"Luke!?" Pekik Rosela saat lengannya ditarik Luke memasuki ruang kosong. Terlihat ini adalah ruang penyimpanan yang jarang dikunjungi oleh pegawai.
"Aku menginginkanmu, Rosie." Luke mengangkat tubuh Rosela lalu mendudukkannya pada meja, membiarkan kaki wanita itu menggantung. Luke melebarkan kaki Rosela. Lalu menarik lepas celana dalam wanita itu. Rontaan Rosela tertahan oleh sebelah lengannya. Menyatukan lengan wanita itu dibelakang tubuhnya, membuat dada Rosela membusung.
"Lepas! Mmmph...." ucapan Rosela tertelan kembali, Luke membungkam bibirnya dengan bibir pria itu. Menyesap lembah lembut Rosela, membuat wanita itu tak berdaya.
Sementara tangan kanan Luke melesak menuju pangkal kaki Rosela. Melesakkan jemarinya menggoda kewanitaan Rosela yang hangat.
"Nghhh.... Luke janganghhh...." Rosela mencoba menutup kakinya namun gagal, tenaga Luke lebih besar darinya ditambah tubuh pria itu yang berada diantara pahanya membuat akses mudah bagi Luke bermain.
"Nghhhh akhh...."
Luke berhasil melesakkan jarinya pada kewanitaan Rosela, membuat wanita itu mendesah. Ia melepas ikatan tangannya dari Rosela ketika wanita itu sudah tak akan berontak. Luke meremas payudara Rosela dari balik blouse, sesekali menyesap bibir, dengan tangan kanan yang masih setia keluar masuk inti Rosela.
"Unghh.... akh....."
"Ahhh.... ahh....." Rosela merasa tak sanggup, setiap permainan Luke membuat intinya terasa gatal dan nikmat. Jemari pria itu yang terus mengocok, membuat tubuhnya terasa memanas. Tak lagi ada kata menolak. Ia ingin lebih, ingin Luke terus mengocok intinya. Bahkan ia tanpa sadar melebarkan pahanya, bokongnya ikut bergoyang mencari sumber dahaga.
"Enak hmm, tadi nolak tapi sekarang lihat. Kewanitaanmu memintaku berbuat lebih banyak." Luke semakin mengocok inti Rosela dengan kasar. Membuat Rosela tersentak beberapa kali.
"Luke nghh..... gak kuat nghhh...."
"Udah ahh.... please....."
Kini tangan Rosela mengalung pada bahu Luke, menahan tubuhnya agar tak jatuh telentang. Tubuhnya gemetar, merasakan jemari besar itu keluar masuk tanpa permisi, bahkan terkesan kasar. Membuat kewanitaannya basah dengan mudah. Rosela merutuki dirinya yang mudah sekali basah hanya karena jemari Luke.
"Keluar Rosie.... beri aku semua cairan cintamu...." Luke merasakan jemarinya dicengkram oleh kewanitaan Rosela. Jelas sekali wanita itu akan segera sampai puncaknya. Ia semakin intens mengocok milik Rosela, bahkan ia memberi gerakan seperti menggaruk, mengais dinding kewanitaan Rosela. Puncaknya ia menekan klitoris Rosela menggunakan jempolnya membuat tubuh wanita itu tersentak berkali-kali.
"Hangh..... Luke mau cum..... ahh...." Tak tahan dengan rangsangan Luke, tubuh Rosela bergetar hebat, ia tak sanggup menahan pelepasannya. Cairannya mengalir deras membasahi tangan Luke. Nafas Rosela tersengal, ia mudah sekali pelepasan karena permainan Luke yang gila.
Luke memamerkan jemarinya yang basah karena cairan Rosela. Wanita itu terlihat memerah malu.
"Nikmat bukan?" Luke meraih sapu tangan di sakunya lalu mengelap hingga bersih. Ia merosot, menahan paha Rosela agar terus terbuka. Wajahnya kini tepat berada didepan kewanitaan Rosela yang merekah dan memerah. Bahkan masih terlihat berkedut seperti tengah menguras cairannya agar keluar sepenuhnya.
"Luke apa yang lo lakuian?" Rosela mencoba menjauh, pria itu berhasil manahan pahanya. Rosela sudah malu dan lemas karena pelepasan, apalagi yang akan pria itu lakukan padanya. Wajah Luke tepat berada didepan kewanitaannya.
"Aku akan membersihkan bagian ini juga."
Rosela merasakan benda basah dan hangat memyapu lembahnya. Ia bisa menebak jika itu adalah lidah Luke. Ditambah suara srutupan dan kecupan dari bibir pria itu. Rasanya lebih gila dari permainan jari tadi. Rosela merasakan Luke membelainya naik turun, membuat kewanitaannya semakin basah. Lidah Luke terasa menggelitik kewanitaannya. Proa itu tenggelam dalam selangkangan Rosela. Membuat kegilaan mereka semakin menjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rosela (On Going)
Storie brevi#MINNIESERIES2 BLURB Rosela, sebuah nama yang indah. Namun tidak seindah kisahnya. Rosela terjebak dengan kejahatannya sendiri. Rasa iri memang hanya akan membakar diri kita sendiri. Begitupula dengan yang Rosela alami. Selalu iri melihat hidup sah...
