Jaemin membuka matanya perlahan. Mata yang masih berat mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya redup yang masuk melalui dinding kaca apartemen. City nightlight dari luar menyusup masuk, menciptakan pola-pola halus di langit-langit dan lantai. Suasana hening, kecuali suara ketikan jari di keyboard yang terdengar jelas. Pandangannya mengedar, dan ia baru menyadari bahwa semua seniornya tertidur di sekelilingnya. Namun, hanya satu orang yang tetap terjaga.
Di sudut ruangan, Jeno duduk bersandar di karpet sofa dengan laptop di meja, fokus dengan layar di depannya. Wajahnya terlihat tenang, meskipun ada tanda kelelahan samar di bawah matanya. Jaemin mencoba bergerak, tubuhnya terasa hangat, terutama di punggung dan dadanya. Ketika ia menoleh, ia menyadari bahwa Hyunjin masih melingkarkan tangannya di punggungnya, sementara Vernon tertidur dengan posisi punggung menghadapnya. Di sisi lain, Baekhyun dan Taehyung terkulai dalam posisi tidur yang tidak kalah acaknya.
Jaemin menggeser tubuhnya perlahan, berhati-hati agar tidak membangunkan mereka. Ketika ia mendongak, pandangannya bertemu dengan Jeno yang sedang mengetik. Jeno menoleh begitu menyadari Jaemin sudah terbangun. Ia sedikit terkejut, namun senyumnya tetap tenang.
"...Jeno?" Jaemin memanggil dengan suara pelan, mencoba tidak mengganggu teman-temannya yang masih tertidur.
Jeno mengangkat pandangan dari laptopnya. Ia tersenyum tipis dan mengangkat bahu. "Kau tidur cukup lama, ya? Apa kau begitu nyaman tidur diantara mereka?" ucapnya, nadanya datar namun ada sedikit sarkas tersirat.
Jaemin mengerutkan dahi. Ada sesuatu dalam nada Jeno yang membuatnya merasa ada makna tersembunyi, tetapi ia terlalu lelah untuk memikirkannya lebih jauh. Ia kembali mengamati ruangan.
"Kenapa kalian tidak membangunkanku?" tanyanya, sedikit malu tapi juga penasaran.
Jeno terkekeh pelan, suaranya nyaris tidak terdengar di tengah keheningan. "Kau kelihatan butuh tidur, dan kami tidak ingin memaksamu bangun. Lagipula, tampaknya mereka juga tidak keberatan menemanimu tidur," jawabnya sambil menunjuk teman-teman Jaemin yang tertidur lelap. Ada senyum tipis di bibirnya, tetapi matanya tetap waspada.
Jaemin merasa lega, meskipun situasinya tetap terasa sedikit janggal baginya. Ia menarik napas dalam, mencoba memahami tubuhnya sendiri. "Aku tidak tahu kenapa bisa tidur sepanjang itu," gumamnya pelan. Ia melirik ke luar jendela, menyadari betapa gelapnya apartemen itu kecuali cahaya dari kota.
Jeno kembali menatap laptopnya. "Mungkin kau hanya terlalu lelah," jawabnya ringan. Ia bersandar di kursinya, memandang ke arah teman-temannya yang tertidur dengan pandangan yang sulit diterka. "Kami sudah selesai makan dan membereskan semuanya. Kalau kau masih ngantuk, tidur saja lagi."
Jaemin menggeleng pelan, mencoba merapikan rambutnya yang berantakan. "Anehnya, aku merasa segar sekarang," ucapnya dengan nada sedikit heran. Ia menatap Jeno, tiba-tiba teringat sesuatu. "Jam berapa sekarang?"
Jeno melirik arlojinya. "Sudah lewat tengah malam. Hampir pukul dua."
Jaemin mengangkat alis, sedikit terkejut. Ia kembali melihat ke sekeliling, kini menyadari betapa heningnya suasana. "Kenapa kau masih bangun?" tanyanya, menatap Jeno dengan penasaran.
Jeno tersenyum samar, matanya memancarkan ketenangan yang tidak biasa. "Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan." jawabnya singkat, tidak memberikan banyak detail.
Jaemin mengangguk pelan. Ia tahu bahwa itu adalah bagian dari urusan Jeno, jadi ia tidak ingin bertanya lebih lanjut. Dengan perlahan, ia berdiri dan berjalan menuju sofa di belakang Jeno. Duduk di sana, Jaemin memandang punggung Jeno yang masih fokus pada pekerjaannya.
"Sepertinya aku tidak akan bisa tidur lagi setelah tidur seharian. Apa yang harus kulakukan?" ucap Jaemin sambil memeluk lututnya, matanya yang terlalu berenergi untuk jam segini menatap Jeno.
Jeno menoleh ke belakang, memutar tubuhnya sambil bersandar pada sofa. Tatapannya lurus ke arah Jaemin. Setelah memperhatikan sejenak, ia tersenyum kecil. "Kau mau minum susu? Mungkin itu bisa membantu agar kau mengantuk lagi," tawarnya dengan nada ringan. "Kau masih harus ikut orientasi besok. Kalau tidak kembali tidur, kau akan kelelahan."
Jaemin memanyunkan bibirnya, merasa cemberut karena saran itu terdengar seperti omelan halus. Namun ekspresi wajahnya yang imut justru membuat Jeno tersenyum lebih lebar. "Baiklah," gumam Jaemin akhirnya, meski ia tahu sulit untuk memaksakan dirinya kembali ke tempat tidur.
Ia berdiri perlahan dan berjalan menuju kulkas, berniat mengambil susu untuk dirinya sendiri. Namun, gerakannya langsung dihentikan oleh Jeno yang sudah lebih dulu bangkit. "Kau ingin meminumnya langsung sedingin ini?" tegur Jeno sambil meraih susu dari tangan Jaemin. "Lambungmu baru saja bermasalah semalam dan sekarang kau mau coba-coba lagi?"
Nada Jeno terdengar pelan, tetapi tetap tegas, seperti seorang kakak yang mengomeli adiknya. Tidak ingin membangunkan yang lain, Jeno menarik tangan Jaemin dan menuntunnya duduk di counter dapur. "Kau duduk saja, biar aku hangatkan terlebih dahulu," lanjutnya sambil melirik Jaemin yang hanya bisa menurut dengan ekspresi cemberut kecil. Jeno tertawa pelan melihat wajahnya. "Percayalah, ini demi kebaikanmu."
Jaemin tidak banyak membantah. Ia duduk diam di tempat yang ditunjukkan Jeno, memperhatikan pria itu memanaskan susu di atas kompor. Tidak butuh waktu lama, Jeno kembali dengan segelas susu hangat yang ia sodorkan kepada Jaemin. "Minumlah perlahan," katanya.
Jaemin menerima gelas itu dan mulai meminumnya. Jeno bersandar pada counter, memperhatikan dengan seksama Jaemin yang meneguk susu itu pelan-pelan. Sebuah senyum kecil terukir di wajah tampannya tanpa ia sadari. Ada sesuatu yang imut dalam cara Jaemin meminum susu hangat itu, membuatnya tanpa sadar terpesona.
Namun, saat Jaemin menatapnya, Jeno buru-buru memalingkan wajahnya, kembali ke arah laptopnya dengan gerakan yang sedikit canggung. "Aku harus menyelesaikan ini," gumamnya, berusaha mengalihkan perhatian.
Jaemin, dengan gelas susu masih di tangannya, mengikuti Jeno ke meja laptop. Kali ini, ia memilih duduk di karpet, sejajar dengan Jeno. "Apa aku boleh melihat apa yang sedang kau kerjakan?" tanyanya dengan nada ingin tahu.
Jeno hanya mengangguk singkat, tidak berkata apa-apa. Jaemin mendekat, matanya melirik layar laptop yang dipenuhi dengan angka-angka dan diagram yang rumit. Sesekali, ia bertanya tentang hal-hal kecil, membuat Jeno menjawab dengan nada datar namun tetap sabar.
Tak butuh waktu lama bagi Jaemin untuk merasa kantuk menyerang. Isi layar laptop Jeno terlalu berat bagi otaknya yang masih setengah lelah. Kepalanya mulai oleng, dan tanpa sadar, ia menyandarkan kepalanya di bahu Jeno.
"Boleh aku meminjam bahumu sebentar?" tanya Jaemin pelan dengan suara setengah mengantuk. Jeno terdiam sejenak, menatap Jaemin yang mulai terlelap.
Ia tidak menjawab, tetapi perlahan, ia menggeser posisi Jaemin, membaringkan kepala pria itu di pahanya. Jaemin tersenyum tipis, menerima "bantal paha" itu dengan senang hati. Ia menggeliat sebentar mencari posisi nyaman sebelum akhirnya diam. Melihat Jaemin yang kini tertidur pulas, Jeno menarik selimut yang tadi ada di pahanya, menyelimuti tubuh Jaemin agar tetap hangat.
To Be Ccontinued..
Jangan Lupa LIke and Comment nya ya^^
KAMU SEDANG MEMBACA
F For Five || MobxJaemin
Fanfiction🔞🔞 "Lima? Kalian serius? Bagaimana mungkin kalian semua bisa menyukaiku bersamaan? Aku bahkan tidak memberikan alasan untuk kalian menyukaiku? Dan lagi bagaimana bisa kalian membiarkan orang yang kalian sukai bersama orang lain?" Jaemin tidak perc...
