dua puluh delapan

13.9K 501 16
                                        

BAB 28

Setalah keduanya mendapat penanganan, Luke duduk disebelah Rosela. Harusnya Luke jjga beristirahat di ranjang. Namun pria itu memiljmih menerima lerawatan jalan. Padahal kepalanya harus menerima jahitan.

Luke sudah meminta visum pihak rumah sakit, untuk menguatkan tuntutannya. Ia menggenggam tangan Rosela. Perempuan itu baru bisa terlelap setelah mendapat obat dari dokter.

Luke tak menyangka Rosela akan mengalami kejadian seperti tadi. Apa ini bukan kekerasan yang pertama? Kejadian tadi mengingatkannya akan bekas luka yang dulu ia temui saat bercinta dengan Rosela. Ia semlat melihat beberpaa bekas Luka di tubuh Rosela.

"Kehidupan macam apa yang sudah kamu jalani Rosie." Luke mengecup punggung tangan Rosela. Menunggu perempuan itu bangun, agar ia bisa mendapat penjelasan. Meski ia mencoba menarik garis besar kejadian tadi, tetapi Luke ingin mendengar langsung dari yang bersangkutan. Meski Luke bisa meminta anak buahnya untuk mencari info, tapi ia memilih mereka untuk mengurus gugatan pengadilan Rosela.

"Sialnya aku juga bagian dari penyebab rasa sakitmu." Luke menatap miris pada wajah Rosela yang terpejam damai. Tangannya bergetar mengusap wajah Rosela yang terdapat luka disudut bibirnya.

***

"Enghh...." desis Rosela, matanya mulai tergerak dan perlahan terbuka. Ia bisa melihat Luke yang menggenggam tangan kanannya. Pria itu menatapnya dengan wajah yang menyedihkan.

"Ada yang sakit? Apa perutmu masih sakit? Mau aku panggilkan dokter?" Luke berkata dengan nada khawatir. Melihat Rosela yang masih diam menatap balik dirinya. Luke bahkan sudah siap jika kembali mendapat pengusiran dari perempuan itu.

Tangan Rosela terangkat, mengusap pipi pria yang telah menolongnya. Tak bisa menampik, Rosela merasa bersyukur Luke datang menolongnya. Melihat orang-orang disekitar yang berlalu lalang tak ada yang berniat ikut campur maupun menolongnya.

"Terima kasih," ucap Rosela dengan serak.

Luke manahan tangan Rosela tetap di pipinya. Ia menatap Rosela dengan sesal.

"Maaf aku terlambat Rosie," balas Luke. Nada suaranya penuh akan sesal.

Rosela menggeleng, kali ini bukan salah Luke.

"Kali ini bukan salahmu, mereka memang selalu mengusik hidupku, hal itu juga bukan kali pertama aku alami. Membuatku sesak akan beban yang mereka berikan," jawab Rosela.

"Bisa kamu ceritakan hubunganmu dengan mereka? Jika kamu gak keberatan." Luke terlihat berkobar, amarah pria itu mendengar ucapan Rosela yang ternyata memang bukan pertama kali mendapat kekerasan.

"Ini akan jadi cerita yang panjang dan membosankan, aku gak yakin kamu mau mendengar kisah suramku." Rosela terkekeh, padahal tak ada satupun kalimat perempuan itu yang lucu. Tapi enath kenapa ia ingin berbagi kisah masa lalu yang menyedihkannya pada Luke.

Tatapan pria itu tak setuju, dengan penuh keyakinan Luke berkata, "Aku akan menjadi telinga yang baik untuk mendengarkan kisahmu, Rosie."

"Sebelum itu bisa beri aku minum dahulu, tenggorokanku terasa kering."

Luke dengan sigap mengambil air untuk Rosela, ia juga mebantu Rosela untuk duduk bersandar dengan nyaman.

"Terima kasih," ucap Rosela.

"Dahulu aku hanyalah bayi buangan di panti asuhan. Orang tua kandungku gak menginginkan kehadiranku. Itu yang sering kami anak panti dengar. Aku juga meyakini demikian. Seperti kamu, ketika kita kehilangan janin itu, aku merasa nasibnya hampir sama denganku, kehadiran yang gak diinginkan. Entah aku harus bersyukur atau sedih ketika janin itu sudah pergi sebelum menghirup buruknya dunia yang akan dijalaninya." Rosela menatap Luke yang terlihat tak setuju, ketika ia mengatakan dirinya hanyalah anak buangan.

Rosela (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang