, ia bergerak dengan asal. Berniat turun untuk mengusir Luke dari ruangannya. Mengabaikan jarum infus yang kini terlepas karena tindakkannya. Membuat darah mengalir di lengan kirinya.

Luke semakin cepat mendekat, ia berniat menangkap Rosela uang akan terjatuh. Melihat darah yang mengalir membuatnya semakin khawatir. Pria itu berhasil menangkap tubuh Rosela yang hampir luruh ke lantai. Ia bisa merasakan tubuh wanita itu dingin dan bergetar hebat. Apa yang sudah ia lakukan pada Roselanya.

"Pergi Luke! Aku membencimu! Gak cukup kamu menghancurkan masa depanku! Semua sudah hilang. Aku sudah hancur!" Teriak Rosela. Ia terus mendorong tubuh Luke yang memeluknya. Mengabaikan tubuhnya yang memang masih lemah karena tindakan dokter.

"Maaf.... Rosela, aku sungguh minta maaf. Jangan seperti ini, aku akan membantumu naik, tolong tenanglah. Kamu bisa semakin terluka." Luke mencoba menenangkan Rosela yang berontak. Ia menerima kebencian Rosela dengan lapang dada. Melihat Rosela sesakit ini Luke ikut hancur. Sudah terlewat sebanyak itu luka yang diberikannya.

"PERGI! Tinggalin aku sendiri Luke, kumohon. Sakit! ini sungguh sakit, aku gak sanggup lagi menerima kejahatanmu selama ini. Sudah cukup, luka yang kamu berikan. Aku menyerah, aku sudah mengatakan bahwa aku akan menyerah mengganggu kalian." Raungan Rosela semakin lirih, energinya terkuras habis.

"Maaf Rosela, sungguh. Aku berdosa dan meminta maaf. Aku gak akan menyakitimu lagi. Tolong jangan begini. Ini semua salahku yang buta dengan fakta. Aku menyesal."

"Pergi! aku mohon! aku benci kamu, tinggalkan diriku sendiri!" Rosela memukul tubuh Luke meski terlihat sekali jika pukulannya terasa ringan, tanpa memberi efek guncangan apapun pada pria itu.

Pintu ruang terbuka keras. Disana Kanna terlihat shock, ia segera mengambil alih Rosela dan membuat Luke menyingkir. Rosela terlihat bergetar dalam dekapan Kanna. Tangis Rosela semakin pecah, kini ia merasa aman dalam lindungan Kanna.

"Kanna, tolong aku.... aku sungguh takut...." Rosela berujar lirih, ia semakin bersembunyi dalam dekapan Kanna. Hanya pria itu yang dapat ia percaya untuk sekarang menjauhkan dirinya dari Luke.

"Tenang Rose, gue disini. Lo udah aman. Maaf gue keluar terlalu lama hingga terlambat lindungi lo. Tenang Rose, lo aman. Gue bakal usir pria sialan itu," bisik Kanna dengan lembut, mencoba menenangkan Rosela, ia mengusap bahu Rosela berulang kali, agar perempuan tersebut merasa aman dan nyaman.

"LO PAHAM BAHASA MANUSAI GAK! ROSELA BILANG PERGI! DAN SUDAH GUE PERINGATKAN BUAT GAK GANGGU ROSELA LAGI TUAN MUDA CANAVARO!" Kanna berkata dengan tegas, suaranya terdengar dingin, ia menatap Luke tajam.

Pria itu terlihat pasrah dan tak ingin membuat keributan terlalu jauh. Luke melihat Rosela yang mencari perlindungan dari Kanna, pria muda itu. Luke merasakan bahwa Kanna memiliki perasaan lebih akan Rosela, terlihat dari cara pria itu menenangkan dan melindungi Rosela.

"Tolong pergi, sebelum gue panggil satpam dan laporin hal ini ke Tuan Canavaro." Kanna semakin tak sabar, pasalnya Luke sejak tadi hanya diam. Ia ingin menyeret pria itu keluar, namun kondisi Rosela jauh lebih penting untuk saat ini.

"Baik, Rosela. Sekali lagi aku minta maaf." Setelah mengucapkan kalimat tersebut barulah Luke beranjak pergi.

Kanna masih menjaga Rosela dalam dekapannya, ia menunggu sampai perempuan tersebut benaar-benar tenang. Kanna masih tak habis pikir dengan Luke yang menemui Rosela dihari yang sama. Apa pria itu tak berpikir jika Rosela masih terguncang. Jika itu Kanna ia sudah pasti tak akan berani menampakkan wajahnya didepan Rosela. Namun, yang dihadapi mereka adalah Tuan Muda Canavaro. Jelas mental pria itu berbeda dari manusia kebanyakan.

"Sudah tenang Rose?" tanya Kanna saat merasakan tubuh Rosela tenang. Menunggu beberapa saat, ia merasa aneh saat perempuan tersebut tak membalas kalimatnya. Kanna melonggarkan pelukannya, Rosela terpejam. Kanna menepuk pelan pipi Rosela. Perempuan tersebut tak merespon.

"Rosela, bangun." Kanna yang semakin khawatir segera mengangkat tubuh Rosela lalu meletakkan kembali pada ranjang. Ia segera memencet tombol nurse emergency agar Rosela segera mendapat penanganan.

Tak berselang lama perawat serta dokter memasuki ruang perawatan Rosela, mereka segera melakukan penangan pada Rosela.

Kanna sadar Rosela lelah secara fisik dan mental. Andai ia menyadari sejak awal dan menolong Rosela lebih cepat, perempuan itu tak akan mengalami hal semenakutkan ini. Rosela tak pantas mendapatkan Luka sebanyak ini. Perempuan itu seharusnya bisa hidup nyaman selayaknya perempuan seusianya.

****

Bersambung

Jangan lupa klik follow, vote dan komen. Serta tambah cerita ini ke reading list kalian.

Happy reading.

Follow ig : minniemalies

tiktok : minniewine

wattpad : minniewine

karyakarsa : minniewine

Rosela (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang