tiga puluh (+)

24.8K 332 6
                                        

BAB 30 (+)

Mereka kini beralih menonton film, sisa bbq-an tadi mereka bawa kedepan ruang keluarga. Kanna dan Rosela duduk didepan diatas kerpet bulu, sementara Amaryllis dan Roman berada diatas sofa. Mereka membawa selimut dan boneka besar yang menjadi sekat antara sofa dan area bawah. Boneka besar sengaja mereka gunakan untuk bersandar lebih nyaman.

Film yang mereka pilih adalah film horor, dengan suara tv yang besar, keadaan lampu yang dimatikan menambah suasana mencekam. Rosela larut dalam tontonan, kepalanya yang semula tegaak ditarik Kanna agar bersandar dibahunya.

Rosela menatap Kanna dalam kegelapan, ia melihat pria itu yang tersenyum hangat dan membalas tatapannya.

"Kenapa? gak nyaman?" tanya Kanna.

Rosela menggeleng, memilih fokus kembali pada film, tanpa sadar tangan Rosela melingkar pada perut Kanna. Tubuh mereka yang terbalut selimut menambah kehangatan. Ternyata film horor tak membuat Rosela takut, film itu malah membuat matanya mengantuk. Mungkin karena ia lelah setelah seharian magang lalu dilanjut memasak, matanya memberat, film baru diputa 30 menit ia sudah terlelap pada bahu Kanna. Pria itu memilih abai, menikmati film dengan tenang, sesekali tangannya mengusap kepala Rosela yang bersandar, ia bahkan menarik naik selimut memastikan Rosela tak kedinginan.

***

Sementara di sofa bagian atas, pasangan Amaryllis dan Roman sudah berbeda tujuan. Mata Amaryllis memang terarah pada layar televisi besar, tetapi tangannya mencengkram lengan Roman.

"Roman," desis Amaryllis mecoba fokus pada jalannya film.

Roman mendekatkan wajahnya pada telinga Amaryllis, "Kenapa, hmm. Mau pindah kamar? Bukannya tadi udah kita udah taruhan, kamu harus bisa tahan desahan sepanjang film, atau mereka berdua bakalan tau kalo Amary tak sepolos itu," bisik Roman, nafasnya berhembus hangat, bahkan pria itu juga sempat menjilat telinga Amaryllis, membuat perempuan itu menggigit bibirnya kuat.

Roman sangat lihai dalam menggoda dirinya, Amaryllis ingin menjerit. Dalam balutan piyamanya, jemari Roman dengan jahil melesak, bergerak membelainya, bahkan sesekali tergelincir masuk.

Amaryllis terlalu jumawa tadi, ia menyetujui permainan gila Roman setelah makan malam. Jika kalian mengira hubungan mereka baik dan layaknya pasangan romantis. Maka kalian salah besar. Hubungan keduanya begitu menggelora dan panas. Roman yang terikat pada Amaryllis begitu juga dengan Amaryllis yang sudah kecanduan. Tak ada yang tau jika hubungan mereka sudah sampai saling tahu titik nikmat masing-masing. Baik sahabat dan keluarga, yang mereka tau keduanya adalah pasangan yang romantis dan anak baik-baik. Padahal keduanya sama liarnya, namun masih dalam konteks saling mau dan menginginkan, tanpa ada paksaan seperti Luke pada Rosela.

"Hic.... Roman," bisik Amaryllis yang tersedak ludahnya sendiri. Ia melirik kearah bawah, untung saja kedua sahabatnya masih fokus menonton film, tanpa tahu jika pasangan dibelakang mereka tengan melakukan tindakan yang tak senonoh.

Roman tak peduli, ia terus membelai kewanitaan Amaryllis naik turun, sesekali jarinya masuk kedalam, mengoyak dengan cepat kewanitaan Amaryllis. Membuat wanitanya tersentak berkali-kali.

Adrenalin Amaryllis semakin terpacu, antara menahan kenikmatan dan menahan diri agar tak membuat yang lain tau. Memastikan perbuatan mereka aman. Amaryllis, mendesah lirih, tangannya mencengkram lengan Roman yang kini sudah keluar masuk pada lubang ssurganya. Untung saja suara televisi disetel dengan kuat, sehingga kecipak kewanitaan dan jari Roman yang beradu tak terdengar mengganggu fokus yang lain. Roman gila, ia merasakan jari pria itu yang besar mengobrak abrik titik sensitifnya. Pria itu bahkan memberi gerakan menggaruk pada kewanitaannya, juga menekan-nekan klitorisnya.

Rosela (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang