BAB 39
Cafetaria siang ini terlihat cukup ramai, Rosela duduk dengan segelas minuman dingin di depannya. Menunggu seorang pria yang ia ajak temu janji makan siang. Tujuannya jelas ingin menemui Kanna untuk menjawab pasal perasaan pria yang pernah diungkapkan.
Meski jelas sewaktu wisuda kemarin Kanna terlihat shock dengan kedekatan Rosela dengan Luke. Ia hanya ingin memperjelas pada pria itu. Hubungan mereka tak akan naik tahap ke manapun. Rosela tak ingin egois akan Kanna. Kenyamanan tak akan bertahan lama jika lingkungan di sekitar pria itu membenci dirinya. Jelas, Rosela tak ingin hidup dalam kebencian lagi.
Kanna terlihatt menghampiri meja Rosela. Pria itu memakai kemeja licin dengan celana gelap, terlihat sekali Kanna menyempatkan menemui Rosela di tengah kesibukan kerja pria itu. Rosela sebenarnya merasa terharu dengan tindakan-tindakan kecil dari pria itu, sayang lingkungan pria itu tumbuh tak menyukai kehadiran Rosela.
"Rose, maaf gue terlambat," ucap Kanna, pria itu tersenyum tipis. Kemudian menarik kursi didepan Rosela untuk ia duduki.
"Gak masalah. Gue tau, lo pasti sibuk sama kerjaan kantor. Selamat buat lo udah jadi eksmud." Rosela membalas dengan gurauan, mencoba mencairkan suasana siang ini.
"Lo bisa aja," ucap Kanna, mencoba menahan senyum gelinya. Namun tak bisa menahan telinganya yang terlihat memerah. Punggungnya bersandar sambil menatap Rosela dengan puja.
"Mau pesan sesuatu? Lo pasti belum makan siang, kali ini gue yang traktir. Lo gak boleh nolak!" Rosela memicing pada Kanna.
"Baiklah Nona pemaksa," balas Kanna terkekeh, ia menerima buku menu yang diberikan padanya. Setelah menyebutkan pesanannya Kanna kembali fokus pada Rosela.
"Jadi apa yang mau dibicaraain? Gak biasanya lo ngajak makan siang gini," ucap Kanna kembali membuka topik obrolan. Sepertinya pembahasan kali ini bukan yang Kanna ingin dengar.
"Makan dulu aja, gue gak mau ngobrol sama pria yang kelaparan," balas Rosela masih mencoba mengulur waktu. Ia tak tega jika obrolan mereka mulai dari sekarang, Kanna akan melewatkan makan siangnya.
Kanna mengangguk saja, tak berselang lama pesanan miliknya datang. Ia menyantap dengan tenang, sesekali melihat Rosela yang bermain ponselnya, menunggu dengan sabar dirinya yang makan.
"Jadi gimana? Perut gue udah kenyang, udah siap mendengar pembicaraan kita." Kanna mengelap bibirnya dengan tisu, kini tatapannya fokus pada Rosela.
Rosela menarik nafas panjang, ia menyusun kalimat dengan hati-hati, yang dirasa tidak akan melukai hati Kanna.
"Mengenai pembicaraan kita tentang perasaan lo. Maaf, Kanna, gue gak bisa balas itu. Gue gak bisa beranjak dari sisi pertemanan kita." Rosela berucap dengan perlahan. Menatap setiap peeubahan ekspresi Kanna. Pria itu terlihat menghela nafas, tak ada riak kemarahan.
"Bukan perihal lo yang buruk, lo baik bahkan jauh dari ekspektasi gue. Lo bahkan masuk jajaran hijau neon di hidup gue. Tapi buat menggeser posisi kita ke jalinan yang lebih erat, terasa sulit bagi gue, Kanna. Gue yakin lo bakalan nemu cewek yang lebih baik.dari gue. Misal kayak Scarlet kemarin, dia kelihatan sayang sama lo."
Meski sudah siap, nyatanya Kanna tetap merasa sesak. Ia menatap Rosela sekali lagi sebelum berbicara.
"Gue udah menduga, ujung dari confess kemarin. Ini perihal orang tua gue, kan? Mereka berlaku buruk sama lo." Kanna kembali berbicara saat Rosela akan menyanggah.
"Gue tau Rose, lo gak perlu menghindar. Maaf karena ngenalin lo ke tempat yang gak nyaman. Mereka pasti ngomong buruk soal diri lo. Gue gak bisa ngasih pembelaan apapun soal lo di depan mereka. Gue pasti kelihatan kayak orang pengecut soal itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rosela (On Going)
Krótkie Opowiadania#MINNIESERIES2 BLURB Rosela, sebuah nama yang indah. Namun tidak seindah kisahnya. Rosela terjebak dengan kejahatannya sendiri. Rasa iri memang hanya akan membakar diri kita sendiri. Begitupula dengan yang Rosela alami. Selalu iri melihat hidup sah...
