Bab 20 (+)
"Puasin milikku Rosie, milikku sudah merindukan rongga mulutmu," ucap Luke. Tangannya mengusap saliva mereka yang bercecer diwajah Rosela. Tampilan Rosela yang merah dan keringat yang berguguran, terlihat seksi dan jauh menggodanya.
"Kamu pasti merindukan lolipop besar milikku, puaskan dia, Rosie." Luke mengusap gundukan dibalik celananya yang semakin mengeras, tak sabar merasakan kenikmatan yang akan segera diberikan oleh Rosela.
Kewanitaan Rosela berkedut hanya karena mendengar kalimat seduktif dari Luke. Menyingkirkan rasa malu dan frustasinya. Rosela mulai meraba area terlarang milik Luke yang masih terbalut kain.
Jemari lentiknya menarik turun resleting celana Luke. Kejantanan Luke menyembul tanpa penghalang. Pria itu sengaja ternyata hanya memakai celana kain sebagai penghalang. Tangan Rosela meyentuh benda kebanggan pria itu. Terasa hangat dan jemarinya hampir kewalahan, pantas saja ia selalu merasa penuh dan sesak ketika keperkasaan Luke memenuhi kewanitaannya.
Geraman terdengar ditelinga Rosela. Tangan Rosela terus bergerak, mengusap, memberikan urutan membuat benda pusaka Luke perlahan semakin menunjukkan kegagahannya.
Luke mengusap kembali surai Rosela, merasa senang ketika kucing penurutnya mulai tunduk, ia bisa melihat pandangan Rosela mulai ikut bergairah. Setiap manusia pasti memiliki sisi liarnya, dan Luke selalu suka dengan sisi liar milik Rosela, ada rasa bangga ketika dirinya berhasil membuat Rosela tunduk dan gila akan permainannya. Ia semakin ingin mengikat Rosela dalam lingkup fantasinya.
"Suck it, Rosie. Dia merindukan mulut hangatmu, basahi dia, buat dia puas dengan kehebatan mulut atasmu," ucap Luke. Mengusap bibir Rosela, membuat wanita itu mendongak sebentar, memberi perintah agar Rosela semakin jauh memainkan kejantanannya.
"Jadilah Rosie yang manis dan penurut. Kamu akan mendapat apa yang kamu mau. Kepuasan bersama, aku akan memberikanmu itu Rosie. Bukankah kamu juga merindukannya. Merindukan melahap kejantananku dan merindukan kejantananku untuk masuk kembali dikewanitaanmu yang sempit itu." Luke ikut pening ketika Rosela tak kunjung bermain. Semakin banyak kalimat-kalimat rayuan yang bibirnya keluarkan agar kembali mendapat apa yang dia mau. Kepuasan dan bisa kembali memeluk gairah panas bersama wanita yang tengah bersimpuh dibawah kakinya.
Nafsu, memang mengalahkan segalanya. Rosela yang semakin terdoktrin dengan kalimat-kalimat Luke kembali kalah.
Kajantanan kokoh dalam gengaman jemari lentik Rosela terlihat menantang. Wajah Rosela mulai mendekat benda keperkasaan pria itu. Lidahnya terulur mulai menyentuh benda tersebut. Memberi jilatan, membasahi pusaka Luke dengan salivanya. Rasa asin dan hangat. Entah bagaimana kejantanan Luke selalu beraroma wangi, tidak seperti yang ada dibayangan Rosela. Meski awalnya ia jijik, kini ia mulai terbiasa merasakan benda milik pria itu dan tanpa sadar menikmatinya.
Lenguhan samar terdengar dari pria itu. Jemarinya terkepal disisi tubuh, menahan hasrat untuk mendorong wajah Rosela agar segera menngulumnya. Luke dengan sabar menunggu permainan Rosela meski lambat.
Rosela mencium kejantanan Luke, setiap mendengar lenguhan pria itu. Merasa senang karena berhasil membuat pria itu bergairah. Rosela mengulum kejantanan Luke, menelan benda itu dengan susah payah, kepalanya mulai bergerak maju mundur, meski mulutnya terasa tak muat, ia tetap berusaha memuaskan pria itu. Kepalanya maju mundur, jemarinya tak tinggal diam, mencari titik-tirik kepuasan milik pria itu. Bahkan dengan sengaja Rosela meremas-remas dua buah zakar milik pria itu. Memberi urutan pada kejantanan yang keluar maasuk dimulutnya.
"Ughh... good Rosie..."
"Anghhh.... terus mphhh...." Luke membantu menahan rambut Rosela yang tak beraturan. Melihat mulut kecil itu menelan kajantanannya. Memuaskan dirinya dengan sangat lihai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rosela (On Going)
Storie brevi#MINNIESERIES2 BLURB Rosela, sebuah nama yang indah. Namun tidak seindah kisahnya. Rosela terjebak dengan kejahatannya sendiri. Rasa iri memang hanya akan membakar diri kita sendiri. Begitupula dengan yang Rosela alami. Selalu iri melihat hidup sah...
