dua puluh sembilan

14.2K 451 12
                                        

BAB 29

Kegiatan magang Rosela sudah hampir usai, setelah kondisi tubuhnya membaik, ia bisa kembali menjalani kegiatan magangnya. Anehnya, tak ada yang mendesak atau bertanya macam-macam alasan Rosela lama tak masuk. Mereka hanya menyapa dan mengatakan jika ikut senang atas kesembuhan Rosela.

Tugas-tugasnya selama magang juga menjadi lebih ringan dan sedikit, tak ada lagi pekerjaan yang menumpuk atau tak masuk akal layaknya pegawai tetap.

Rosela bahkan bisa beristirahat tepat waktu, pukul 12 tepat ia sudah membereskan pekerjaannya dan bisa beristirahat.

"Rosie, kamu mau makan siang bersama?" Ucap Luke yang entah sejak kapan berdiri didepan kubikelnya. Tanpa takut ada gosip atau sejenisnya dari karyawan lain.

Rosela menatap sekitar, tak ada yang terlihat peduli atau mau ikut campur tentang keberadaan Luke didepan salah satu meja anak magang. Bahkan Rosela tak mendengar bisikan mencemooh apapun.

Mengangkat ponselnya dan menunjukkan pesan teks di grup mereka.

"Aku makan dengan yang lain, Mr." Rosela tetap mencoba menjaga profesionalitasnya.

"Baiklah, semoga makan siang kalian menyenangkan." Luek menangagguk lalu pergi dari kubikel Rosela.

Memilih abai, Rosela pergi dari meja tersebut. Berjalan dengan santai menyusuri lantai yang dirinya tempati. Rosela menaiki lift menuju kantin yang ada di area lantai satu. Saat tiba didepan pintu kantin, Rosela menemukan keberadaan para sahabatnya. Amaryllis terlihat bersemangat melambaikan tangan pada Rosela.

Melangkah menghampiri meja mereka. Rosela duduk di sebelah Amaryllis, tetap didepan Kanna, sementara Amaryllis didepan Roman.

"Gue udah pesenin makanan kesukaan lo," ucap Kanna. Membuat tataapn Rosela teralih padanya. Ia terkekeh saat Rosela menatapnya tak percaya.

"Bagaimana lo bisa tau?" Tanya Rosela. Ia menatap makanan didepannya dan Kanna bergantian. Padahal ia tak pernah menyebut makanan ini didepannya salah satu favoritnya.

"Gue tau semua Rose," balas Kanna. Ia mengusap rambut Rosela dengan gemas, melihat tatapan perempuan itu. Bisa Kanna lihat ada tatapan senang dan terharu di manik cerah perempuan itu.

"Udah makan, gak usah mikirin yang gak perlu," lanjut Kanna. Sebelum Rosela kembali bertanya.

Tindakan Kanna tersebut.tak lepas dari pengamatan Amaryllis dan Roman, Amaryllis menatap Roman dengan mengkode, dibalas dengan anggukan dan senyum tipis. Keduanya seolah paham apa yang terjadi pada Kanna dan semua tindakan Kanna sekarang.

"Rose, gue nnati mau mampir ke rumah lo boleh?" Tanya Amaryllis, ia sudah tau Rosela menempati kediaman pemberian Luke, yang sekarang beralih kepemilikan atas nama Rosela. Jadi perempuan itu tak perlu takut akan mendapat pengusiran atau ganti rugi, karena kediaman yang ditempati sudah hak paten milik Rosela.

"Boleh, yang lain kalau mau ikut juga boleh. Nanti biar gue masakin, tapi kita belanja dulu." Rosela berucap dengan antusias. Ia sudah lama mendambakan kenyamanan hidup. Sekarang ia sudah bisa memeluk hal itu tanpa takut ancaman dari siapapun lagi.

"Oke, gue ikut. Nanti gue juga mau beli bahan bbq-an. Kita bakar-bakar di tempat Rosela. Udah lama kita gak kumpul-kumpul juga." Roman memberi saran. Kebetulan besok hari minggu. Mereka bisa bebas begadang sampai pagi.

"Gue juga ikut, gue udah lama gak nyobain masakan lo," timpal Kanna. Terlihat tak sabar untuk pulang dan ke rumah Rosela.

"Nanti kita pesta piyama berdua, gue punya masker wajah baru, bagus banget. Gue udah coba minggu lalu. Lo harus coba," ucap Amaryllis. Ia tak sabar menunjukkan skincare terbaru temuannya di market place.

"Yang minggu lalu lo heboh banget karena berhasil war waktu check out?" Balas Rosela.

"Benar. Ugh, gak sia-sia gue susah-susah war buat beli. Hasilnya bagus banget." Amaryllis berucap dengan bangga. Ia bisa mengalahkan ribuan pesaing, karena memang toko hanya membuka 500 stock ekslusif untuk launching perdananya.

Tanpa mereka sadari dari area yang lain, terdapat seorang pria yang menatap penuh dengan pandangan yang rumit. Siapa lagi jika bukan Luke. Pria itu menatap meja Rosela dengan pandangan sedih sekaligus bahagia. Sedih karena ia tak bisa menjadi bagiannya, namun bahagia karena bisa melihat Rosela kembali tertawa bebas.

***

Kediaman Rosela kini ramai dengan ketiga sahabatnya, mereka sudah berganti pakaian dengan baju santai. Roman dan Kanna terlihat sibuk bermain game. Sementara Amaryllis dan Rosela memasak, lebih tepatnya hanya Rosela, karena Amaryllis hanya membantu menyiapkan bahan masakan.

"Kanna kayaknya suka sama lo," ucap Amaryllis dengan tiba-tiba.

Rosela terdiam, lalu kembali melanjutkan masakannya. "Gak mungkin, dia mungkin cuma kasihan sama kondisi gue. Lagipula kalau Kanna baik, wajar. Dia emang pria paling baik selama pertemanan kita."

"Rose, gue paham keresahan lo, gue percaya sama lo. Lo layak bahagia, lepasin belenggu masa lalu. Lupain Kak Luke, dia gak layak dapatin maaf ataupun perasaan lo." Amaryllis berucap dengan serius. Sungguh ia tak masalah jika Rosela membenci Luke atau bahkan berniat jahat pada kakaknya itu.

"Gue gak masalah, lo mau maki Kak Luke. Mau berlaku semena-mena atau bahkan balas Kak Luke sama jahatnya. Lo layak balas dendam Rosie. Lo layak. Lo harus bahagia dengan cara lo sendiri. Gue bakalan dukung apapun keputusanmu itu."

Rosela menatap Amaryllis dengan rumit, bagaimana bisa gadis itu sama sekali tak membela Luke atau bahkan berusaha agar Rosela memaafkan Luke.

"Lo gak takut gue bakalan bunuh Luke atau buat di terluka."

"Gak, dia pantas merasakan sakit juga." Amaryllis berucap dengan tenang.

"Gak, gue gak akan lakuin apapun. Biar semua berjalan dengan semestinya, gue capek nyimpan dendam di hati. Gue capek sama rasa sakut dan luka." Rosela memindakan masakannya pada wadah, meletakkan didepan Amaryllis agar gadis itu membantunya memindahkan masakan pada meja makan.

"Apapun itu Rose, gue mendukung lo. Gue berharap kali ini lo benar-benar menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya." Amaryllis berucap dengqn tulus.

Keduanya menata meja makan dengan ramai, berbagai masakan dan minuman yang tersaji memenuhi meja makan. Amaryllis dan Rosela membersihkan diri sebelum kembali bergabung di meja makan.

***

"Masakan lo selalu enak," ucap Amaryllis yang merasakan masakan Rosela.

"Gue bangga sama lo, padahal tadi udah capek pulang magang, tapi masih bisa masakin kita," timpal Kanna. Pria muda itu menatap dalam pada Rosela. Masakan Rosela hampir setara dengan masakan mamanya. Masakan rumahan yang khas dengan sentuhan kehangatan, jika sudah memakannya, kalian pasti akan merindukan berulang kali.

"Pacarin, Kanna, jangan cuma lo gombalin doang sahabat gue ini." Roman mencibir Kanna, yang terus memuji Rosela. Aduh, telinganya sampai panas. Bukan karena tak suka Kanna memuji Rosela, ia hanya ikut merasa greget karena pria itu tidak gerak cepat.

"Kalau itu, gue nunggu doi siap aja." Kanna membalas dengan santai, tak tau saja kalimat itu mmebuat Rosela memusatkan perhatian pada pria itu.

"Benar, tapi awas aja lo sakitin Rose. Gue gantung tubuh lo di tengah balai kota." Ancam Amaryllis yang menodongkan garpu ke arah Kanna. Tatapannya tajam, penuh intimidasi.

"Udah-udah, lanjutin makannya. Malah pada adu kuat." Rosela menengahi mereka, ia tak ingin makan malam mereka berubah menjadi canggung.

***

Bersambung

Jangan lupa klik follow, vote dan komen. Serta tambah cerita ini ke reading list kalian.

Happy reading.

Follow ig : minniemalies

tiktok : minniewine

wattpad : minniewine

karyakarsa : minniewine

Rosela (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang